
Kududuki bangku dan membuka buku, mencari apa yang ingin kuberikan ujian padanya.
"Untuk apa?" tanyaku menatap Arhan yang sudah berdiri di depanku.
"Buat ibuk." Dia memberikan dua buah roti dengan ditangannya juga ada roti yang dimakan dan masih terbungkus rapi.
"Duduk kalau makan itu Arhan."
"Hmm." Dia langsung duduk di hadapanku dengan kakinya diangkat satu ke kursi.
"Ehem!" dehemku dan di tatap olehnya, "kakinya, ini bukan warung kopi."
"Ck, ribet banget, sih!" ketusnya menurunkan kembali kakinya.
"Ya, iya dong. Di dunia ini ribet akan peraturan, kalau mau no peraturan hidup di hutan dong."
Kubuka roti dari Arhan, kutatap roti bekas gigitanku, "Kenapa?" tanya Arhan yang ternyata melihat aku.
"Enggak, enak rotinya."
"Ohh ...."
"Kamu udah selesai mengganjal perut?"
"Udah."
"Nih, kerjain." Aku menyerahkan buku tulis milikku, bukan tak ingin menyuruh dia untuk mengambil buku. Hanya saja, aku takut dia tak akan kembali lagi nantinya ke sini.
"Kok banyak banget, Buk?" keluhnya menatap ke arahku.
"Itu masih sedikit Arhan, teman-temanmu lebih dari ini sudah mereka kerjakan."
Dia mengambil pena dan mulai menatap tugasnya, aku melihat cara dia mengerjakan tugas dengan fokus.
Sesekali suaraku keluar membantu dirinya, tak mungkin langsung kubiarkan dia mengerjakan begitu saja.
"Buk Yana!" panggil seseorang di ambang pintu dan membuat aku juga Arhan menoleh ke arah itu.
"Ada apa Ga? Sini masuk aja," perintahku dan dia langsung mendekat.
"Ke kantin, yuk!" ajaknya tersenyum menatapku seolah tak melihat ada Arhan di depanku kini yang tengah fokus-fokusnya belajar.
"Apakah kau buta?" tanya Arhan dan langsung dilihat oleh Irga.
"Enggak, emangnya kenapa?"
"Seharusnya kau bisa melihat bahwa Buk Yana sekarang tengah mengajari aku di sini."
__ADS_1
"Tapi, dia 'kan bukan guru private kamu. Jadi, waktunya istirahat, ya, dia seharunya istirahat juga dong."
"Ck," tawa Arhan sinis menghempaskan pena dengan kasar ke meja.
"Udah-udah!" leraiku menahan tangan Arhan saat tubuhnya sudah ingin berdiri menghadang Irga. Aku berdiri secepat mungkin agar tak ada perkelahian.
"Ga ... saya mau ngajarin Arhan, ya. Kamu istirahat aja, makan aja ke kantin sama temen-temen kamu," tolakku lembut.
"Yaudah kalau gitu Buk Yana, Irga duluan, ya." Kuanggukan kepala dengan cepat, ia langsung berjalan keluar ruangan.
Setelah punggungnya tak lagi terlihat, kubuang napas pelan. Ruangan guru pun hanya ada aku saja, ke mana semua guru?
Aku duduk kembali dan melihat buku yang tadi ada sama Arhan kini sudah berada di depan bangkuku.
"Udah selesai?" tanyaku menatap semua tugas yang telah berjawab.
"Sudah Buk."
"Wah ... bentar, ya, saya periksa." Aku fokus melihat jawaban atas soal yang kuberi.
"Kenapa cuma ada Ibuk sendiri di sini? Guru yang lain mana?"
"Gak tau juga."
"Biasanya begini kalau istirahat?"
Kualihkan pandangan menjadi ke arah Arhan dan bergeleng, "Apakah aku seperti monster?" tanya Arhan dengan sedikit tawa. Tapi, aku yakin itu bukanlah tawa bahagia.
"Ya, karena aku mereka tak ada di dalam ruangan ini. Mereka takut jika aku akan menjahili atau berbuat yang onar."
"Hmm ... gak boleh negatif thinking sama seseorang apalagi dengan orang yang lebih tua darimu. Juga, jangan pakai kata mereka. Tapi, guru-guru."
"Ck, lebay!" ketusnya membuang muka ke samping.
