
"Assalamualaikum," salam orang yang ada di luar membuat gelak tawa Dayana berhenti dengan memegang perut.
Ia berjalan ke arah pintu melihat siapa yang datang, "Waalaikumsalam," jawabnya dan melihat orang yang ada di depannya.
"Mbak, Mama sama Papa ada? Irga mau minta izin dulu," kata Irga.
Dayana yang melihat penampilan Irga mengerjapkan matanya, "Ini beneran lu?"
"Kenapa Mbak? Ganteng 'kan?" tanya Irga dengan percaya diri.
"Dih, geer beut lu!" ketus Dayana dan membuka pintu dengan lebar menyuruh Irga masuk.
Irga melepas sepatunya dan berjalan mendekati ruang keluarga, di sofa sudah ada Mama juga Papa yang masih asyik menonton televisi.
"Assalamualaikum Om dan Tante."
"Waalaikumsalam Irga," jawab mereka serentak dan melihat ke arah Irga.
Irga duduk di kursi yang kosong, "Irga mau izin bawa Mbak Yana pergi sebentar, Om dan Tante. Boleh?" tanya Irga dengan nada serius.
"Boleh, kok. Asalkan pulangnya jangan malam-malam, ya, kamu juga besok haru sekolah," peringat Papa tersenyum menatap Irga.
"Iya, Om. Kalau begitu Irga sama Mbak Yana pamit dulu, ya, assalamualaikum."
Mereka bergantian menyalim tangan kedua orang tersebut, setelah selesai Irga kembali menggunakan sepatunya.
Dirinya menaiki kuda besi berwarna hitam, "Mbak, sini! Biar gue pasangin helm," kata Irga melihat Dayana yang masih terpaku.
"Gue bisa sendiri." Dayana mengambil helm dari tangan Irga dan memasangnya di kepalanya.
Irga menurunkan pijakan motor dan menatap ke depan, menunggu Dayana naik ke jok belakang, "Udah Mbak?" tanya Irga memastikan.
"Udah."
Motor keluar dari halaman rumah Dayana, di perjalanan mereka belum ada membuka suara. Dayana sedikit kesusahan jika menggunakan moge (motor gede) seperti ini.
Karena, bingung harus pegangan ke mana sedangkan kebanyakanya moge pasti bisa jadi tiba-tiba kencang dan tiba-tiba sangat pelan.
"Kita mau ke mana Ga?" tanya Dayana dengan sedikit teriak.
"Ke cafe Mbak."
"Ngapain?"
__ADS_1
"Ngamen."
"Dih nih orang! Gak ada serius-seriusnya."
"Mbak emang gak bosen, ya? Di kamar dan di rumah mulu. Sesekali jalan-jalan Mbak, healing atau hiking gitu. Atau ... Mbak emang sengaja, ya? Nunggu gue ajak baru mau?" tanya Irga sambil melihat ke arah spion yang ditepatkan ke wajah Dayana.
"Kamu 'kan tau saya tuh gak punya temen, jadi gimana caranya saya mau jalan-jalan? Saya gak tau jalan dan gak punya temen, gak mungkin dong bisa jalan-jalan yang ada tuh bisa kesasar," ungkap Dayana alasannya enggan pergi-pergi.
"Lagian juga, wanita 'kan lebih baik di rumah. Jika tak ada kepentingan yang mendesak maka ada baiknya di rumah aja," sambung Dayana dan membuat Irga mengangguk.
"Tapi 'kan masih muda lu Mbak, nikmati hidup untuk melihat ciptaan-Nya agar lu makin bersyukur pun agar lu bisa tau oh di sini ada wisata ini, ya? Ntar gitu dah kata lu."
"Iya, sih. Tapi 'kan balik lagi. Temen gue tuh gak ada."
"Ehem! Yaudah, ntar gue aja yang nemenin Mbak. Mbak, mau ke mana?"
"Hmm ... mendaki kayaknya seru, ya?"
"Tergantung Mbak."
"Tergantung apanya?" tanya Dayana sedikit menaruh kepalanya di pundak Irga agar dapat menatap wajah Irga meskipun hanya sedikit.
"Kalau cuaca bagus dan gak hujan mah emang enak, jadi jalanan buat ke atas itu gak licin."
"Ya, baca-baca di insternet Mbak."
Dayana hanya mengangguk, "Masih lama sampenya?"
