Cuma Angka

Cuma Angka
Tukang Ancam


__ADS_3

Kami sudah sampai di pantai, aku jongkok di pinggiran pantai dengan sendal yang sudah kulepaskan.


"Kau mau nerima perjodohan ini?" tanya Aldo yang tiba-tiba berdiri di samping. Aku langsung menatapnya sebentar dan menatap air di depanku.


"Enggak," jawabku singkat dan tersenyum.


"Kenapa?" tanya Aldo menatap Dayana dengan kerudung yang terbang-terbang akibat angin.


"Karena, ini dunia nyata bukan novel semata. Gak ada perjodohan semenarik novel. Cinta dan rasa suka itu gak bisa dipaksakan," kataku menatap matanya sebentar.


"Lagian, bukannya katamu sudah punya pacar?" sambungku menatap pasir yang sekarang tengah kubuat menimbun kaki.


"Hmm, iya, sih, cuma aku tak dapat restu dari Mama dan Papa."


"Kenapa?"


"Karena kami beda agama."


"Emangnya dia gak mau pindah agama?" tanyaku menatapnya.


Aldo bergeleng saja, aku pun hanya bisa mengangguk merasa miris dengan kisah percintaannya.


"Oh, ini pacar kamu yang mana lagi?" tanya seseorang yang berada di sampingku membuat aku dan Aldo langsung melihat ke sumber suara itu.


"Dih, suka guelah! Ngapain jadi lu yang sewot?" tanyaku dengan nada ketus.


"Untung aja dulu aku gak setia-setia amat sama lu, ya 'kan? Kalo enggak, bisa-bisa sakit hati banget aku karena liat kamu berduaan sama dia," ujar Andi dengan sedikit tertawa.


"Lo kenapa, sih? Masih gagal move on, ya? Sampe-sampe ngurusin hidup gue banget? Mau sama siapa aja gue, itu bukan urusan lu. Termasuk gue sama Abang lu!" tekanku yang sudah muak dengan laki-laki mulut wanita ini.


"Cih, murahan!" hinanya dengan seolah meludah di samping.


Aku segera membuka tas dan mengambil kaca, "Nih, orang murahan! Udah liat 'kan lu?" tanyaku dengan menghadapkan kaca ke wajahnya.


Tanganku di tepis dengan kasar olehnya membuat kaca itu jatuh dari tanganku ke pasir, "Jangan kurang ajar lo, ya, sama gue!" amuknya dengan suara yang meninggi.


"Emangnya, lo kira gue takut sama lo?" tanyaku dengan mendekatkan wajah sedikit darinya.


Tangannya melayang ke udara, aku sudah ingin mundur dan menahan tangan itu. Namun, Aldo lebih dulu menahan tangannya di udara.


"Banci banget, sih lo!" kata Aldo dengan nada dingin yang masih menggenggam tangan Andi.


"Lepasin, sakit tangan gue!" bentak Andi berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Aldo.


"Gini aja lo bilang sakit? Sok banget mau jadikan Dayana istri lo, melepaskan tangan aja lo gak mampu apalagi menjaga dia!"


"Gue juga gak sudi buat jadiin tuh orang istri!" bentak Andi menatap jijik ke arah Dayana. Sedangkan Dayana hanya tersenyum.


"Udah, Sayang. Lebih baik kita tinggalin laki-laki yang gagal move on sama aku ini, gak ada untungnya juga. Mana matre pulak, gak malu jadi cowok," sindirku dengan menarik ujung kemeja yang digunakan Aldo.


'Ayolah Aldo, aku mohon kerja samanya. Pura-pura deh jadi pacar gue,' batinku berharap laki-laki itu peka.


Aldo melepaskan tangan Andi dengan kasar, "Ayo, Sayang," jawab Aldo dan mengambil kaca milikku tadi juga sendal meletakkan di depan kakiku.

__ADS_1


Kami langsung berjalan menjauh dari Andi, aku tak memperdulikan dia menatapku dengan kesal atau tidak.


"Dia siapa?" tanya Aldo yang menatapku dari samping.


"Masa lalu," jawabku singkat dan menatap ke depan.


"Gagal move on?"


"Gak tau, padahal udah tunangan."


"Wah ... kau juga sudah tunangan 'kan? Apa nanti tunanganmu akan datang buat menghajarku?"


"Eh, i-itu. Aku bohong soal itu, kok," jawabku sambil cengengesan.


