
Azan Magrib berkumandang, Irga langsung bangkit dan mengambil sarung juga peci yang sudah kusiapkan tadi. Handphone-nya kulihat dia biarkan di meja begitu saja.
"Mbak gue ke masjid dulu, ya. Assalamualaikum," salamnya dan berjalan.
"Waalaikumsalam," jawabku dan mematikan handphone. Kulihat dia terlebih dahulu keluar dari halaman rumah.
Setelah punggungnya sudah semakin menjauh, aku pun mengambil handphone miliknya juga bangkit dari tempat duduk dan ingin melaksanakan kewajibanku juga.
15 menit telah berlalu, pintu sengaja kututup karena takut ada orang nantinya yang tiba-tiba masuk ketika aku tengah khusyuk bercerita dengan Rabb-ku.
Saat pintu kubuka, sudah ada Irga yang menatap halaman. Mungkin dia bosen karena tak ada handphone, sedangkan mata menangkap kantong kresek yang ada di meja.
"Gojeknya udah datang?" tanyaku dan duduk di depan Irga juga memberikan handphone-nya.
"Udah Mbak," jawab Irga mengambil handphone.
"Gue ngambil piring bentar, ya," kataku yang sudah ingin bangkit.
"Jangan lupa Mbak," ujar Irga yang membuatku menatapnya dengan bingung.
"Apa?"
"Air minum dan juga sendoknya," jelasnya. Oh, iya, aku berkata bahwa hanya mengambil piring saja tanp menyebutkan ingin mengambil kebutuhan yang lainnya.
"Iya 'kan gak harus semuanya juga gue ucapkan kali Ga!"
"Ya, mana tau lu lupa Mbak. Gue cuma mengingat 'kan doang pun."
"Iya-iya."
Kulangkahkan kaki kembali masuk untuk mengambil keperluan makan, setelah kurasa semua pas. Kuletakkan piring dan membuka bungkusan.
Kukasih bagian ke Irga yang belum pernah kumakan dan kuletakkan ke piringku makanan yang sudah pernah kurasa dan kumakan.
Irga tak protes sedikit pun, dia memakan dengan santai dan menikmatinya. Aku memasukkan suapan ke mulut dan melihat Irga yang begitu menikmati.
__ADS_1
'Apakah seenak itu?' batinku yang ternyata ngiler liat Irga.
"Ga?!" panggilku karena laki-laki itu tak kunjung melihat ke arahku yang sudah menatap dirinya dari tadi.
"Apa Mbak?" tanya Irga yang menyuap makanan ke mulutnya menggunakan tangan. Bagaimana tak tergoda? Melihat Irga yang semula menggunakan sendok tiba-tiba menjadi menggunakan tangan.
Pasti membuat semua orang berpikir bahwa sebegitu enaknya kah makanan dia, "Nyicip dong," rayuku dengan suara sedikit pelan karena sebenarnya malu.
Irga mengumpulkan nasi dan memberi lauk-pauk di atasnya, "Aaa ...," kata Irga kala menyuapi Dayana.
Melihat tangan Irga mengarah ke mulutku, aku pun langsung membuka mulut tanpa menolak sedikit pun. Entah mengapa, seharusnya bukankah aku menolak?
Tapi, karena aku sudah terlanjur kepo sama rasanya. Jadi, yasudahlah tak apa salahnya sesekali mengikuti keinginan bocil di depanku.
"Gimana, enak 'kan?" tanya Irga mengisi nasi yang sudah habis di dalam mulutnya.
Aku hanya mengangguk membenarkan pernyataan Irga, memang enak ternyata makanan itu. Aku kira rasanya bakal aneh ternyata lebih enak dari yang kubeli.
Kuambil piring Irga yang ada di meja dan segera kuganti dengan piringku yang sebenarnya masih lebih banyak daripada milik Irga.
Sang empu kulihat menatap dengan wajah datar kala piringnya kutukar, "Yah, Mbak! Kok di ganti sih?" tanya Irga yang tak terima. Ya, pastinya tak terima siapa juga yang mau makanan yang tengah ia makan malah diganti.
"Lagian, kamu 'kan masih kecil perlu banyak asupan makanan. Bagus tuh, punya kamu ini udah mau habis jadi kamu makan yang masih banyak aja," sambungku lagi dan Irga kulihat hanya mengomat-ngamit mengucapkan ucapanku kembali.
