
Hari ini, hari terakhir aku mengajar di sekolah Irga. Entah kenapa, rasanya sangat malas untuk berpisah dari mereka.
Aku yang dulunya menolak untuk menggantikan tugas Papa di sini malah jadi betah di sini, kutatap lekat wajahku dari pantulan cermin.
Mencoba untuk tersenyum dan tak akan ada adegan air mata yang jatuh meskipun rasanya itu agak susah dilakukan nantinya.
Kubuang napas kasar dan bangkit dari tempat duduk, mengambil tas ransel dan berjalan keluar kamar menuju dapur.
"Good morning, Mama dan Papa," sapaku yang melihat Papa dan Mama yang sudah sarapan.
"Good morning juga Yana," balas Papa sedangkan Mama memang sangat jarang membalas jika ada Papa di situ.
Aku memilih duduk dan mengoleskan selai cokelat ke roti milikku, "Hari terakhir, ya, Yana?" tanya Papa melihat ke arahku.
Anggukan dan senyuman yang dapat kuberikan, "Gimana, seneng 'kan jadi guru? Apalagi kalau yang kita ajari bisa menggapai sesuatu hal yang kita yakini dia bisa menggapai hal itu," jelas Papa yang memang sudah berpengalaman jauh daripada aku.
"Iya, Pa. Rasanya bahagia banget kalo liat orang yang di cap orang lain gak bisa sedangkan karena kita dia bisa mematahkan cap-an buruk orang-orang," kataku memasukkan roti ke dalam mulut.
Papa pun kembali mengangguk dengan pakaian dinasnya itu, aku pamit lebih dulu karena katanya emang akan ada upacara untuk pelepasan aku juga anak kelas 12 yang akan PKL nantinya.
Yang penting aku sudah sarapan, karena tak ingin aja kejadian guru yang pingsan apalagi waktu zaman sekolah aku tak pernah pingsan.
Masa, pas udah setua ini mau pingsan. Malu aku, tuh. Tak lupa menyalim punggung kedua orang tua yang kusayangi.
Aku tak ke halte, melainkan sudah ada gojek yang kupesan. Tahu akan upacara, tak mau menambah letih nantinya dengan berdesak-desakan di bus.
'Irga ke mana, ya? Rumahnya juga keliatan kosong, apa mereka masih menemani Zahra? Oh, iya, Zahra gimana kabarnya, ya? Apa dia baik-baik aja?' batinku yang penuh dengan tanda tanya.
Karena memang, rumah Irga sekarang lebih sering terlihat tertutup. Kata Mama juga sempat dua hari yang lalu ada truk yang membawa barang-barang dari rumah Irga.
__ADS_1
"Pak, saya boleh nelpon?" tanyaku ke sopir gojek. Bukan apa, aku takut jika suaraku menganggu konsentrasi dia. Itu sebabnya, aku selalu bertanya terlebih dahulu.
"Boleh, Mbak," kata sopir dengan suara yang sayup-sayup akibat angin.
Kulepas sebelah tali ransel dan mengambil handphone yang ada di dalamnya, kucari nama Irga. Bahkan, dia tak ada mengirim pesan padaku.
"Halo, ada apa Mbak?" tanya Irga saat telepon tersambung.
"Lu di mana Ga?" tanyaku dengan nada agak pelan, takut juga kalau sopir terganggu.
"Di sekolah, Mbak. Mbak di mana?"
"Di jalan, mau ke sekolah. Kenapa rumah lu sepi, lu nginep tempat Zahra?"
"Iya, Mbak. Buat nemenin dia, kesian soalnya."
"Berapa lama?"
Aku yang mendengar jawaban dari dirinya langsung menepuk jidat, 'Salah pertanyaan, nih, gue,' batinku merutuki diri.
"Yaudah, gue matiin Ga. Udah mau sampe soalnya!" ketusku yang tak ingin jika dia malah semakin menjadi-jadi menggoda.
"Iya, Mbak. Sampai ketemu di sekolah, ya, Ayang," kata Irga mematikan panggilan lebih dulu.
Kalimat terakhirnya sontak membuat aku membulatkan mata dan sudah ingin ngamuk dengannya. Cuma, karena dia yang lebih pintar mematikan panggilan lebih dulu.
