
Tanpa sadar, aku marathon drama yang tengah kulihat. Mataku membulat kala melihat ternyata sudah jam 12 malam.
Suara notifikasi pun masuk ke dalam handphone, segera kuambil dengan sesekali menguap karena memang aku mulai ngantuk.
[Mbak, tidur lu!] Pesan dari Irga yang kubiarkan begitu saja. Dia menyuruh orang lain tidur tapi dia pun tak tidur apa-apaan seperti itu.
Ternyata, anak itu tak menyerah begitu saja. Panggilan masuk dari nomornya, kuhentikan drama sebentar karena tak ingin jika tak fokus melihat drama ini.
"Ada apa?" tanyaku dengan suara sinis.
"Mbak, ini udah malam besok kerja lho!"
"Terus?"
"Tidur atuh ya Allah," jawabnya frustasi. Entah mengapa, aku selalu suka jika mendengar ucapan frustasi itu dari dia.
Aku terkekeh dan diam saja, membiarkan handphone itu tetap dengan panggilan dan kembali memutar video.
"Liat drama korea?" tanyanya yang mungkin mendengar suara aktor yang ada.
"Mau liat? Bentar, ya, gue pake kerudung dulu." Segera mengambil kerudung di dalam lemari, kuletakkan handphone di sampingku menggunakan stand HP.
Setelahnya, kami sama-sama melihat drama action itu. Tanpa sadar, aku tak dapat lagi menahan kantuk ini hingga membuatku tertidur dengan drama yang 1 jam lagi baru habis.
Suara alarm yang memang selalu kuhidupkan berbunyi pukul 5 subuh, aku menggeliat merasa sedikit sakit karena tidur dengan posisi tengkurep.
Kulihat laptop yang sudah dikembalikan ke meja kerja juga handphone yang diletakkan ke nakas, memilih duduk untuk mengumpulkan nyawa dan mengingat kejadian yang ada.
Melangkah dengan malas ke arah kamar mandi, "Mama?!" teriakku melihat Mama yang juga keluar dari kamar mandi.
"Jam berapa kamu tidur?" tanya Mama melihat dengan tatapan tajam ke arahku dengan wajah yang sudah berwudhu sepertinya.
Cengiran hanya mampu kutampilkan sebagai jawaban, "Anak orang ditinggal tidur!" ketus Mama dan berjalan ke kamarnya kembali.
Aku baru ingat, ya, Irga menemaniku menonton film kemarin dan kutinggalkan tidur begitu saja. Begitulah anak itu, selalu saja mau menemaniku meskipun seringkali kutinggalkan begitu saja.
Selesai mengambil wudhu dan melaksanakan salat, kubuka gorden kamar juga sedikit merapikan kamar.
__ADS_1
Suara dentingan spatula sudah terdengar, Mama rupanya sangat rindu masak sehingga sepagi ini masak berat.
Biasanya, aku dan Papa hanya diberi makan roti karena Mama mengaku malas untuk masak pagi-pagi. Tapi, aku dan Papa tak pernah protes sedikitpun. Kami pun tak pernah memaksa Mama untuk masak setiap hari.
Jika, Mama malas. Kami akan makan di luar atau pesan di aplikasi saja, tak perlu ribet dan jangan dipersulit hanya karena makan saja.
Sebelum keluar kamar dan sarapan pagi, kuraih handphone yang belum kusentuh dari bangun tidur tadi.
Beberapa pesan masuk tapi kubiarkan begitu saja, aku lebih tertarik melihat cerita orang-orang terlebih dahulu.
Beberapa cerita ku-skip begitu saja karena berisi teman-teman yang tengah berjoget-joget tak jelas.
Hingga, jariku terhenti kala melihat satu cerita yang dibuat oleh salah satu nomor yang kusimpan.
"Ha? Ini 'kan muka gue ya ampun!" Malu, bahagia, kesel, marah menjadi satu melihat wajah yang tertidur juga mata yang sudah tertutup di foto oleh manusia yang kemarin kuajak begadang bersama.
'Ibu dari anak-anakku sedang terlelap' Begitulah caption di bawahnya, sungguh membuat diri yang memang tengah lapar ingin memakan manusia itu hidup-hidup.
[HAPUS!!!] balasku di ceritanya dengan menggunakan kalimat kapital semua pertanda bahwa aku marah.
Dirinya tak online, apakah dia masih tidur? Sepertinya begitu, segera kuletakkan kembali handphone dan keluar dari kamar.
