Cuma Angka

Cuma Angka
Hari Pertama


__ADS_3

"Jika sakit yang kau rasakan karenaku, maafkan aku. Namun, jika sakit itu terlalu parah lukanya. Kau boleh pergi dan carilah kebahagiaanmu."


Pagi ini, Dayana mulai akan mengajar di sekolah yang belum dia ketahui karena dirinya belum membuka sosial medianya.


Baju kemeja warna putih, dipadukan rok plisket warna hitam juga kerudung segiempat ukuran 130 berwarna hitam.


Tak lupa menggunakan tas ransel dan sedikit parfum agar mood mengajar semakin keluar, "Perfect." Satu kata yang keluar dari mulut Dayana kala melihat dirinya dari pantulan kaca.


"Good morning, Ma, Pa," sapa Dayana dengan wajah tersenyum sumbringah. Ia langsung menduduki bangku yang ada di samping mamanya.


"Good morning Yana."


"Kamu udah liat akan ngajar di mana?"


"Belum Pa, ini baru mau liat." Dayana membuka handphone dan men-cek notifikasi yang masuk di gadget-nya.


"Ha?" tanya Dayana kaget kala melihat sekolah mana yang akan dia masuki.


"Kenapa?"


"Dayana akan ngajar seminar di sekolah Irga, Pa."


"Bagus, dong. Kamu bisa sekalian minta maaf sama dia."


"Iya, sih. Tapi 'kan tetap aja canggung rasanya Pa."


"Gak papa. Semangat, ya, Buk Yana," ejek Papa dengan tangan yang di kepal ke atas.


"Ih, Papa mah!" gerutu Dayana melihat Papanya yang seolah tengah menggoda dirinya.


"Udah-udah, cepetan sarapan. Ini bekal udah Mama bawakan juga buat Irga."


"Baik, Ma. Makasih."


Mereka makan dengan suara candaan yang ikut menyertai, setelah semua selesai. Dayana keluar dari rumah berjalan menuju halte untuk naik bus.


'Kok gak ada Irga, ya?' batin Dayana sambil melihat ke bangku bus yang ada mencari keberadaan laki-laki itu.


Sesampainya di gerbang sekolah, banyak anak-anak remaja yang menginjak dewasa memperhatikan dirinya.


Yang wanita melihat seolah tengah mempertanyakan keberadaannya sedangkan yang laki-laki seolah tengah melihat calon pacarnya.


Hingga di koridor, Dayana tak sengaja berpapasan dengan Irga. Irga hanya menatap lurus tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.


Bibir Dayana yang tadinya tersenyum seketika murung kembali, 'Apa dia gak liat gue, ya?' batin Dayana dan berlalu mencari ruang kepala sekolah.


"Kamu ngajar di kelas 12 C."


"Ha? Gak bisa ke kelas lain Pak?"

__ADS_1


"Hanya seminggu saja."


"Hmm ... baiklah, Pak."


Keluar dari ruang kepala sekolah menuju ruang guru, sedikit jauh jaraknya. Di saat tengah menuju ruang guru, banyak murid yang berbisik sambil menatap ke arahku.


'Dih, gak ada sopan-sopannya. Bisa-bisanya guru sendiri di gosipin!' batin Dayana menggerutu.


"Hay, Buk. Guru baru, ya?" tanya anak laki-laki yang menyapa.


"Hay, kembali. Iya, saya guru seminar doang dan cuma seminggu kok ngajarnya."


"Wah ... kalo gurunya gini, auto kebuka lebar dah mata!"


"Hmm ... saya ini guru kamu, jangan berbicara seolah tengah bersama temanmu!" tegasku dengan senyum yang tiba-tiba hilang mendengar ucapannya.


"Hehe, becanda Buk. Semoga Ibu guru di kelas saya, deh nanti," kata anak laki-laki itu dengan angka romawi yang menunjukkan kelas dua belas di sebelah kanannya.


Aku melemparkan senyuman hingga akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruangan guru, "Buk Dayana?" tanya seorang laki-laki yang menggunakan seragam guru.


"Iya Pak."


"Nanti setelah bel masuk sekolah, ikut saya biar saya kasih tau di mana kelas Ibu. Nah, untuk meja Ibu. Ibu bisa duduk di situ," tunjukknya ke arah bangku yang kosong.


"Kenapa ruangan gurunya kosong Pak?"