Kubuang napas perlahan dan mencoba tersenyum karena kekesalan yang tak keluar ini. Masa, harus kulampiaskan ke sopir.
Helm kulepas dan serahkan ke pemiliknya kembali tak lupa memberi ongkos sesuai aplikasi. Aku memasuki gerbang sekolah.
__ADS_1
Beberapa murid menyapaku dengan badan sesekali di bungkukkan, tak lupa aku pun membalas hal yang serupa.
"Buk, Yana!" teriak seseorang yang berada di belakang memanggil namaku. Aku berhenti dan langsung melihat ke sumber suara.
Arhan. Berlari menghampiri aku, dengan wajah yang sendu meskipun dirinya berusaha menutupi itu. Namun, aku dapat melihat dari matanya.
"Buk, kenapa gak minta jadi guru tetap aja di sini?" tanya Arhan tanpa basa-basi menanya kabarku atau apa lebih dulu.
Aku yang masih mencoba agar bulir bening tak hadir, dengan terpaksa tersenyum, "Hay, Arhan. How are you, today?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Gue bisa bantu lo kok Buk kalo emang mau netap di sini, lo tau gak Buk? Cuma lo guru yang gak mandang rendah gue! Cuma lo yang gak mandang gue sebagai anak nakal! Cuma lo yang mau membantu gue di saat guru-guru lain acuh sama gue dengan dalih 'biarin aja dia, kalo nilainya jelek juga tetap akan punya masa depan' Tapi, ketika lo datang Buk. Semuanya berubah, gue jadi lebih terarah dan sekarang, lo juga akan pergi ninggalin gue?" tanya Arhan dengan suara lirih. Aku melihat ke sekitar, ada beberapa pasang mata menatap ke arah kami tak lupa juga seorang guru dan ... di ujung kulihat Papa Arhan menatap ke arah kami juga.
"Arhan ... kamu tau? Gak semua yang hadir akan kekal 'kan? Seperti yang saya bilang tempo waktu saat di kelas. Bahwa, orang yang ada di sisi kita bisa jadi sewaktu-waktu pergi tanpa kita ketahui alasannya. Jadi ...."
"Dan seharusnya, lo bilang kalo lo mau pergi Buk! Gue gak akan sesakit dan sesedih ini jadinya!" potong Arhan dan pergi meninggalkanku begitu saja.
Aku terdiam mendengar ucapannya itu, kututup mataku membiarkan air mata mengalir dan dengan cepat menghapusnya.
Berbalik dan mengejar Arhan, aku harus menenangkan dia dan memberi tahu kepadanya. Tak mungkin kubiarkan dia sendirian saat ini.
Di taman, ya, laki-laki itu ada di taman dengan suara isakan terdengar di telingaku. Aku mendekat dan duduk di sampingnya sembari memberikan tisue.
"Padahal, dulu sebelum masuk ke sini juga udah diumumkan oleh Pak Wahyu bahwa saya akan seminggu doang di sini, hahaha," ucapku membuka obrolan.
"Tapi ... mungkin kamu gak dengar atau gak mau tau akan hal itu, karena menurut kamu saya pasti guru yang sama dengan guru-guru yang lain," sambungku menatap ke arahnya.
Kutarik napas terlebih dahulu, "Beginilah hidup Arhan, akan ada masanya di mana kau harus meninggalkan seseorang atau kau yang ditinggalkan seseorang demi kehidapannya yang lain. Kita, gak bisa menyuruh orang tersebut untuk stay di hidup dan lingkungan kita. Karena apa? Dia juga punya dream yang harus dia wujudkan, bukan hanya dream semata," paparku tersenyum ke arahnya.
Kuusap punggungnya sebentar, "Yuk, tuh suara bell udah bunyi. Masa, kamu mau menjauh dari saya? Padahal, bentar lagi kita juga akan jauhan. Kamu PKL dan saya kembali ke rutinitas beberapa tahun yang sudah saya tekuni."
__ADS_1
Aku membuang napas lagi dan lagi, entahlah rasanya sangat menyesakkan. Aku bangkit dan mengulurkan tangan di hadapan Arhan, "Yuk!"