Cuma Angka

Cuma Angka
Membaca Agar Kau Tahu


__ADS_3

Wanita yang hamil tadi turun lebih dulu, Irga kembali duduk di samping Dayana karena melihat tempat itu kosong kembali.


Laki-laki itu menampilkan senyuman yang membuat Dayana menaikkan alisnya sebelah pertanda bingung dengan senyuman yang diberikannya.


"Kenapa lu?" tanya Dayana menatap wajah Irga.


"Gak papa, Mbak lucu aja. Sok nasehatin orang emangnya Mbak udah pernah hamil mangkanya nasehati orang?" tanya Irga membuat wajah Dayana menjadi datar.


"Jadi, harus pernah di posisi itu baru bisa nasehati?"


"Ya, sedikit banyaknya Mbak."


"Kalau harus merasakan posisi itu dulu baru bisa menasehati. Apakah dokter harus merasakan gagal ginjal dulu? Kanker dulu? Baru bisa menasehati pasiennya?" tanya Dayana menatap Irga dan membuat laki-laki itu menyimak ucapan Dayana terlebih dahulu.


"Itulah gunanya buku dan sekolah, agar kau bisa belajar dan tau tentang dunia melalui buku yang ada. Jangan malas membaca, bagaimana aku tau tentang perkembangan zaman sekarang kalau kau malas membaca?" sambung Dayana.


"Oh, jadi maksud Mbak gue jangan sering main game gitu dan harus banyak membaca?"


"Ya, terserah sama lu aja. Mau main game sampe seharian atau enggak, gue cuma jawab pertanyaan lu yang tadi aja Ga," kata Dayana menatap ke arah jalanan.


Mereka telah sampai di halte komplek rumah, Irga dan Dayana turun dan berjalan ke dalam komplek dengan berdiaman.


"Mbak, si Andi mau nikah minggu depan. Kita datang, ya," ujar Irga membuka obrolan.


Dayana menatap sekilas, "Ya, kalo diundang datanglah," jawab Dayana dan fokus dengan jalan.


"Gak akan ada adegan nangis 'kan Mbak?"


"Nangis buat apa?"


"Ya, berpisah dengan mantan terindah," tutur Irga dan menatap Dayana dengan fokus.


Wanita yang di tatap malah berhenti dan membuat Irga juga berhenti dengan wajah yang kebingungan, "Kenapa Mbak?" tanya Irga dan melihat apa yang sedang di tatap oleh Dayana.

__ADS_1


Mereka menatap laki-laki yang berada di belakang mobilnya dan tersenyum ke arah Dayana, "Ngapain dia di situ?" tanya Dayana berjalan mendekat ke arah laki-laki itu.


Melihat Dayana dan Irga berjalan ke arahnya, ia tersenyum dengan merapikan pakaiannya sebentar.


"Ngapain lu?" tanya Dayana dengan wajah yang sinis.


"Gak papa, mau main ke rumah lu aja."


"Lu tau rumah gue dari siapa?"


"Gue bisa tau dan dapat apa saja yang gue inginkan termasuk alamat rumah lu dan laki-laki yang ada di samping lu ini. Gue kira dia pacar lu ternyata kesempatan gue masih ada," ucapnya dengan gaya sombong.


"Eh, bentar nih. Lu siapa?" tanya Irga yang belum kenal dan paham ada apa sebenarnya.


"Gue Arya," kata orang tersebut menjulurkan tangan.


"Gue gak nanya nama lu!" kesal Irga dan menatap ke arah Arya.


"Terus?"


"Suka-suka guelah! Lagian, ini 'kan bukan halaman rumah lu."


Irga hanya melihat ke arah Dayana, ia langsung menggenggam lengan Dayana dan membuat wanita itu kaget.


Mereka berjalan menjauh dari Arya yang masih mematung, "Kita mau ke mana?" tanya Dayana yang tetap mengikuti Irga. Karena mau tak mau dia harus mau akibat tangan yang sudah ditarik oleh laki-laki itu.


"Ke rumah gue!" ketus Irga dan fokus pada jalanan dengan wajah fokus menatap jalanan.


