
Akhirnya kami sudah berada di perjalanan menuju rumahku, banyak sekali drama yang terlewati membuat tubuhku rasanya sedikit lelah.
Leo yang tiba-tiba menangis saat aku ingin pulang, dengan terpaksa aku harus bermain terlebih dulu dengan bocah 4 tahun itu.
Sedikit merasa canggung sebenarnya jika harus bermain dengan anak orang lain yang baru kukenal.
Akan tetapi, lagi-lagi Devi menyuruhku untuk tak usah sungkan dan menganggap bahwa ini adalah rumahku juga.
"Arya," ucapku memecah keheningan di perjalanan menuju rumahku yang cukup jauh jaraknya dari rumah Arya.
"Hm ... ada apa?" tanya Arya menatapku sekilas lalu fokus kembali ke arah jalan.
"Aku boleh nanya sesuatu?" tanyaku dengan hati-hati, takut saja jika ternyata itu hal privasi.
"Apakah ada hal yang penting?" tanyanya menaikkan alis. Bisa kupastikan bahwa dirinya pun kepo dengan apa yang ingin kuucapkan.
"Hmm ... tak terlalu, sih."
"Katakan."
"Apa ... Daddymu yang memiliki kantor tempat kita bekerja?" tanyaku langsung menatap wajahnya.
Aku ingin melihat apakah dia berbohong atau tidak, karena kata orang-orang wajah seseorang yang tak jujur dapat dilihat dari gelagat wajahnya.
"Tidak, dari mana kau bisa berpikir seperti itu?" tanyanya dengan wajah tenang.
"Hmm ... nebak doang, sih. Masalahnya 'kan sudah pasti Daddymu punya perusahaan."
"Iya, sih. Memang Daddy punya perusahaan, tapi, aku bekerja di perusahaan orang lain."
"Kenapa tidak dengan Daddy? Kan, kau jadinya bisa membantu dia di perusahaan?"
"Aku masih ingin belajar di dunia luar, akan ada masanya aku bekerja di tempat Daddy."
Aku hanya mengangguk mendengar jawaban dari Arya, banyak juga sih anak orang kaya yang berpikiran sedemikian rupa.
Ternyata, Arya salah satunya. Aku pun akhirnya diam dan kembali menikmati perjalanan yang ada, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Suara dering handphone berbunyi, "Papa?" gumamku saat melihat nama Papa yang tersemat di situ.
"Kenapa Pa?" tanyaku ketika mengangkat panggilan.
"Kamu ke mana? Ini sudah malam."
"Iya Pa, Yana udah di jalan, kok."
"Yaudah, hati-hati dan cepat pulang. Ini sudah larut."
"Iya, Pa."
__ADS_1
Kumatikan panggilan, pasti Papa dan Mama sudah sangat khawatir kenapa anaknya belum pulang sudah lumayan larut malam seperti ini.
"Sepertinya, aku terlalu lama membawa anak orang," celetuk Arya yang langsung kutatap.
"Soalnya kalau sama Irga biasanya jam 9 udah sampai di rumah," kataku jujur.
"Wah ... baru pertama kali ngajak kamu, udah dapat kesan yang buruk nih kayaknya dari keluarga kamu."
"Haha, tak apa."
Begitu sampai di halaman rumah, aku sudah melihat Irfan bercerita dengan Papa di bangku teras rumah.
Sesekali mereka saling tersenyum dengan kopi atau teh yang ada di gelas, aku turun dari mobil dan menatap ke arah mereka berdua.
Irga dan Papa langsung berdiri kala menyadari keberadaanku, "Assalamualaikum, Pa," salamku mencium punggung cinta pertamaku itu.
"Waalaikumsalam."
"Assalamualaikum Om," salam Arya yang berdiri di samping Dayana.
"Waalaikumsalam, kamu siapa?" tanya Papa dengan nada tegas.
"Saya Arya, temen satu kantornya Dayana."
"Kenapa Yana bisa jadi sama kamu? Bukannya tadi sama Irga? Dan kenapa kalian pulang jadi larut begini?" Berbagai pertanyaan dilontarkan Papa ke Arya.