"Mbak Dayana!" teriak seseorang yang suaranya tak asing di telingaku. Aku langsung berhenti mengedarkan pandangan mencari pemilik suara itu.


"Eh, Ga. Dari mana lu?" tanyaku saat melihat Irga sudah berada di depanku.


"Wahh ... siapa ini Mbak? Saingan gue?" tanya Irga memperhatikan penampilan Aldo dari atas sampai bawah, "tapi, keknya ini lebih bagus daripada si Arya itu." Irga tersenyum kepada Aldo sedangkan aku melotot karena ucapannya itu.


"Irga!" tekanku dengan merapatkan gigi-gigi.


Dia hanya menampilkan cengengesan saja, sangat menyebalkan.


"Mbak mau ke mana?"


"Mau pulang."


"Gue ikut, ya," pintanya.


"Naik gojek, tapi gojeknya udah pulang."


"Lu ke sini ngapain?" tanyaku menaikkan alis.


"Rencananya mau liat bule-bule seksi Mbak, cuma karena liat lu di sini sama cowok. Jadi, gue mau jadi nyamuk kalian aja deh."


Dengan cepat aku langsung menjewer telinganya, "Masih kecil sok banget liat-liat bule seksi!" amukku dan melepas jeweran telinganya.


"Cuci mata Mbak."


"Cuci mata pake aer! Bukan liat cewek seksi Irga!" bentakku yang frustasi melihat laki-laki di depanku ini.


"Ehem!" dehem Aldo yang membuat pandanganku juga Irga menatap ke arahnya.


"Sudah semakin siang, bentar lagi akan adzan. Lebih baik kita cari masjid atau mushala sekarang."


Aku mengangguk dan mulai berjalan begitu pun dengan Irga, "Om, lu ketemu Mbak di mana?" tanya Irga di sela-sela perjalanan menuju parkiran.


"Gak di mana-mana."


Irga menatap Aldo, aku dapat melihat hal itu karena sekarang aku berada di tengah-tengah para laki-laki ini.


"Gue kek pernah liat lu, deh," kata Irga menyipitkan matanya mengingat wajah Aldo.

__ADS_1


"Iya, yang nolong gue hampir mau jatuh di halte."


"Oh, iya-iya. Berarti cowok ini baik Mbak."


"Tau dari mana?"


"Ya, karena dia pernah nolong lu Mbak. Padahal dia gak kenal siapa lu."


"Hm ... bisa aja kebetulan itu mah."


Kami sudah sampai di depan mobil Aldo, aku memilih duduk di belakang dan Irga di samping pengemudi.


"Om, kita 'kan belum kenalan. Sama gue Irga, tetanggaan dengan Mbak Dayana. Gue calon suaminya di masa depan," ungkap Irga memperkenalkan diri.


Dayana langsung terbatuk mendengar penuturan Irga, "Eh, Mbak kenapa?" tanya Irga dengan wajah sok peduli.


"Lu jan nyebelin Ga, gue gibeng lu lama-lama," sinis Dayana menatap ke arah Irga.


"Saya Aldo," kata Aldo singkat memperkenalkan namanya.


"Kenapa bisa sama Mbak?"


"Kebetulan."


"Oh, bukan ditakdirkan?"


"Bukan."


"Om suka sama Mbak saya?"


"Enggak."


"Cinta?"


"Enggak."


"Janji akan selamanya gak suka dan cinta sama Mbak saya?"


"Irga!" teriak Dayana dengan tangan yang sudah terkepal hingga merah.


"Iya, kenapa Mbak?" tanya Irga menoleh ke arah belakang.


"Lu jan buat gue sampe bikin nilai lu merah, ya," ancam Dayana menatap garang ke arah Irga.


"Ck! Mbak sekarang jadi tukang ngancem, ya? Diajarin anak pemilik sekolah itu?" tanya Irga mengintrogasi.


"Dih, kenapa jadi bahas Arhan?"


"Ya, emang dia 'kan cowok di sekolahan yang suka ngancem karena kedudukan orang tuanya begitu tinggi?"


"Ehem!" dehem Aldo otomatis membuat Dayana dan Irga terdiam, "kalo mau debat, biar saya turunkan di jalan."


"Jadi, Om ngusir kami?" tanya Irga yang tak terima dengan ucapan Aldo.

__ADS_1


"Saya tak mengusir, hanya saja pertengkaran kalian menganggu konsentrasi saya dalam menyetir," kata Aldo melihat sekilas ke arah Irga lalu menatap jalanan lagi.


__ADS_2