
"Ha? Jeng beneran, ini serius?" tanya Mama Dayana di ruang tengah yang sedang menerima panggilan dari seseorang.
"Baik-baik, sampai jumpa nanti malam!" ujarnya dengan semangat dan menutup mulut.
"Aaa ...!" teriak Mama Dayana dan membuat suaminya keluar dari kamar, sedangkan Dayana? Wanita itu masih tertidur setelah selesai melakukan shalat Shubuh.
"Mama kenapa, sih? Pagi-pagi udah teriak!" tegur Papa menatap kesal ke arah istrinya.
Bukannya menjawab, Mama malah berjalan ke arah kamar Dayana sambil mengetuk pintu kamar wanita itu.
"Yana! Yana!" panggil Mama dengan tetap mengetuk.
"Euhg ... Mama apaan, sih? Masih pagi, juga," gumam Dayana mengucek matanya. Ia mengerjap sebentar dan memilih duduk.
"Ada apa, Ma?" tanya Dayana dengan suara sedikit teriak.
"Keluar dulu!" perintah Mama.
Dengan langkah gontai, Dayana berjalan ke arah pintu kamar. Bahkan, matanya masih enggan terbuka.
Ceklek!
"Ada apa Ma?" tanya Dayana bersender di pintu.
"Nanti malam ... Tante Silki, Om Pram dan Aldo akan datang ke sini!" teriak Mama dengan wajah yang berseri-seri.
"Kalo datang emangnya kenapa, sih Ma? Waktu itu mereka juga udah datang, jadi apa yang mesti diributkan kek gini?" tanya Papa yang bingung dengan sikap istrinya.
"Mereka datang buat lamar Dayana!" teriak Mama menjelaskan.
"Oh, lamar aku," gumam Dayana mengulang kalimat Mamanya dengan kesadaran yang belum berkumpul.
"Ha? Apa?" tanya Dayana dengan mata yang terbuka lebar juga badan berdiri tegap.
Mama mengangguk tersenyum, "Iya, lamar kamu."
"Mana bisa gitu Ma, Yana aja belum bilang mau dilamar sama Aldo!" tolakku dengan cepat.
"Emangnya kamu gak suka sama dia?"
"Enggaklah, mana mungkin aku bisa secepat itu suka sama orang Ma. Mama taulah aku gimana orangnya," kata Dayana berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum lebih dulu.
"Ya, tapi 'kan belum kamu coba. Lagian, kalian itu cocok lho. Tuh, si Aldo sampe nerima kamu. Artinya apa? Artinya dia udah punya perasaan ke kamu," terang Mama berdiri di ambang pintu dapur.
__ADS_1
"Ma, tapi rasa cinta itu gak bisa dipaksakan. Masa, aku gak suka sama dia tiba-tiba harus paksain diri buat suka?" tanya Dayana berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Dia masuk ke toilet membuat Mama memilih diam, karena sama saja Dayana tak akan mendengar ucapannya.
"Kamu yakin gak suka sama, dia?" tanya Mama menaikkan alisnya sebelah.
"Yakin!" jawab Dayana tegas dan berdiri di depan Mamanya.
"Kalau yakin, kenapa foto kalian berdua jadi walpaper di laptop kamu?" goda Mama bersedekap dada menaik terunkan alisnya.
Deg ...!
'Mampus! Kenapa Mama bisa tau?' batin Dayana merutuki dirinya sendiri.
Dayana terdiam dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal juga menampilkan cengiran.
"Kamu tau? Dia itu adalah laki-laki yang berbeda, dia tak seperti Andi yang datang dengan niat mengajak kamu untuk berada di zona maksiat dengan pacaran," timpal Papa yang dari tadi hanya berdiri di depan kamarnya menjadi ikut ke dapur.
"Dia mengajak kamu ke jenjang yang serius, jika kamu memang ingin menolak dia. Maka, carilah kalimat yang benar-benar pantas kamu jadikan sebuah tolakan. Papa tak akan memaksa kamu untuk menikah dengan siapa, jika tak ingin dengan Aldo maka tak masalah," sambung Papa dan meninggalkan Dayana juga Mama.
Mama mendekat ke arah Dayana yang tertunduk setelah kepergian Papanya, "Tanyakan sama hatimu, yakin tak ada rasa sama dia? Mama juga gak akan paksa, apa pun keputusan kamu Mama dan Papa akan ikut aja," timpal Mama mengusap bahu Dayana dan ikut pergi.
Bukan. Mereka bukan marah dengan Dayana, mereka hanya takut jika Dayana menolak seseorang yang seharusnya ditolak.
Dayana berjalan kembali ke kamar untuk memikirkan hal ini, ada beberapa jam lagi untuk dia mempertimbangkan segalanya.
[Tak perlu terima jika kau merasa tak ada hati padaku, jangan menerimaku dengan paksaan. Beberapa hari ini kau menjadi topik-ku pada Sang Pencipta. Tapi, jika memang tak jodoh pun tak apa]
Satu pesan dari Aldo diterima, Dayana bingung dengan perasaannya. Dia buka laptop yang menampilkan wajahnya juga Aldo itu.