"Lah, kenapa malah bawa anak orang tanpa izin? Kalau kamu mau bawa anak orang itu izin dulu sama keluarganya," kata Papa, "dan buat kamu Irga, biasakan tanggungjawab. Kalau anak orang perginya sama kamu mau berapa orang yang menghadang dan ingin mengantarkannya pulang kamu harus cegah!"
Semua orang diomeli Papa malam ini, bukan. Bukan diomeli melainkan diberi nasehat untuk tak semena-mena pada orang lain.
"Juga kamu Yana, jangan jadi orang yang mau-mau aja diajak orang lain pulang. Biasakan harga diri itu tinggi, jangan mau-mau aja!" Kali ini, aku pulak yang kena.
Kami bertiga hanya mengangguk paham, "Yaudah, kalian boleh pulang. Yana, masuk ke dalam." Aku mengangguk dan melewati mereka dengan sedikit membungkuk.
Tak kuhiraukan lagi mereka, sudah pulang atau belum. Aku langsung masuk ke kamar dan berganti pakaian.
Suara pintu di tutup, artinya semua sudah pulang dari teras, "Yana!" panggil Papa.
"Iya, Pa. Sebentar," teriakku dan langsung keluar kamar.
"Cowok tadi gak buat yang macam-macam ke kamu 'kan?" tanya Papa mengintrogasi. Apakah wajah Arya seperti laki-laki tak baik?
"Kenapa Papa nanya begitu? Emangnya wajah dia sepwrti orang jahat, ya?" tanyaku.
"Ingat, Yana. Selama laki-laki itu bukan suamimu dan keluargamu, kau harus waspada ke mereka. Karena, banyak celah yang bisa mereka lakukan ke kamu," tutur Papa memberi nasehat untukku lagi.
"Iya, Pa. Maafkan Yana karena pulang telat dan gak ngabari Papa."
"Tak apa, lain kali jangan ulangi, ya." Papa mengusap rambutku dengan pelan dan kubalas dengan senyuman juga anggukan.
__ADS_1
"Yaudah, tidur sana. Besok harus ngajar."
"Siap, Bos!" kataku sambil hormat ke arah Papa. Papa dan aku terkekeh, aku kembali masuk ke kamar dan tak lupa mengunci pintu kamar.
Suara notifikasi membuatku meraih handphone yang belum memiliki kamera 3 dan gambar apel digigit setengah itu.
[Mbak, dimarahi sama Papa lagi, gak?] pesan dari 'Ayang❤' Bukan aku yang membuatnya. Melainkan, Irga sendiri yang menamai kontaknya di handphone-ku.
[Iyalah! Lagian, kamu sih entah kenapa gak datang lebih dulu waktu si Andi monyet itu mau nampar saya!] kesalku.
[Mbak aja yang gak denger kalo Irga teriak sambil lari ngejar mobil cowok sok kaya itu!]
Flashback on
"Berani banget lo mau nampar Dayana, woy!" teriak Irga memegang kerah baju Andi yang masih tergeletak.
"Udah Irga! Lo gak liat dia udah kesakitan, ha?" amuk Zahra yang sudah ada di samping Andi memegang bahu laki-laki itu.
"Itu gak seberapa, Mbak!" sinis Irga dan berlari mengejar mobil yang membawa Dayana.
"Mbak ...!" teriak Irga mengejar mobil yang keluar dari halaman cafe.
"Mbak Yana!" teriaknya lagi dengan langkah kaki yang mulai lelah.
"Mbak ...!" Hingga akhirnya, mobil yang membawa Yana tak terlihat lagi oleh Irga.
Flashback off
[Iyakah? Kok, saya gak percaya, ya?]
[Serah Mbak, biar Allah aja yang tau. Mbak gak diapa-apakan sama tuh cowok 'kan?]
[Enggak, aman kok.]
[Om marahin Mbak lagi?]
[Lebih diberi nasehat, kok. Buman dimarahi]
[Kenapa Mbak belum tidur lagi? Udah jam tengah sebelas lho ini]
Aku terdiam, sambil menautkan alis, 'Lah, iya, ngapa malah jadi bertambah nih watt mata meleknya. Biasanya udah ada alam mimpi jam segini mah,' batinku.
[Gak tau, gak bisa tidur nih]
[Irga nyanyiin, ya, biar Mbak tidur]
[Bisa, emang?]
[Behh, Mbak ngeremehin jodoh Mbak ini?]
__ADS_1