Cuma Angka

Cuma Angka
Siapa Dia?


__ADS_3

Matahari mulai menunjukkan pesonanya, Dayana telah bersiap-siap untuk kembali mengajar. Sedikit polesan lipstik di bibir pink itu, dia telah siap untuk aktivitas hari ini.


"Good morning, Ma ... Pa!" sapa Dayana meletakkan tas ke meja makan.


"Morning, Sayang," jawab Papa yang sudah rapi.


"Papa mau ke mana?" tanya Dayana dan duduk di samping Papa.


"Mau kerjalah, Mama juga katanya mau arisan. Masa, Papa sendirian di sini."


"Ya, emangnya kenapa?"


"Takut dong si Papa mah, takut di gondol wewe gombel!" hina Mama yang membuat Papa menatap tajam sedangkan Dayana tertawa.


Mama ikut duduk, aku mulai mengoleskan selai di roti tawar. Mama sudah menyiapkan kopi untuk Papa, susu cokelat untukku dan teh untuk Mama.


"Oh, iya Yana. Mama mau nanya sesuatu sama kamu," ucap Mama serius.


"Apa Ma?" tanya Dayana memasukkan roti ke dalam mulutnya yang sudah berisi selai.


"Kamu ... gak ada pacar 'kan?" tanya Mama dengan tatapan serius.


"Uhuk!" Aku tersedak kala mendengar pertanyaan Mama. Kenapa sepagi ini yang dibahas masalah seperti itu, sih?


Mama dengan cepat memberikan susu milikku yang ada di dalam gelas tadi, kutenguk hingga tersisa separuh gelas.


"Kamu hati-hatilah," peringat Mama yang mungkin merasa kesian dengan wajahku yang pastinya merah.


"Lagian, Mama ada-ada aja. Masa nanya masalah pacar sepagi ini," kesalku memajukan bibir.


"Mama serius, Yana."


"Ma ... Yana masih muda, jangan kayak Yana gak akan laku aja deh!"


"Apa salahnya kalau bertemu atau kenalan dulu?"


"Itu sama aja, akan ada hati yang berharap setelah pertemuan itu. Kalau bukan antara kami berdua, ya, salah satu orang tua. Ma ... Yana akan mencari kalah Yana udah siap untuk nikah." Aku berdiri dan segera meraih punggung tangan kedua orang tuaku.


Meskipun aku rada kesal, bagaimana pun mereka tetap orang tuaku yang harus aku hormati. Kukecup punggung tangannya dan melangkah pergi.


Di jalan menuju halte aku menunduk, entahlah rasanya Mama terlalu berlebihan padaku. Toh, aku sendiri bukan karena belum bisa melupakan Andi.


Namun, aku yang belum mau kembali di kekang dalam suatu hubungan. Aku menyukai kehidupanku yang sekarang, bebas dari aturan orang lain.


"Mbak, cari apa?"


"Cari duit gopek!" jawabku asal dan melihat orang yang ada di sampingku kini.

__ADS_1


"Dapat?"


"Enggak, diambil tikus paling."


"Lagian, serius banget natap jalannya. Sampe gue panggil gak denger-denger."


"Iya, nih. Rada budeg akibat denger konser tunggal lu yang jelek itu," kataku dengan tertawa sedangkan Irga malah mendatarkan wajahnya.


"Mana ada jelek!" ketusnya dengan wajah cemberut.


"Hahaha, iya-iya. Gak jelek, kok. Bangus banget!"


"Mbak kenapa? Dimarahi Papa tadi malam, ya, setelah gue pulang dari rumah?" tanya Irga menatap wajahku.


Kuberikan senyuman dan menggeleng pelan, "Enggak, kok. Lagian, ada benernya juga kata Papa kemarin malam. Udah, gak usah kamu pikirkan kata Papa."


"Hmm ... emang kata Papa juga bener, sih Mbak."


Kami telah sampai di halte, ada beberapa orang yang juga menunggu bus di situ hingga kami tak kedapatan bangku.


"Kaki Mbak udah sembuh?" tanya Irga menatap ke arah kakiku yang tertutup kaos kaki juga sepatu pansus.


"Alhamdulillah, udah kok."


"Bagus, deh. Jadi, ntar kita bisa kejar-kejaran lagi sama angsa."


"Haha, yuk, Mbak. Udah datang tuh busnya." Aku mengangguk, Irga naik lebih dulu ke dalam bus. Aku sedikit mengalah dengan penumpang yang lain.