Menyebalkan! Tapi, aku juga sama sih wkwkwk. Setelah makanan telah selesai, kami pun minum air putih terlebih dahulu baru minum-minuman yang kupesan.
Saat mulai kuminum punyaku, mataku langsung menyipit ternyata ini masam! Kulihat minuman Irga, "Ha? Udah habis?" tanyaku kaget kala melihat cup miliknya telah kosong.
"Sengaja! Biar gak Mbak tukar lagi," gerutunya dengan wajar tersenyum puas.
Mau tak mau minuman yang masam ini tetap kuminum, kubereskan piring juga gelas dan masuk ke dalam. Irga membuang bungkusan yang ada ke tong sampah.
Sebelum kembali ke depan dan menemani Irga yang menunggu Arum pulang, kuambil laptop di dalam kamar untuk mengerjakan tugas kantor yang ada.
Irga sudah kembali memiringkan handphone-nya membuatku hanya bergeleng-geleng saja, anak itu ternyata tak bisa dibilangin. Biarlah, biar dia tak menggangguku mengerjakan tugas.
__ADS_1
Saat aku dan Irga fokus pada aktivitas masing-masing, tetiba ada kurir yang datang dan membuat kami memasang wajah bingung.
"Permisi, apa benar ini rumah Mbak Dayana?" tanya kurir dengan ramah dan memegang kresek berwarna putih yang bertuliskan 'ramah lingkungan'
"Iya, saya sendiri. Ada apa ya Pak?" tanyaku dan bangkit berjalan mendekat ke arah kurir sedangkan Irga hanya memperhatikan kami saja.
"Ini, ada pesanan dari akun seseorang Mbak," kata kurir menyerahkan kresek. Kulihat isinya ternyata ada bermacam-macam snack di dalamnya.
"Tapi, saya gak ada mesen Pak. Ini dari siapa?" tanyaku yang memang tak ada memesan. Tak mungkin jika Irga yang pesan sedangkan dari tadi dia sibuk dengan game onlinnya itu.
"Gak tau Mbak, soalnya pake akun fake tapi udah transfer kok dia. Kalo gitu saya permisi Mbak, mari!" seru kurir dengan ramah dah pergi keluar dari halamanku.
Aku meletakkan bungkusan kresek dan langsung mengambil handphone di kamar, melihat apakah ada pesan dari seseorang yang memberikan snack ini.
[Biar ada yang nemenin kamu ngerjain tugas] pesan dari seseorang masuk ke dalam aplikasi hijau milikku, nomor yang tak di save dan segera kulihat foto profil pada nomornya.
"Dih, dari mana dia tau nomorku?" tanyaku yang kesal dan langsung blok nomor laki-laki yang baru sehari menjadi rekan kerja.
"Baru sehari aja tingkahnya udah aneh-aneh, apalagi; seminggu, sebulan atau setahun nanti?" tanyaku yang frustasi melihat tingkah laku Arya.
Kukembalikan handphone ke nakas dan berjalan kembali keluar berniat untuk membungkus snack tadi kembali dan akan diberikan pada Arya besok pagi begitu sampai di kantor.
Ketika sampai di teras, aku terkejut kala melihat dua bungkus snack sudah habis dibuat oleh makhluk ciptaan Tuhan ini.
"Astaghfirullah Irga!" teriakku yang emosi dengan tingkahnya.
Dia menatapku dengan tangan yang masih memegang snack yang ingin dimasukkan ke mulut, "Kenapa di makan?" tanyaku melanjutkan kalimat tadi.
"Dari si cowok tadi sore 'kan?" tanya Irga yang langsung benar.
Kutautkan alisku, "Dari mana lu tau?" tanyaku dan menjatuhkan diri di kursi yang tadi.
"Orang modus, ya, gini. Capernya bawain makanan, caper kok bawa makanan bawa mahar dong biar pro!" protes Irga yang aku tak tahu apakah dia cemburu atau malah benaran ingin agar Arya bawa mahar juga keluarga besarnya ke rumahku.
"Dih, beneran bawa mahar dia baru tau rasa lu," cakapku begitu saja dan mulai mengetik tugas-tugas yang ada.
__ADS_1
"Emangnya Mbak mau sama dia?" tanya Irga dan mendekatkan wajahnya di atas laptopku dengan wajah serius. Aku langsung melihat wajah itu.
"Tergantung," jawabku dan memalingkan kembali wajah ke layar laptop milikku dengan tersenyum.