Sudah ada Mama dan Papa di meja makan, aku menarik kursi dan mendudukinya. Kuambil piring juga nasi goreng serta ayam goreng yang sepertinya dipanaskan.
Wajar kami bukan keluarga wanita yang kaya raya itu, yang memanggil dirinya dengan sebutan 'ai' dan orang lain 'you' yang tak tahu jika ayam bisa dipanaskan.
Kuminum air putih lebih dulu tak lupa ucapkan basmallah juga berdoa makan, "Yana?" tanya Papa menatap ke arahku.
Ya, aku dipanggil oleh kedua orang tuaku dengan sebutan 'Yana' sebenarnya rada risih, sih. Karena, ya, seperti pasaran gitu, 'Yana, Yono' Seperti adik-kakak yang sangat romantis.
"Iya, Pa?" tanyaku menatap ke arah Papa dengan wajah tersenyum.
"Gimana hubungan kamu dengan Andi?" tanya Papa yang memang belum tahu jika aku dengan pria itu sudah putus.
Aku tersedak mendengar pertanyaan dan nama itu sepagi ini, kulihat Mama sedikit kaget kala melihat aku sampai tersedak mendengar Papa menanyakan laki-laki itu.
Segera kuambil air minum agar tenggorokan kembali lancar, kuletakkan kembali ke meja makan dan menatap ke arah Mama dan Papa.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kok sampe tersedak, gitu?" tanya Mama yang menatapku dengan heran.
"Mm ... Yana dan Andi udah lama putus, Ma. Dia juga sekarang udah lamaran dengan wanita lain yang lebih cantik dari Yana," jawabku dengan tersenyum kecut.
Mama dan Papa hanya mengangguk, mungkin mereka tengah mengkasihani anaknya yang ditinggal ini.
Oh, jangan kasihani aku. Aku sama sekali tak iri atau cemburu, karena luka yang dia beri sudah membuat aku hilang kepercayaan dan rasa suka apalagi cinta pada laki-laki itu.
"Jadi kamu? Udah ada rencana akan lamaran dengan siapa?" tanya Mama dengan mulut yang mengunyah makanan.
Aku pun menyendok makanan dan memasukkannya ke mulut sambil melihat-lihat ke atas.
"Ada dong Ma."
"Siapa?" tanya Mama yang ternyata kepo apa benar anaknya ini sudah memiliki pengganti.
"Husen Basyabian Ma," jawabku dengan mata yang kalau di film-film mungkin akan berbinar-binar.
Kalian tahu laki-laki itu? Ya, seorang dai atau penceramah yang cukup terkenal di aplikasi tok-tok.
Laki-laki yang begitu Maa Syaa Allah dan mulai langka, kerennya itu ketika aku tak sengaja melihat videonya yang berkata seperti ini kurang lebih.
"Nanti, saya kalau udah nikah. Saya ndak kasih istri saya auplod foto di medsos meskipun niatnya demi dakwah tetap ndak saya kasih."
Hal itu membuatku langsung melting bahkan senyum-senyum sendiri, sangat bahagia sepertinya yang akan menjadi jodohnya.
"Mama serius!" ketus Mama yang tentunya tahu siapa laki-laki itu.
"Apakah Mama tidak mau punya menantu seperti dia?"
"Orang tuanya yang tak mau punya menantu seperti kamu!" kesal Mama dan memalingkan wajahnya dariku.
Ha? Sungguh sakit sekali dapat pengakuan hal tersebut dari Mamaku sendiri, memang tak mungkin akan bersama, sih.
Namun, setidaknya biarlah dan dukunglah aku untuk berhalu ria bersama laki-laki itu sebelum kenyataan menyadarkan aku.
"Kalau kamu mau, Papa bisa kenaikan kamu dengan anak dari temen Papa," kata Papa dan membuatku membulatkan mata ke sekian kalinya di pagi ini.
__ADS_1
Mama tersenyum seolah menyetujui, dengan cepat aku bereleng, "Gak-gak Pa, Yana bisa mencari sendiri oke! Jadi, jangan ada adegan perjodohan di sini," ungkapku dan segera pergi dari meja makan.
Bukan karena ingin tak sopan, lagian makananku telah habis. Jika terus di situ maka akan itu-itu saja topiknya dan mereka akan memaksaku minimal ketemuan terlebih dahulu baru menolak perjodohan ini.