Hingga ternyata tubuhku terdorong ke belakang, "Mbak!" teriak Irga saat melihat tubuhku tak seimbang. Namun, untuk membantu pun tak bisa akibat pintu masuk sudah dipenuhi penumpang.


Bughhh


Degg


Seseorang menangkap tubuhku membuat pandangan kami bertemu, tangannya menahan punggungku agar tak jatuh ke trotoar.


Aku menatap matanya juga wajahnya, 'Tampan,' batinku melihat laki-laki yang menggunakan kacamata juga baju serba hitam itu.


"Mbak!" seru Irga yang membuat aku dan dia tersadar. Dia langsung menegapkan tubuhku agar tak jatuh, aku mulai mengerjapkan mata dan men-stabilkan degub jantung.


"Ma-makasih, ya, Kak," kataku dengan terbata-bata dan merapikan pakaian. Dia hanya membalas dengan anggukan dan pergi begitu saja.


"Dih, dasar! Bukannya jawab sama-sama atau apa kek. Ini malah diam aja!" kesalku menatap punggungnya yang sudah semakin menjauh.


'Gue tarik lagi ucapan gue yang ngatain lu tampan!' batinku menggerutu.


Tit ...!

__ADS_1


Suara klakson bus membuat aku dan Irga terperanjat menatap ke arah supir bus, "Jadi naik apa kagak lu? Mau jalan, nih!"


"Sabar kali Pak!" ketusku dan menaiki tangga bus, "besok-besok buat pintunya sebesar pintu mall Pak! Biar orang gak jatuh-jatuhan!" saranku ketika melewatinya.


Mau tak mau kami harus berdiri dengan berpegangan, tak ada lagi bangku yang kosong. Biasanya, aku dan Irga pasti dapat bangku.


Karena terlalu ramai dan ada peristiwa tadi, jadinya tak kedapatan deh. Tapi, tak apa setidaknya aku masih muda.


Masih kuat untuk berdiri, kulihat ada seorang nenek-nenek yang berdiri. Tak ada satu pun orang yang mau memberikan bangkunya pada nenek tersebut.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala, tak lama kami sudah sampai di tempat tujuan, "Lain kali, atur orang yang duduk Pak! Jangan yang masih muda aja ogah-ogahan berbagi!" ketusku sambil scan kartu.


Irga hanya menatap ke arah tempat duduk, dia mengerti sekarang apa maksudku yang sudah turun dari bus.


"Mbak kenapa marah-marah mulu, dah? Masih PMS?" tanya Irga berjalan di sampingku.


"Enggak, hanya saja kesel liat manusia yang gak peduli sama sekitar. Kek, gak punya rasa iba dengan orang lain," ungkapku menjelaskan isi hati yang kesel.


"Ya, kita 'kan gak bisa membuat isi kepala orang itu sama Mbak. Mungkin, Mbak bisa merelakan bangku Mbak ke orang lain sedangkan dia gak bisa dengan iming-iming dia 'kan bayar."


"Mangkanya itu, zaman sekarang orang sudah langka memiliki good atituted, selalu saja good looking yang ingin diraih."


"Hmm ... begitulah, Mbak."


"Yaudah, gue duluan masuk Ga."


"Oke, Mbak. Nanti, mau ke kantin bareng, ga?" tanya Irga berdiri di depanku. Sedangkan aku berdiri di ambang pintu kantor guru.


"Boleh, deh. Lagian, Mama tadi gak buat bekal."


"Tumben, kenapa?"


"Mau pergi soalnya."


"Oh, yaudah Mbak. Irga duluan, ya."


"Iya."


Kubuang nafas pelan dan duduk di bangku yang sudah kutepuk-tepuk, takut jika ada debu atau lainya yang nantinya malah akan lengket di baju gamisku.


Ya, aku sekarang tengah menggunakan baju gamis berwarna mustard dengan kerudung segiempat berwarna hitam.


Kuambil buku pelajaran untuk kelas Irga, kubaca juga kutulis note yang akan kujabarkan dengan fokus di materi itu.


Guru satu per satu berdatangan, "Gak paham deh Buk Tuti, anak-anak itu entah kenapa semakin lama semakin bandel. Kemarin, saya dikerjain dengan ular-ularan. Paling, bentar lagi dia akan datang memelas dengan kalimat dia cuma bercanda." Cerita dua orang guru yang baru saja masuk menjadi perhatianku.


Aku tak langsung menatap ke arah guru itu atau bertanya, kubiarkan saja mereka berbicara dengan tangan yang tetap menulis di note kecil.

__ADS_1


'Yang mana, ya, anaknya?' batinku bertanya tentang sosok anak jahil tersebut.


__ADS_2