Cuma Angka

Cuma Angka
Acting Dimulai


__ADS_3

Akhirnya, kami pun makan-makan. Aku tak membuka suara sedikit pun dan hanya fokus ke makanan saja.


Sesekali mereka mengajak aku untuk berbicara dan kujawab seperlunya saja, makananku telah habis. Wajar, soalnya lapar tadi.


"Semuanya, Dayana izin ke toilet sebentar, ya," kataku dan berdiri.


Semua mengangguk, aku pergi ke arah toilet yang diberi tahu Aldo tadi. Meskipun hanya satu lantai, tapi rumah ini begitu luas.


Pembantu bahkan ada 2 orang di dalamnya, dengar cerita mereka. Kakek Aldo sudah lebih dulu berpulang.


Aku masuk ke toilet untuk membuang air kecil juga melihat mulut dan gigi apakah ada sisa makanan yang sangkut.


Malu dong, jika tertawa paling keras malah ada sisa makanan yang tertinggal. Kubuka kembali pintu setelah merasa tak ada yang mengganjal.


Seseorang mencekal tanganku, aku langsung menatap ke samping arah orang tersebut berada. Segera kutepis dengan kasar.


"Apaan, sih lo!" bentakku dan mengusap tangan yang di pegangnya tadi. Beruntungnya ketika menghempas tangannya tadi handphone di genggamanku tak jatuh.


"Lo ngapain di sini?" tanya Andi dengan wajah merah padam. Aku tahu, dia pasti tengah takut jika aku bocorkan rahasia ini.


Aku bersedekap dada, menatap ke arah Andi dengan remeh, "Seharusnya gue yang nanya ke lu. Lu ngapain ke sini? Mana rangkul-rangkul cewek lain, lagi!"


"Itu bukan urusan lo!" tekannya menunjuk ke arah wajahku.


Dengan santai, kuturunkan jarinya itu, "Dan gue ada di sini juga bukan urusan lo!" tegasku dan ingin beranjak dari depan toilet.


Saat ingin kembali melangkah, tanganku tetap di cekal olehnya dengan kuat, "Sakit!" ringinsku yang merasa sepertinya pergelanganku merah.


"Denger, ya! Gue gak akan segan-segan mencari lo kalo sampe Zahra tau tentang ini semua," ancam Andi dengan wajah sangarnya.


"Haha, emangnya gue takut sama lo? Lo hanya cowok yang gak tau malu! Ngerasa paling ganteng dan pacari anak orang kaya. Lo pikir lo itu ganteng? Tanpang pas-pasan sok jadi buaya!" hinaku yang masih mencoba melepaskan tanganku.


Kulihat tangannya yang sebelah lagi langsung terangkat setelah mendengarkan hinaan dari mulutku.


"Lo sepertinya perlu diberi pelajaran!" bentaknya dengan mataku yang langsung tertutup.


Satu, dua, tiga. Tak ada kurasa perih atau suara tamparan, aku membuka mata dan melihat tangan mereka berada di atas.

__ADS_1


"Banci lo? Kenapa beraninya sama cewek?" tanya Aldo yang datang tiba-tiba dan menghempaskan tangan Andi kasar.


Dia juga segera melepaskan genggaman tangan Andi pada pergelangan tanganku, dia melihat pergelangan itu yang sudah merah.


Giginya merapat dan dengan cepat bogeman mentah didapatkan Andi di perutnya akibat ulah Aldo.


Bugh ...!


"Aaa ...," teriakku sedikit mundur dan menutup mulut. Andi langsung terjatuh di lantai sambil memegang perutnya.


Rupanya teriakkanku membuat orang yang ada di ruang tamu langsung berhambur ke belakang, mereka ingin melihat apa yang terjadi.


Saat Aldo ingin memberikan bogeman lagi dengan cepat aku menahan tangan laki-laki itu, "Dia harus diberi pelajaran Yana!" tekan Aldo menatap garang ke arahku.


"Udah gak usah," cegahku sambil bergeleng.


Aldo yang sudah jongkok langsung bangkit dan membawa aku, "Bawa dia ke ruang tamu!" perintah Aldo ketika berjalan melewati adik sepupunya--pacar Andi.


Sebelum duduk kembali ke sofa, Aldo membuka beberapa laci. Aku hanya diam dan melihat apa yang tengah dicarinya.


Kotak persegi empat panjang dan berlambang plus itu diambil dan segera melangkah kembali ke ruang tamu.


