
Setelah mengucapkan kalimat itu, Irga menatap dan tersenyum ke arah Andi dan juga sepupunya itu.
Sedangkan Dayana, dirinya hanya menundukkan wajahnya saja meskipun sepertinya sudah terlihat oleh Andi.
"Wah, Irga! Kamu bawa siapa?" tanya Zahra menatap ke arah Dayana. Dayana yang merasa tengah dibicarakan langsung menatap ke arah Zahra dan tersenyum.
"Oh, ini Kak. Calon masa depan aku," ujar Irga enteng dan mendapat tatapan tajam dari Dayana dan juga Andi.
Sedangkan Zahra malah menampilkan wajah tersenyum, Irga yang melihat wajah Andi membuat laki-laki itu segera membuang wajah.
Tangan Dayana terulur ke arah Zahra, "Kenalin Kak nama saya Dayana. Oh, iya btw. Selamat, ya, semoga lancar sampai hari h-nya," kata Dayana tersenyum dan disambut oleh Zahra tangan yang terulur itu.
"Saya Zahra sepupu Irga. Makasih buat doanya semoga kamu dan Irga juga cepat menyusul," ucap Zahra dan langsung membuat Dayana membulatkan matanya.
"Eh, enggak Kak sa--" Belum sempat wanita itu menjelaskan Irga sudah memotong ucapannya lebih dulu.
"Makasih!" seru Irga yang dengan cepat memotong ucapan Dayana.
"Oh, iya. Kenapa saya baru liat kamu? Kenapa biasanya gak pernah ikutan kalau ada acara keluarga?" tanya Zahra lagi yang sepertinya ingin mengintrospeksi.
"Iya, Mbak. Biasalah baru aja jadian, mangkanya baru sekarang dibawa. Doakan semoga langgeng, ya," jawab Irga lagi dan lagi.
Dayana hanya tersenyum dengan kikuk melihat jawaban dari Irga, "Kak, saya duluan ya. Pokoknya selamat buat Kakak semoga lancar!" Dayana langsung menarik tangan Irga untuk turun dari atas dan menjauh dari keramaian.
Melihat sudah sunyi tempatnya, Dayana langsung melepaskan tangan Irga yang di pegangnya dari tadi.
"Lah, kok di lepas Mbak?" tanya Irga melihat tangannya yang tak lagi di pegang oleh Dayana. Dayana hanya menatap dengan kesal laki-laki ini.
Oh, ayolah Tuhan! Apakah dirinya harus berhadapan dengan laki-laki ini selamanya? Rasanya aku sudah tak kuat untuk mengahadapinya.
__ADS_1
Segala ucapan dan sedikit cacian dia ucapkan kala melihat tingkah laku Irga ke dirinya, apakah laki-laki itu tak merasa sungkan padahal Dayana lebih tua darinya.
Dayana hanya membuang nafas pelan dan tetap menatap Irga, sedangkan yang di tatap malah menampilkan wajah sok imutnya juga senyum manis yang tercipta di bibirnya itu.
Merasa sebal dengan sikap Irga, ia memilih berjalan meninggalkan Irga ke arah pintu keluar. Sungguh lama-lama bisa membuatnya gila.
Tanpa disadari oleh Dayana dan Irga, sepasang mata menatap ke arah mereka setelah kepergiannya tadi, "Kamu liat apa Mas?" tanyanya yang merasa aneh dengan orang yang baru beberapa jam tadi melamar dirinya.
"Mbak!" teriak Irga menyuruh Dayana berhenti dengan langkah kakinya yang cepat.
"Mbak, tunggu!" teriak Irga lagi dan beruntungnya dirinya sudah bisa menyeimbangkan langkah wanita itu kini.
"Lu kenapa Mbak?" tanya Irga menatap Dayana yang matanya tanpa bisa ditutupi wanita itu sudah berembun.
"Mbak, lu kenapa?" tanya Irga menghentikan Dayana dengan memegang lengan wanita itu. Mereka telah sampai di halaman rumah Dayana kini.
Dayana menghapus jejak air mata yang menetes tanpa dirinya pinta dan memalingkan wajah dari Irga.
