
Hari ketiga aku bekerja di sekolah, sebentar lagi masa kerja ini akan selesai. Di ruang guru, aku dan Arhan tengah berdiskusi.
Segala nilainya mulai membaik dengan seiring waktu, dia juga tak ada lago cabut. Entah karena masih jam pagi.
"Kamu mau berubah?" tanyaku tiba-tiba padanya.
"Berubah jadi apa?" tanya Arhan meletakkan pulpennya di buku.
"Jadi orang yang lebih baik lagi."
"Apakah setelah aku baik, Papa bisa meluangkan waktunya untuk bermain dan mendengarkan ceritaku?"
Aku diam lebih dulu, salah menjawab pertanyaan atau membuat dia melawan saja aku bisa kalah dan dia akan semakin melawan.
"Semua orang punya kesibukan, kamu gak bisa paksakan seseorang untuk selalu ada dan mendengarkan semua keluh-kesah kamu. Lagian, kamu juga akan tau nantinya apa sebab Papa sibuk seperti ini."
"Ya, untuk masa depan yang tak aku butuhkan!" timpal Arhan menatap bukunya. Kulihat, ada air mata yang menetes dan membuat basah bukunya.
"Kenapa berkata bahwa kau tak butuh masa depan? Semua orang butuh masa depan termasuk kau. Apakah kau ingin hidup dalam kesusahan yang tak berkesudahan?"
"Buk Yana tak akan ngerti," cibirnya dengan menaikkan satu bibirnya.
"Mangkanya kasih tau saya," kataku menatap dirinya.
"Aku itu butuh pendengar, aku butuh ditanya hari ini kamu kenapa? Hari ini ada apa dan lainnya. Namun, Mama dan Papa selalu saja sibuk dengan dunia mereka. Apa mereka pikir kalo mereka mati dunia ini akan mendoakan mereka? Apa mereka lupa bahwa doa anak sholeh yang bisa membantu mereka dari siksaan api neraka?" tanya Arhan dengan menggebu-gebu.
Aku mengangguk paham akan masalah dan keinginan Arhan, kubiarkan anak tersebut mencurahkan isi hatinya.
"Aku buat kesalahan selalu mereka meluangkan waktu untuk memarahi, membentak dan saling bertengkar satu dengan yang lain. Giliran aku berprestasi, apa mereka peduli? Mengucapkan selamat atau menemani saya mereka gak mau!" bentak Arhan. Mata anak tersebut sudah merah dan menahan air mata yang sudah terbendung.
Dia diam, membenam wajahnya dengan bertumpu tangan. Kuusap pelan rambut laki-laki itu dengan tersenyum.
__ADS_1
"Sudah?" tanyaku lembut. Aku masih menunggu dirinya mengeluarkan apa yang ada di hatinya saat ini. Aku ingin melihat seberapa sakit rasa yang dia pendam.
Arhan mendongak, "Buk Yana, maafin saya kalo tadi ngebentak Ibuk," ucapannya menatap ke arahku.
Aku mengangguk dan tersenyum, "Gak papa, kok. Saya tau rasanya jadi kamu, terkadang emang seorang anak dan orang tua sangat butun yang namanya komunikasi. Namun, sedikit dari orang tua itu yang menyadari hal tersebut."
"Saya gak minta mereka beri saya kehidupan yang mewah, saya gak minta mereka melakukan segalanya seperti sekarang. Saya cuma minta mereka bisa bertanya setidaknya, 'How are you?' itu saja."
"Arhan. Kamu tau gak? Kalo orang tua itu pun masih terus belajar dan belajar untuk menjadi orang tua, kamu gak bisa berharap dengan keinginan kamu kalau orang tua itu harus begini dan begini. Kamu gak bisa seperti itu Nak, orang tua adalah peran yang paling sulit dilakukan karena itu mereka harus belajar lebih setiap harinya," jelasku dengan penuh kesabaran juga hati-hati.
"Yaudah, seharusnya mereka gak usah jadi sok orang tua kalo gitu. Gak usah punya anak!" ketus Arhan yang berdiri.
