
"Assalamualaikum," salam Irga tepat pukul 4 sore datang menghampiri rumah Dayana.
"Walaikumsalam," jawabnya dan membuka pintu.
"Mbak udah siap?" tanya Irga menatap penampilan Dayana dari bawah ke atas.
"Udah, kok."
"Kalau jadi istrinya Irga? Udah siap juga?" tanya Irga dengan cengengesan.
Dayana menampilkan wajah datarnya, "Jan mulai lu!" ketus Dayana memukul lengan Irga.
"Hahaha, Tante mana? Biar Irga izin pamit bawa anak gadisnya ini," kata Irga sambil clingak-clinguk melihat dalam rumah Dayana.
"Lagi pergi, udah bilang kok gue tadi. Kita pergi aja," jelas Dayana dan menutup pintu rumahnya kembali.
"Oh, yaudah. Yuk, jalan!" seru Irga menadahkan tangannya ke hadapan Dayana. Dayana yang sudah selesai mengunci pintu menaikkan sebelah alisnya.
"Buat apa?" tanya Dayana yang bingung.
"Ayo, Irga gandeng Mbak."
"Jan modus lu Ga, gue gibeng lu ntar!" amuk Dayana dengan tangan terkepal.
"Hahaha, santuy kali Mbak. Gosah ngegas!"
"Serah!" Dayana langsung pergi berjalan lebih dulu dan meninggalkan Irga yang masih terpaku di depan pintu miliknya.
"Mbak, tunggu! Dasar cewek, pengennya pasti dikejar. Gak salah, sih emang seharusnya begitu," terang Irga dan berlari mengejar Dayana.
"Mbak," kata Irga yang sudah menyamai langkah Dayana.
"Hmm," jawab Dayana singkat. Mereka masih fokus ke halte, entah angkot atau bus nantinya yang akan membawa mereka.
"Mbak tau hal apa yang paling membahagiakan di dunia ini?" tanya Irga tersenyum.
"Melihat orang tua bahagia dengan kerja keras kita sendiri."
"Iya, benar sekali. Selain itu?"
Dayana menautkan alisnya, "Apa?"
"Dicintai balik oleh seseorang yang kita cintai," jawabnya dan menatap sekilas wajah Dayana yang masih memperhatikan dirinya.
"Bisa gak sih Cil? Jangan bahas soal perasaan sehari aja, lu lama-lama nanti gak fokus sama sekolah dan belajar," peringat Dayana yang tak mau nilai Irga menjadi jelek hanya karena pikirannya tentang percintaan saja.
"Hehe, iya Mbak."
"Lu PKL ke mana?"
"Bandung Mbak."
"Kenapa jauh?"
"Gak papa, pengen aja jauh-jauh biar bisa cari cewek yang lain dan Mbak bisa fokus sama Om Aldo."
__ADS_1
"Dih, lu apaan, sih!" ketus Dayana dan memukul bahu Irga.
Mereka berhenti di halte, ternyata tak lama setelah duduk angkot pun datang, "Yah, naik angkot," gumam Dayana yang sebenarnya tak terlalu suka naik angkot.
Irga yang mendengar keluhan itu langsung menatap ke arah Dayana, "Mau naik taksi aja, Mbak?"
"Gak usah deh, lama nanti. Ntar, kita pulang kemalaman pulak," tolak Dayana. Angkot berhenti di depan mereka dan mereka berdua mulai naik ke dalam.
"Waduh, stella jeruk di mana-mana. Ini mau buat wangi ruangan atau trauma penumpang?" tanya Dayana yang melihat stella jeruk bergantungan.
"Mang, mau jualan, ya?" tanya Irga dengan tertawa.
"Enggak Nak, biar wangi aja."
"Kalo sebanyak ini, jangankan ruangan. Penumpang yang turun aja bisa-bisa wangi," ucap Irga dengan tawa yang tak tinggal.
Sekitar 5 atau bahkan 7 stella terpasang, Irga yang duduk di depan Dayana menatap wanita yang mulai gelisah itu.
Dirinya yang tertawa seketika terdiam, angkot sudah jalan dari tadi. Irga segera pindah ke samping Dayana karena bangkunya kosong.
"Mbak kenapa?" tanya Irga dengan wajah panik.
"Ga, ambilin minyak kayu putih di tas gue dong," pinta Dayana yang sudah menahan kepalanya.
"Iya, Mbak." Irga dengan cepat mengambil minyak kayu putih dan membukanya, sebelum memberikan pada Dayana ia mengoleskan ke pelipis wanita itu terlebih dahulu.