Tatapan tajam diberikan Dayana, "Lu sengaja bawa gue kana, ya, Ga? Lu sengaja agar gue ngerasa cemburu dan panas melihat mereka, gitu?" tanya Dayana dengan suara keras.
Irga yang tak mengerti hanya menautkan alisnya mendengar penuturan wanita di depannya kini, "Maksud lu apa Mbak?" tanya Irga yang memang tak paham dengan alur pembicaraan Dayana.
Tangan Irga di tepis kasar oleh Dayana, "Udahlah, Ga! Lo gak usah pura-pura, lo sengaja bawa gue ke acara itu agar gue ngeliat lamaran Andi dan sepupu lu itu 'kan?"
"Mbak! Gue sama sekali kalo dia akan ada di acara itu dan akan ada acara lamaran segala," tolak Irga yang tak terima dengan tuduhan Dayana.
"Halah!" cela Dayana dan tersenyum sinis, "udahlah Ga, gue udah liat acara itu. Sekarang gue ngantuk, gue mau masuk dulu."
Baru saja Dayana berbalik dan ingin melangkah, tangannya kembali di tahan oleh Irga, "Udah, Ga! Gue capek!" bentak Dayana dan langsung menepis dengan keras.
__ADS_1
Dirinya langsung berjalan masuk dengan cepat dan meninggalkan Irga yang mematung dengan sikap yang diberikan Dayana padanya malam ini.
Apakah dirinya memang sengaja menjebak Dayana? Namun, bukan itu niatnya sama sekali tidak seperti itu.
Kesalahpahaman memang selalu terjadi untuk orang yang menggunakan mata sebagai patokan bukan penjelasan.
Irga menatap Dayana yang mengelap wajahnya sebelum mengunci pintunya itu, "Apa gue salah? Padahal gue gak sama sekali ada niatan untuk buat Mbak mengingat laki-laki itu. Sama sekali gak ada," kata Irga yang pasti tak satu pun ada orang yang mendengar.
Irga meremas rambutnya frustasi, bagaimana mungkin wanita itu bisa berpikiran sejauh ini. Namun, jika dilihat memang sepertinya bisa jadi begitu.
Padahal, sedikit pun dirinya tak tahu menau soal ini. Irga berjalan dengan lemah menuju rumahnya yang sepertinya masih ramai oleh pada keluarga besar.
Sedangkan Dayana langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja di kasur miliknya, membekap mulut agar tak terdengar suaranya.
Setelah puas dengan menangis, Dayana duduk dan menghilangkan air mata di wajahnya dengan menggunakan tisue yang memang tersedia di meja tak jauh dari tempat tidurnya.
"Lu ngapain nangis Dayana? Lu kenapa tadi bersikap melebihi anak kecil? Kenapa? Lu masih belum bisa move on dari Andi?" tanya Dayana pada dirinya sendiri.
"Dia itu udah jahat sama lu, seharusnya lu itu bersyukur karena gak berjodoh sama dia. Ngapain lu sampe marah-marah segitunya sama si Irga tadi?" sambung Dayana menyesali perilakunya tadi kepada Irga.
Ting!
Satu notifikasi masuk ke handphone-nya membuat Dayana langsung meraih meski diri masih sesenggukan.
[Mbak, gue sama sekali gak pernah ada niatan buat lu menjadi sakit hati kembali atau apa pun itu. Gue juga gak tau kalo lamaran akan terjadi.]
[Kalo lu gak percaya sama gue, itu hak lu Mbak. Gue cuma ngasih tau kebenaran, gue gak akan membela diri gue dari pikiran lu. Gue cuma ngasih tau kebenarannya doang.]
[Jika menurut lu gue salah, ya, itulah gue. Jika menurut lu gue benar, ya, itulah gue. Gue gak akan membela diri]
__ADS_1
Tiga pesan yang di tunggu pengetikannya di tatap Dayana sekarang, dirinya memang sekarang sudah bisa mengendalikan diri tentang sikapnya yang seharusnya tak seperti tadi.
Lagian, bukankah sudah usai? Sudah seharusnya Dayana tidak memikirkan laki-laki itu lagi. Mau dengan siapa pun dia itu sudah bukan urusannya lagi.