Aku langsung refleks berdiri dan mencekal tangan Arhan, "Maafin Papa, Nak," ucap seseorang yang baru datang.
Kami langsung melihat ke arah suara, aku yak mengenal dia siapa. Cuma dari kalimatnya, bisa kutebak bahwa dia adalah Papa Arha.
Kulepas kembali cekalan dan menatap ke dua orang yang kini ada di depanku, Arhan masih membuang wajahnya ke sembarang arah.
Arahan tak menyahut apa-apa, dia pun tatap tak melihat ke arah Papanya, "Allah aja pemaaf kepada hamba-Nya. Masa, kamu gak mau maafin Papa kamu, sih?" timpalku agar meyakinkan Arhan.
"Lagian, setiap manusia juga punya salah termasuk kamu. Kamu juga mungkin punya salah dan bisa jadi malah banyak dengan orang tua kamu," sambungku dan membuat Arhan menautkan alisnya pertanda marah.
Aku terkekeh melihat ke arahnya, "Lah, kenapa?" tanyaku yang merasa tak ada kataku yang salah.
"Gak usah langsung bawa-bawa Allah, ngerasa gak pantas marah jadinya saya Buk," kesal Arhan. Perlahan, dirinya mulai menatap ke arah Papanya yang hanya memperhatikan kami saja.
"Arhan maafin Papa, kok. Maafin Arhan juga yang egois, ingin selalu dimengerti Papa padahal Arhan sendiri pun gak pernah ngertiin Papa."
Papa Arhan merentangkan tangannya, Arhan langsung berhambur ke dalam pelukan Papanya. Sedangkan aku hanya tersenyum menatap ke dua orang yang akhirnya bisa saling mengerti keinginan satu dengan yang lain.
Setelah pelukan terlepas, aku langsung menatap ke arah Papa Arhan, "Bapak kok bisa denger pembicaraan kita?" tanyaku yang penasaran.
__ADS_1
"Iya, Buk Ani yang ngasih tau kalo Arhan lagi berdua dengan kamu di ruang guru. Mangkanya saya langsung ke sini. Tadinya saya langsung mau masuk, karena mendengar Arhan membentak kamu saya jadi berhenti dan mendengar apa sebabnya dia membentak kamu," ungkap Papa Arhan mengelus kepala anaknya.
"Kamu udah minta maaf, Boy?" sambung Papa Arhan menatap ke wajah anaknya.
"Oh, iya. Maafin saya Buk karena bentak Ibu tadi," kata Arhan dengan tak enak.
"Gak papa, tadi kamu juga udah minta maaf. Jadilah anak yang berprestasi dan mampu memahami, jika kau ingin dipahami maka ucapkan dengan kalimat yang baik. Oke?"
"Oke, Buk. Makasih."
Aku tersenyum seraya mengangguk, "Sama-sama."
"Oh, ya. Kamu sudah makan, Boy?" tanya Papa Arhan dan langsung diberikan gelengan. Memang, dirinya belum makan karena mau langsung menyelesaikan tugas yang belum dia buat.
"Yaudah, belajarnya sudah selesai?" tanya Papa menatap ke arahku.
"Sudah Pak, tinggal saya koreksi saja kok."
"Yaudah kalau gitu, kita ke kantin?"
"Bapak sama Arhan saja, saya masih ada tugas yang lain. Lagian, bawa bekal tadi dari rumah," tolakku.
"Baiklah kalau gitu, kami ke kantin dulu, ya," pamit Papa Arhan memegang bahu anaknya.
"Permisi, Buk," pamit Arhan dan berbalik. Mereka keluar dari ruangan dengan tangan Papa Arhan yang tak juga turun dari bahu anaknya itu.
Saat aku tengah menatap serius ke arah punggung kedua orang yang semakin menjauh, tiba-tiba saja seseorang datang.
"Dor!" teriaknya yang membuat aku kaget sampai memegang dada.
"Ih, paan sih lu Ga!" ketusku memukul bahunya pelan.
__ADS_1
"Hahaha, lagian Mbak fokus banget natap mereka. Kenapa? Pen punya suami kayak Papanya Arhan?" tanya Irga menaik-turunkan alisnya.