Sesampainya di rumah, Irga langsung menutup pintunya dan melepaskan tangan Dayana di sofa rumahnya.


Arum yang mendengar masuknya seseorang tanpa mengucapkan salam menatap heran, "Eh, ada Dayana," kata Arum dan mendekat.


Irga dan Dayana langsung menatap ke arah Arum yang berada di belakang mereka, "Eh, maaf Tante," kata Dayana berjalan ke arah Arum dan menyalim tangan wanita itu.

__ADS_1


Sedangkan Irga tetap dengan wajah kesal dan datarnya, ia berjalan ke arah jendela dekat pintu dan menaikkan gorden agar bisa menatap orang yang ada di luar.


Arum yang memperhatikan gerak-gerik Irga pun menautkan alisnya, tumben sekali anak laki-lakinya yang biasanya ceria menjadi seperti itu.


"Kamu liatin siapa Ga?" tanya Arum dan membuat sang empu menatap ke arah Arum dengan berjalan mendekat ke arah dirinya juga Dayana.


Arum melihat penampilan Dayana, "Kamu belum pulang ke rumah? Kenapa, ada apa?" tanya Arum yang makin dibuat penasaran.


"Itu Ma, ada makhluk aneh. Masa dia datang jauh-jauh buat ke rumah Mbak, padahal Mbak baru aja kenal sama dia dan Mbak itu risih Ma. Irga juga kesel dan cemburu jadinya!" geram Irga dengan mengepal tangannya.


"Lah, kenapa kamu yang jadinya kesel dan cemburu?"


"Masa dia mau deketin calon menantu Mama," kata Irga tanpa dosa dan membuat Arum mengusap wajahnya sedangkan Dayana menampilkan wajah datar.


Apakah Irga tak bisa menjadi orang serius sedikit pun? Oh, ayolah! Tak semua hal bisa dijadikan bahan candaan dan tak semua keadaan bisa bercanda.


"Mana orangnya?" tanya Arum yang terpancing kesal juga terlihat dari raut wajah wanita itu.


"Di halaman rumah Mbak tadi Ma," jawab Irga seolah tengah mengadu. Sedangkan Dayana hanya menatap percakapan ke dua orang di depannya saat ini.


Wanita yang berumur 43 tahun itu pun berjalan ke arah pintu dengan Irga di samping dan Dayana berjalan di belakang Arum.


Ia membuka pintu yang tadinya di tutup oleh Irga, "Mana?" tanya Arum kala melihat tak ada apa-apa di halaman Dayana.


Mereka langsung ke luar teras untuk memastikan hal itu, "Iya, udah pergi berarti dia Ma."


Arum menatap Dayana yang masih melihat ke arah halaman rumahnya, "Kalau emang kamu ngerasa risih atau gak nyaman sama sikap laki-laki itu. Maka, boleh kok kalo nginap di sini. Lagian Tante di sini juga berdua doang," harap Arum dengan mengelus punggung Dayana melihat wanita itu berpaling menatap ke arah Arum.


"Iya Mbak, lagian sama aja kalo Mbak tinggal di sini dan di sana. Tetap Irga juga yang akan datang dan Mbak liat," timpal Irga ikut membujuk.


Dayana diam dan berpikir, sejujurnya mau bagaimana pun rumah kita maka itu tetap lebih nyaman daripada rumah orang lain.


Namun, dengan kejadian ini membuat dia sedikit harus lebih waspada, "Mm ... nanti aja deh Tante, lagian dia juga 'kan gak ngapain-ngapain," tolak Dayana yang memang juga belum tahu maksud dan apa ingin Arya sebenarnya.

__ADS_1


"Yaudah, kalau kamu emang rasa laki-laki itu udah buat kamu risih dan meresahkan. Maka, pintu Tante akan sangat terbuka juga Tante sangat senang kalo kamu mau tinggal di sini," kata Arum yang menerima keputusan Dayana.


"Kalau begitu Dayana pulang dulu, ya, Tante. Belum mandi dan beres-beres juga lagian," ungkap Dayana dan menatap ke arah Irga, "Gak perlu dianterin!"


__ADS_2