
Sebenarnya Irga tak benar-benar tidur, setelah merasa semua orang tak ada lagi di sekitar dirinya. Ia duduk dengan wajah sendu.
'Mbak, Irga harus relain Mbak, ya? Mbak keknya cocok sama Om tadi dan kayaknya Mbak suka juga sama dia,' batin Irga dan bangkit dari sofa.
Ia berjalan ke luar rumah dengan gontai, membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar sudah ada gambar yang terpajang.
Gambar yang memang belum 100% selesai, Irga duduk di bangku yang memang tersedia dan menatap gambar itu.
'Memang, umur cuma angka. Namun, yang namanya wanita pasti butuh akan kepastian. Lagian, aku juga masih kecil dan Mama gak mungkin ngasih izin buat lamar Mbak Yana. Pasti aku disuruh kuliah,' batin Irga.
Setelah PKL di Bandung nanti selama 2 bulan, Irga akan menghadapi ujian lulus-lulusan. Ketika jauh dari Dayana tak mungkin dirinya tak khawatir dengan wanita itu.
"Kamu kenapa Ga?" tanya seseorang sambil menguasap bahu Irga.
"Eh, Mama," kata Irga mendongak menatap Mamanya, "ngeliatin nih lukisan, belum kelar juga."
"Ya, mangkanya jangan diliatin doang tapi dikerjain!" ketus Mama dan membuat Irga terkekeh.
"Iya, Ma. Masih mikirin konsep warnanya dulu."
"Itu gambar siapa, sih?" tanya Mama dengan menautkan alis.
"Wanita spesial setelah Mama," kata Irga tersenyum.
"Kamu ini, masih kecil udah kayak orang dewasa aja. Sekolah dulu yang fokus, urusan jodoh nanti belakangan!"
"Iya, Ma. Becanda Irga juga," jawab Irga cengengesan.
"Yaudah, Mama keluar dulu, ya. Kalo kamu belum makan, tuh di dapur makanan udah ada."
Irga tersenyum dan mengangguk, Mamanya pun pergi kembali ke luar dari kamar Irga. Suara dering handphone mengalihkan pandangannya.
"Iya, halo Mbak?" tanya Irga melihat nomor Dayana yang muncul.
"Lu di mana? Kok udah gak ada di sofa? Gak boleh gitu, lu kalo mau keluar dari rumah orang itu harus pamit dulu!" ketus Dayana dengan suara panik di sebrang.
"Hahaha, panik ya Mbak?" tanya Irga dengan menggoda.
"Gue serius, Ga!"
__ADS_1
"Iya, Mbak. Maafin Irga, Irga udah di rumah. Tadi gak enak mau pamit pada gak ada semua di ruangan, jadi daripada menganggu tidur siang Mbak dan Tante lebih baik langsung pulang aja."
"Dasar kamu, tuh! Jangan biasain begitu!"
"Iya-iya, Mbak. Oh, iya btw Mbak. Mbak sibuk gak nanti sore?"
"Enggak, sih. Emangnya kenapa?"
"Makan ice cream, yuk!" ajak Irga dengan semangat.
"Siapa yang bayar?"
"Mbaklah!"
"Dih, yaudah oke!"
"Hahaha, gak dong 'kan gue yang ngajak lu Mbak. Jadi, gak mungkin lu yang bayar."
"Oke, bye."
Panggilan diputuskan lebih dulu oleh Dayana, Irga menatap panggilan yang terputus tersebut. Sebuah senyuman getir tercipta.
"Gimana, Irga ketemu?" tanya Papa Dayana menatap Dayana yang masih berdiri di belakang sofa.
Ketika dirinya akan men-cek Irga, tak sengaja Papannya juga baru keluar dari kamar. Otomatis Dayana langsung bertanya keberadaan Irga.
"Pulang Pa."
"Lah, kok gak pamit?"
"Karna kita semua tidur, dia gak enak buat bangunin untuk pamit."
Papa mengangguk paham dengan yang diucapkan oleh Dayana, "Yana, kamu beneran gak suka sama Aldo? Kalian kenalan dulu lebih jauh. Papa 5 hari lagi akan kembali pergi ke luar kota, nanti kamu sama siapa?" tanya Papa dengan pembahasan serius.