"Eh, aku ketinggalan pembahasan apa nih?" tanya suara yang kukenal jelas siapa orangnya.
Dia membawa dua mangkuk dengan menggunakan nampan kantin, "Nih buat Ibu Yana, biar semakin semangat mengajarnya," ujar Irga meletakkan mangkuk di depanku.
Segera diraih bangku dari meja guru yang kosong, "Pada ke mana Buk Yana? Kok sepi gini ruangan guru?" tanya Irda dan duduk di dekatku.
Aku mengerjapkan mata melihat tingkah laku mereka, ada saja hal yang sangat absurd mereka perbuat.
"Ck, apa tidak ada bangku di kantin? Matamu tak melihat jika meja ini terlalu kecil?" tanya Arhan dengan tatapan sinis.
"Nah, kalo lu tau meja ini kecil. Besok, bilang sama Papa lu biar ganti semua meja jadi besar," jawab Irga tanpa dosa dengan menyeruput mie ayam miliknya.
"Udah, jangan pada berantem," kataku agar tak semakin banyak perdebatan, "Arhan, di nomor dua ini kamu salah cara mangkanya jawabannya salah." Aku menunjuk ke arah buku tulis yang dia jawab.
__ADS_1
Dayana menerangkan jawabannya yang benar dengan seksama, Arhan menatap penjelasan yang ada dan sesekali mengangguk paham.
"Bisa?" tanya Dayana merasa telah menjelaskan sedetail mungkin.
"Bisa Buk, tapi, Ibuk makan aja dulu. Saya juga mau makan, lagian tugas saya yang salah cuma satu 'kan jawabannya?"
Aku mengangguk dengan tersenyum ramah, "Iya, cuma satu, kok."
"Eh, Anto!" panggil Arhan saat ada seseorang lewat dari depan ruang guru.
"Ya, ada apa?" tanyanya yang masih di luar ruang.
"Sini!" perintahnya.
"Kenapa?" tanya Anto yang sudah berada di samping Irga dan Arhan.
"Belikan mie kosong dua, satu gak pake kecap dan gak pedas satu pedas. Teh manis dingin dua, lebihnya buat lu," perintah Arhan dengan mengeluarkan uang berwarna merah dari sakunya.
"Wisss ... mantap, nih! Oke, bentar Arhan!" seru bahagia Anto keluar dari ruangan.
Dayana yang tengah merapikan mejanya agar muat mangkuk mie ayam bakso ini akhirnya memakan pemberian Irga.
"Dih, lu ngapain masih di sini? Kan, kelas khusus lu udah kelar!" tegur Irga yang melihat Arhan menatap Dayana.
"Gak ada larangan anak murid gak boleh ada di ruang guru."
"Yaudah kalau gitu, pilih bangku yang lain aja di sono banyak kosong!"
"Suka guelah, ngapain lo yang repot?"
"Dih, gak ada juga gue repot."
"Udah, bisa pada diam gak nih? Jangan ribut, berdua kek sepuluh orang jadinya karena suara kalian itu."
Akhirnya, mau tak mau mereka pun diam. Tak lama setelah itu, Anto datang dengan nampan juga dan memberikan dua mangkuk tersebut pada Arhan.
Anto yang merasa tugasnya telah selesai langsung pergi, "Eh, apa nih?" tanya Dayana kaget saat satu mangkuk diberikan Arhan padanya padahal mangkuk yang ini aja belum habis.
"Jika Irga memberi ibu terima, jadi, saya harap pemberian saya juga ibu perlakuan dengan sama."
"Tapi, tadi 'kan roti dari kamu udah saya makan. Ada sisa bahkan saya masukkan ke tas."
"Yaudah, masukkan tas juga kalau gitu. Biar saya tau kalo saya lebih spesial karena masuk di tas Ibu."
"Udah, deh, cepatan makan. Kalian bentar lagi akan masuk untuk pelajaran selanjutnya. Buat kamu Arhan, jangan bolos dan tidur di kelas. Harus ada di dalam dan jangan buat keributan, ya," ucapku menasehati.
"Tergantung Buk."
__ADS_1
"Tergantung apa?"
"Kalau gurunya baik, ya, muridnya juga akan baik. Kalo gurunya jahat, ya, muridnya juga akan jahat. kan, emang gitu. Guru tuh ditiru oleh murid yang dia ajari."