"Bentar lagi, Mbak. Sabar, ya." Irga kembali menaikkan kecepatan motor yang membuat Dayana refleks memegang jaket laki-laki di depannya ini.
'Nih berondong emang gak ada akhlak!' batin Dayana menggerutu.
30 menit berlalu akhirnya motor Irga memasuki kawasan parkiran cafe, Dayana turun dan menyerahkan helm kepada Irga yang masih duduk.
Dia mengedarkan pandangannya menatap parkiran yang hampir penuh, "Ada apa di dalam Ga? Kok rame banget pengunjungnya?" tanya Dayana sambil memperbaiki kerudung.
"Ada live music doang Mbak," kata Irga membuka helm dan merapikan rambutnya. Ia mengambil kunci dan memasang masker.
Ketika mereka tengah berjalan ke dalam, Irga berhenti menatap Dayana sebentar. Wanita yang di tatap menaikkan sebelah alisnya.
"Mbak kalo di dalam nanti rame banget, pegang jaket gue, ya. Biar jangan ilang, ntar," perintah Irga yang langsung diangguki Dayana.
Mungkin, jika ada yang melihat wajahnya saat ini. Pasti akan merasa bahwa wajahnya seperti orang bo doh. Namun, emang itulah yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
Bukan mengapa, heran saja biasanya tak sampai seramai ini isi parkiran di cafe tersebut. Dirinya pun kadang suka bermain di cafe ini sendirian sambil membawa pekerjaan.
Duduk di salah satu meja yang memang sangat dekat dengan panggung, Dayana mengerutkan keningnya, "Ga, ini keknya udah disiapin, ya mejanya buat kita?" tany Dayana melihat meja yang lainnya penuh dan agak jauh dari panggung.
"Begitulah Mbak."
"Emangnya yang mau nyanyi siapa?"
"Sepupu Irga."
"Hay, Guys!" seru suara wanita membuat Dayana dan Irga menoleh menatap suara itu.
"Eh, hay Mbak Zahra."
Irga berdiri mengulurkan tangan diikuti Dayana yang juga berdiri dengan wajah yang dipaksa tersenyum.
"Kalian sudah lama sampai?" tanya Zahra dan malah duduk di bangku yang kosong tepat di depan Dayana.
Satu meja terdiri atas empat bangku yang saling berhadapan, "Enggak Mbak, baru sampe kok," jawab Irga dan akhirnya mereka duduk semuanya.
"Tunangan Mbak mana?" sambung Irga menatap ke arah kerumunan orang. Mana tahu, tunangan Mbaknya ini masih ada di dalam mobil atau di mana saja.
"Iya, bentar lagi dia akan datang, kok. Lagi kena macet mungkin."
"Oh, kena macet," jawab Irga sambil mengangguk.
Dayana hanya diam, dirinya pun sebenarnya sangat ingin pulang ketika tahu bahwa di sini ada Zahra yang pastinya akan ada Andi juga nantinya.
"Mbak. Mbak mau makan apa?" tanya Irga menoleh ke arah Dayana dengan senyum manisnya.
"Hmm ... apa aja, terserah kamu aja Ga."
"Desert mau? Atau ... salad buah? Hmm ... kayaknya jangan, deh," papar Irga dengan wajah yang menatap Dayana lekat.
"Kamu ini gak jelas banget Ga! Tadi nawarin ini malah gak jadi!" ketus Dayana memajukan bibirnya.
"Ya, habisnya. Mbak tuh udah manis dan cakep, ntar kalo ditambah yang manis-manis lagi tambah bahaya. Bisa-bisa ada laki-laki asing yang gak bisa tidur akibat Mbak lagi," goda Irga dengan ujung matanya melirik ke arah Andi yang baru datang dan masih berdiri di sisi kiri meja.
"Uhuk!" Zahra tersedak ludahnya sendiri mendengar gombalan dari Irga, dengan cepat Andi yang memang ada di samping wanita itu mengelus punggung yang di atasnya ada rambut panjang itu.
"Eh, kenapa Mbak Zahra? Padahal belum ada makanan atau minuman, lho. Kok bisa tersedak?" tanya Irga yang tersenyum dan akhirnya membuka maskernya.
'Dasar si Bocil! Ternyata memang mau manasi Zahra mangkanya ngajak gue, gitu? Bwahaha, oke Ga gue akan ikutin main lu,' batin Dayana dengan senyuman menyungging
__ADS_1