"Biasanya, guru akan langsung masuk ke kelas Buk Dayana."


Dayana melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, meletakkan tas dan tas bekal yang dia bawa.


Dirinya bersihkan meja yang sedikit berdebu dan juga bangku, entah sudah berapa lama tak ada yang menduduki itu sebabnya kursi dan meja tampak begitu kotor.


Materi telah diberi tahu guru tersebut, materi apa yang akan diberikan Dayana nanti ke murid-muridnya.


Suara bel terdengar nyering, Dayana mengambil napas panjang menghembusnya dengan pelan mencoba mengontrol diri agar tak emosi nanti.


"Buk, ayo!" ajak laki-laki tadi kembali. Dayana mengangguk dan mengambil pulpen juga buku materi.


Suara kelas yang riuh seketika tenang ketika dirinya dan guru laki-laki tadi berjalan, "Selamat pagi anak-anak!" sapa laki-laki yang namanya sudah dikenalkannya.


"Selamat pagi pak Wahyu!"


"Oke, anak-anak. Kalian kedatangan guru baru namanya Buk Dayana, saya harap kalian bisa sopan santun dan memperlakukan dia selayaknya seorang guru meskipun umur kalian mungkin hanya beda tipis!" tegas Wahyu. Dayana melihat satu per satu wajah muridnya hingga ia menangkap satu wajah yang hanya membuang muka.


'Dih, masih ngambek aja tuh anak!' geram Dayana.


Memang, Irga tak akan mau berdamai sebelum musuhnya meminta maaf. Ya, musuhnya. Sekarang Dayanalah musuhnya.


"Oke Pak!"

__ADS_1


"Baik, buk Dayana. Saya permisi dulu."


"Pak."


"Iya?"


"Panggil Dayana aja, gak usah pake Buk. Karena saya masih muda."


"Oh, iya, yang tua 'kan saya," ujar Wahyu sambil menepuk jidatnya pelan. Dan disambut dengan gelak tawa murid yang rupanya mendengar ucapannya.


"Dah, udah! Ngejak aja kalian ini."


Dayana tersenyum dan mulai berjalan ke mejanya kala Wahyu sudah pergi dari hadapannya, sedikit ada rasa kikuk dan takut dengan perlakuan mereka nantinya pada Dayana.


"Bersiap!" seru ketua kelas. Semua orang langsung berdiri, Dayana langsung menatap dan melihat ke sumber suara.


"Beri salam!" tegasnya lagi.


'Wah ... ketua kelas ternyata Irga,' batin Dayana yang tersenyum kala melihat Irga begitu gagah dengan suaranya meskipun mungkin tak segagah suara pria dewasa.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh!" seru murid yang ada di dalamnya yang berjumlah 25 orang.


"Walaikumsalam Warahmatullahi Wabarokatuh. Silahkan duduk," titah Dayan dan semua kembali duduk.


"Selamat pagi semua, apa kabar?" tanya Dayana berdiri dari bangku dan menatap semua murid.


"Baik Buk!" seru mereka serentak.


"Kamu, kenapa tidak menjawab?" tanya Dayana dengan menunjuk ke arah Irga. Sengaja ia tak menyebut nama agar terlihat profesional.


"Ga, woy! Ditanya tuh," bisik murid yang ada di samping Irga.


"Iya Buk? Kenapa?"


"How are you?"


"I'm fine."


"Oh ... oke semuanya. Salam kenal nama saya Dayana, kalian boleh panggil Yana atau apa saja yang kalian inginkan."


"Sayang boleh, Buk?" tanya seorang anak laki-laki yang tak asing wajahnya.


"Eh, kamu? Kita ketemu di depan ruang kepala sekolah, tadi 'kan?"


"Iya, Buk. Andre nama saya Buk, murid paling ganteng di sini."


"Eh, tapi, sepenglihatan saya. Yang paling ganteng itu dia, deh!" kata Dayana menunjuk ke arah Irga tepat dengan keadaan laki-laki itu baru mendongak.


Semua murid langsung tersenyum dan tertawa, "Ciee ... Ga! Si Ibuk geulis langsung kecantol tuh!" teriak murid perempuan.

__ADS_1


'Rasain lu, Ga! Sok cool di depan gue, sih!' batin Dayana kegirangan karena berhasil membuat Irga tersipu malu dengan gombalan receh dari Dayana.


__ADS_2