"Biasanya Yana juga bisa sendirian, kok Pa. Jadi, kenapa sekarang baru dikhawatirkan?"
"Wajar kalo Papa khawatir, apalagi kamu cewek dan tinggal sendiri. Kalo terjadi sama kamu apa-apa, gimana?"
"Allah selalu bersama dengan hamba-Nya. Udah, ya, Pa. Yana mau masuk dulu, lanjutin tidur siang," pamit Dayana dan masuk kembali ke kamar.
__ADS_1
Dayana duduk di pinggir kasur, dirinya masih tak habis pikir kenapa di usianya yang masih muda harus disuruh nikah cepat?
Padahal, dia pun masih sangat menikmati masa-masa dewasanya. Berkumpul dengan keluarga dan berjalan ke mana yang kita inginkan tanpa sebuah larangan.
"Huh, mending aku shalat istikharah deh nanti. Biar aku serahkan semua sama Allah," kata Dayana dan merebahkan badannya kembali.
Sedangkan di kediaman Aldo, Pram dan Silki menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan intens.
"Kenapa Ma?" tanya Aldo yang risih dengan tatapan itu.
"Sejak kapan kamu punya pacar? Kenapa tadi ngakunya udah punya pacar?" tanya Silki mengintrogasi Aldo.
"Masa aku harus jujur, lagian Ma si Dayana itu banyak cowok yang mau sama dia. Aku malas kalo harus bersaing."
"Tapi, kamu suka sama dia?" tanya Silki menyelidiki.
"Ya, gak tau. Kan, aku baru kenal beberapa kali sama dia."
"Kamu udah gak muda Aldo, jangan terpaku dengan yang tak jelas. Ada seseorang yang Allah beri pada kamu dengan cara yang baik, apa salahnya tidak menerima kebaikan Allah itu?"
"Ma ... Aldo takut kalo gagal bahagiakan Dayana."
"Di dalam pernikahan tentunya tidak melulu soal bahagia, Nak. Pasti ada tangis dan air mata. Namun, itu tergantung dengan siapa kita membina rumah tangga tersebut. Jika dengan seseorang yang sudah Allah kehendaki dan kita sukai pasti jika tangisan itu datang kita akan bisa sama-sama menguatkan dan berpikiran positif bahwa setelah badai dan hujan akan ada pelangi setelahnya," timpal Pram yang dari tadi hanya menyimak saja.
"Mama dan Papa gak akan paksa, jika kamu memang tidak memiliki rasa saat dekat dengan dia atau kamu tidak tertarik maka tak apa. Lagian, itu juga bukan pertama kali kalian bertemu 'kan?" tanya Silki dan membuat Aldo hanya diam sambil menatap lantai.
"Kamu pikirkan aja dulu, kalo emang gak mau gak papa. Mama sama Papa masuk dulu ke kamar, ya." Pram dan Silki meninggalkan Aldo yang masih bingung dengan perasaannya di ruang tamu sendirian.
Aldo memang berbohong, dirinya sama sekali belum memiliki pacar karena sibuk dengan perdapuran di suatu restoran.
Menjadi chef membuat dia kadang jadi lalai dengan urusan hati, bahkan ada chef wanita yang menyukai dan mengejarnya saja dirinya tak mengetahui hal itu.
Menurutnya, jodoh juga akan datang jika memang sudah waktunya. Jadi, untuk apa terlalu dipikirkan saat tengah menggapai cita?
"Apa dia jodoh itu?" tanya Aldo yang dirinya pun bingung sendiri.
Jujur, ketika bertemu dengan Dayana di halte dirinya sudah mulai tertarik bahkan ketika Dayana dengan baiknya membayar kerusakan tukang bakso tadi.
Namun, apakah ini benar-benar perasaan suka? Atau ... hanya kagum semata? Aldo memilih bangkit dan beranjak ke kamarnya.
__ADS_1
Menaiki anak tangga dengan pikiran yang masih kacau, memang seorang wanita/pria mampu membuat isi otak yang tadinya baik-baik saja seketika berantakan.