Entah sejak kapan Mama tahu akan wallpaper di laptopnya itu. Namun, itu benar adanya bahwa dirinya mengganti wallpaper.
Malam hari pun tiba, setelah selesai shalat Magrib Dayana juga Mama tengah sibuk menyiapkan makanan.
"Semoga, apa pun yang kamu putuskan. Mereka mau terima, ya," ucap Mama sambil fokus menata makanan.
"Aamiin, Ma," jawab Dayana yang sudah rapi dengan gamis brukat miliknya.
Tok ...!
Tok ...!
"Assalamualaikum," salam seseorang dari luar.
__ADS_1
"Nah, itu mereka. Mama ke depan dulu, ya," terang Mama mengelus punggung Dayana sebelum pergi meninggalkan Dayana di dapur.
Di dapur, ia hanya bisa tersenyum dan memegang dadanya merasakan seberapa kencang degub jantungnya itu.
"Ya, ampun. Aku takut banget," kata Dayana sambil mencoba tenang.
"Yana, ayo! Sekalian bawa makanannya!" perintah Mama yang juga tengah mengambil salah satu nampan.
"Iya Ma."
Dayana mengambil salah satu nampan dan menunduk meletakkan makanan di meja, ia merasa malu menatap orang yang hadir.
"Baiklah, langsung saja rasanya saya buka tujuan malam ini saya datang ke sini. Jadi, tujuan saya datang beserta istri juga anak untuk melamar putri kalian, Dayana," jelas Pram dan membuat Dayana mendongak.
"Kami, tidak bisa menjawab apa-apa. Itu semua kembali ke Dayana, dia yang bisa menjawab apakah bersedia atau tidak menerima lamaran dari Nak Aldo," terang Papa menatap ke arah Dayana.
Suasana hening, menatap ke arah Dayana yang masih melihat ke arah wajah Mamanya. Mamanya tersenyum dan mengangguk pelan ke arah anaknya.
"Bismillah, atas izin Allah juga kedua orang tua. Saya, Dayana. Menerima lamaran Aldo malam ini," ucap Dayana tersenyum dan langsung menunduk menyembunyikan semburat merah yang hadir di pipinya.
"Alhamdulillah!" seru semua orang kecuali Aldo. Dia tersenyum dan menyapu telapak tangannya ke wajah seolah dari tadi tengah berdoa.
Silki mendekat ke arah Dayana dan memasangkan cincin, pembahasan mereka selesai ketika adzan Isya berkumandang.
Mereka memilih shalat di Masjid luar saja, sedangkan pernikahan sudah direncanakan secepatnya karena mengingat Mama dan Papa Dayana yang akan tugas ke luar daerah juga Aldo yang akan kembali kerja.
Selesai melihat mobil keluarga Aldo menjauh, Mama dan Papa lebih dulu masuk. Tinggallah Dayana dan akhirnya memilih masuk juga.
"Mbak!" Belum sempat dia masuk ke dalam, suara seseorang sudah membuatnya berhenti untuk melangkah.
"I-irga?" lirih Dayana saat melihat orang di depannya adalah Irga. Irga tersenyum dengan manis ke arah Irga.
"Perjuangan gue buat jaga lo udah selesai, ya, Mbak? Gak akan ada lagi gue yang hadir di hidup lo, iya, gue tau kalo kita itu perbedaannya CUMA ANGKA. Namun, gue lupa bahwa beda cuma angka aja bisa jadi penghalang dalam terwujudnya impian, hehehe," terang Irga dengan mata memerah.
"Selamat Mbak, ini kado buat lo atas perpisahan sekolah dan lamaran juga deh," sambung Irga menyerahkan kado yang begitu besar berbentuk persegi empat.
"Kalo gitu, gue duluan, ya, Mbak." Irga berdada di depan Dayana, dia membalikan badan. Baru satu langkah menjauh dia membalikan badan kembali, "Itu juga kado perpisahan Mbak, karena gue. Akan pindah. Asalamualaikum!"
Irga berjalan dengan cepat, Dayana menggelengkan kepalanya dan meletakkan kado milik Irga ke tempat duduk.
"Gak! Irga ... lo mau ke mana!" teriak Dayana berlari mengejar Irga yang ternyata sudah masuk ke taksi.
"Irga! Lo mau ke mana!" teriak Dayana lagi berdiri di depan pintu pagar.
__ADS_1
'Terkadang, memang terlihat sepele. Cuma angka, tapi kita tak pernah tau apa yang akan terjadi di perbedaan itu. Makasih, Mbak. Makasih sudah menjadi orang yang datang ke kehidupan gue di saat yang tepat. Lo harus bisa bahagia, bahkan sangat bahagia,' batin Irga tersenyum menatap Dayana yang berdada ke arah taksinya dari kaca spion.