"Nih, Mbak," kata Irga menyerahkan minyak kayu putih, "kita turun aja, ya."
Dayana menggelengkan kepalannya dengan minyak kayu putih yang di dekatkan ke hidungnya.
"Pak, berhenti di sini, ya!" teriak Irga agar sopir angkot dapat dengar.
"Oke!"
Akhirnya sopir angkot menepikan angkot dan Dayana langsung lari ke luar, Irga mengambil uang di saku dan memberikan ongkos ke sopir.
"Huwek ... huwek." Keluar semua isi perut Dayana. Mata pun berembun karena merasa sakit akibat makanan yang terpaksa keluar.
Irga yang melihat hal itu langsung berlari mencari air minum yang kebetulan tak jauh dari lokasi, dia berjongkok dan memberikan botol minum yang terbuka.
Dayana tersenyum dan mengambil air itu, "Makasih," katanya dan meminum air.
"Bwahahaha, mangkanya Mbak kalo gak bisa naek angkot tuh gosah dipaksakan," sindir Irga tertawa hingga duduk di aspal trotoar.
"Lagian lu, sih! Ngajak naik angkot, naik motor gitu kek!" kesal Dayana.
"Haha, giliran gue ajak ntar lu udah kek polisi. Nanyain; STNK, SIM, Helm, KTP dan gak boleh pake sendal jepit."
"Ya 'kan buat keselamatan kita."
"Iya, sih. Kalo seribet itu, gue juga ogah Mbak!"
Irga meminta botol air minum Dayana, ia menyiram bekas muntahnya, "Mbak ada tisue?" tanya Irga.
"Ada, nih!" kata Dayana setelah mengambil tisue di dalam tasnya.
__ADS_1
Irga mengambil tisue Dayana dan mengelap mulut wanita itu yang bekas muntahan, Dayana menatap lekat mata Irga yang telaten membersihkannya.
"Dih, ku gak jijik-an?" tanya Dayana ketika Irga sudah selesai menyiram bekas muntahan Dayana di tanah.
"Buat apa jijik?" tanyanya dengan tersenyum, "maafin gue, ya, Mbak. Gara-gara gue lu jadi harus muntah dan efeknya lemes gini."
"Dih, paan dah? Biasa aja kali, gak papa kok."
"Yaudah kalau gitu, ayo kita makan!" seru Irga berdiri dengan membawa botol air minum yang kosong dan tisue untuk dimasukkan ke tong sampah.
"Kok malah makan?" tanya Dayana yang ikut bangkit juga.
"Ya itu makanan lu Mbak udah habis, lu buang semuanya. Jadi, harus di isi lagi. Yuk!" ajak Irga dengan menarik tas selempang milik Dayana.
Beruntungnya, tak jauh dari tempat mereka turun tadi maka sampai ke salah satu mall. Jadi, mereka hanya perlu jalan saja.
Ketika masuk ke dalam mall, Irga tetap menarik tas Dayana, "Dih, Ga! Gue kek bocil lu buat kayak gini!" gerutu Dayana yang merasa malu karena pengunjul mall lumayan ramai.
"Gak papa Mbak," kata Irga yang tengah fokus mencari tempat makan, "mau makan di mana?"
"Mmm ... terserah."
"Ck, mie ayam mau?"
"Nasi-nasi gitu Ga."
"Nasi goreng?"
"Enggak."
"Nasi putih?"
"Iya."
"Ayam geprek?"
"Tidak yang kering."
"Nasi padang?"
"Lagi males berkuah."
"Jadi, makan apa dong?" tanya Irga yang sudah frustasi sampai memilih berhenti dan menatap Irga.
"Terserah," jawab Dayana dengan cengengesan.
"Oke, terserah!" ketus Irga melepaskan tas Dayana dan mereka mulai berjalan memilih makanannya masing-masing.
"Lah?" tanya Irga saat melihat Dayana malah membelok ke sebelah kanan. Dirinya menghampiri Dayana yang berdiri di depan restoran itu.
"Katanya terserah dan gak mau kering."
"Hehe, tiba-tiba pengen," jawab Dayana dengan cengengesannya itu.
"Terserah deh Mbak!" ketus Irga berjalan lebih dulu ke dalam restoran pilihan Dayana sambil menggaruk kepalannya yang tak gatal.
__ADS_1
"Dih, sensi amat tuh orang. Lagi pms kali, yak?" tanya Dayana yang bingung dengan sikap Irga.