"Do, gue bisa sendiri," bisikku yang tak enak.


Bukannya memberhentikan, dia malah seakan tuli dengan ucapanku itu. Andi datang kembali bergabung dengan kami.


Dia di papah dengan dua orang yang mungkin satunya adalah Tante Aldo. Dia menatap ke arahku dengan wajah marah.


Aldo telah selesai mengobati pergelanganku, dirinya menutup kotak P3K dan meletakkannya di sampingku.


"Ada apa sebenarnya Aldo? Kenapa kamu malah sampe memukul dia seperti ini?" tanya tante Aldo menatap tak suka ke arah Aldo.


Kulirik ke arah anaknya yang menangis karena kesihan melihat pacarnya itu menangis, aku menaikkan bibirku sebelah.


'Pinter banget tuh manusia halus membuat orang iba dengan wajahnya yang pas-pasan itu,' batinku sambil menggelengkan kepala.


"Sekarang, kau putuskan laki-laki brengsek ini!" bentak Aldo dan membuat adik sepupunya menatap tajam.

__ADS_1


"Kenapa aku harus memutuskan dia?" tanya wanita itu dengan tak suka.


"Karena dia sudah tunangan dan dua hari lagi akan menikah," celetukku sambil menunduk.


Semua orang kaget termasuk Aldo, aku kira dia tahu tentang Andi. Ternyata, dia pun tak tahu sama sekali.


Kunaikkan kepala melihat semua ekspresi orang yang ada di ruangan, Andi yang tadi seolah kesakitan kini duduk dengan baik.


"Enggak-enggak, yang dia ucapkan bohong!" bentak Andi yang ingin mengelak.


Aku membuka handphone dan mencari nama Zahra di sosial media, Zahra cukup terkenal di sosial media dia bisa dibilang sebagai Selebgram.


Itu sebabnya setiap kegiatan pasti dia akan masukkan ke story, agar penggemarnya tahu kegiatan dia.


Kutunjukkan postingan Zahra dan Andi yang sepertinya tengah fitting baju pengantin di salah satu tempat.


Mereka semua tak percaya, bahkan adik sepupu Aldo yang tadinya menatap tak suka ke arahku kini malah menatap kebencian ke arah Andi.


"Enggak-enggak, dia pasti ngarang. Aku bahkan gak kenal dia siapa," elak Andi menunjuk ke arahku.


Aku mengerutkan kening dan tersenyum ke arahnya, "Kalo lo gak kenal gue, kenapa lo bisa ngelakuin hal ini ke gue? Apa lo punya ganggung jiwa sampe menyakiti orang lain?" tanyaku membuat dia bungkam dan menunjukkan pergelangan yang merahnya sudah mulai sedikit menghilang.


Semua orang menatap dengan wajah seolah bertanya aku ini sebenarnya siapa Andi, kumasukkan kembali handphone.


"Saya mantan Andi, kita putus karena saya mengetahui bahwa Andi selingkuh dengan dua wanita sekaligus. Dia juga sering tidur dengan wanita yang berbeda-beda dengan membanggakan wajah yang pas-pasan dan ucapan penuh kebohongan," ungkapku membuat adik sepupu Aldo menutup mulut.


Kena kau Andi! Sudah tak bisa lagi mendapatkan korban untuk kau peras atau kau pakai semaumu saja.


"Kau jangan asal tuduh! Aku tak mungkin sudi punya mantan pacar sepertimu!" bentak Andi dengan suara yang tinggi.


"Kalau kau merasa itu bohong, santai aja dong. Gak perlu ngegas gitu, hahahaha," tawaku dengan bersedekap dada.


"Jika aku diam maka kau akan semakin mengada-ada!"


"Aku mengada-ngada? Sebenarnya mengaku mantan kau saja aku tak sudi!" cibirku dan membuat dia terdiam kembali.


Kurapikan pakaian dan kerudung, "Saya kasih saran buat kamu adik sepupu Aldo. Jangan pernah mau dengan seseorang yang bahkan mungkin janjinya saja belum bisa dia tepati, masih banyak laki-laki di luaran sana yang lebih pantas bersama kamu. Bukan laki-laki yang tak tau malu seta pendirian sendiri!"

__ADS_1


"Karena acara sudah selesai saya rasa, saya juga ada acara lain. Saya permisi lebih dulu," pamitku sambil mengecup punggung tangan nenek, "permisi semua!"


__ADS_2