
"Assalamualaikum," salamku dan masuk ke dalam rumah tak lupa menutup pintu terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam. Pulang sama siapa?" tanya Mama yang baru keluar dari kamarnya.
"Dianterin Aldo, Ma," jawabku berjalan ke arah kamar.
"Kok bisa sama dia?"
"Kebetulan ketemu Ma."
Mama tersenyum ke arahku, aku yang berada tepat di depan pintu kamar berkerut menatap senyuman itu.
"Mama kenapa?" tanyaku melepas knop pintu.
"Itu namanya bukan kebetulan."
"Terus?" tanyaku yang penasaran ke mana arah pikiran Mama kali ini.
"Itu takdir," terang Mama dengan senyumnya yang kembali mengembang. Aku hanya mampu menggelengkan kepala dan masuk ke kamar.
"Ingat, Yana! Bahkan daun yang jatuh ke tanah tidak terjadi tanpa adanya takdir dari Allah!" teriak Mama yang sengaja melakukan hal itu.
Aku tak ingin menyahut, jika hal itu terjadi maka tak akan ada yang mau mengalah. Kuletakkan paper bag ke atas kasur dan mulai meletakkannya di tempat yang ada.
Apakah cuma aku di sini jika barang baru maka langsung dipakai. Tidak ada adegan dicuci lebih dulu, padahal bisa jadi banyak kuman di baju itu.
Secara, dia di pegang oleh orang-orang dan dipajang yang pastinya banyak debu yang menyangkut.
Merasa semua telah rapi, kupilih duduk di kursi meja belajar. Mengingat kejadian di parkiran mall tadi.
Ah ... entahlah, terkadang memang cinta bisa membuat orang gila hingga terobsesi memiliki orang yang dicitainya itu.
***
Hari ini, hari di mana Zahra akan melangsungkan acara. Beruntungnya, hari ini tanggal merah aku juga sempat membuka pesan darinya bahwa aku disuruh datang sebelum akad.
Sempat merasa aneh, padahal kemarin pesanku tak dibalas olehnya. Lalu, kenapa hari ini dia malah ingin aku datang lebih awal?
"Kamu pergi sama siapa Yana?" tanya Papa yang sedang membaca koran juga ditemani kopi hitam yang masih mengepul asapnya tak lupa gorengan.
Ya, Mama sangat rajin orangnya apalagi untuk keluarga. Chef saja mungkin akan kalah dibuat Mama.
"Sendiri Pa," kataku membetulkan posisi jam.
Tok ...!
__ADS_1
Tok ...!
Suara ketukan mengalihkan pandanganku juga Papa ke arah pintu yang tertutup. Kulihat ke arah Papa sebentar baru berjalan ke arah pintu.
Ceklek ...!
Terlihat laki-laki yang menggunakan kemeja batik berwarna yang sama dengan gamisku juga celana caper warna hitam.
Kulihat penampilan dia dari atas hingga bawah, 'Dih, mau tunangan nih orang?' batinku mempertanyakan penampilannya.
"Assalamualaikum Om," salamnya menyalim tangan Papa dengan takzim. Aku kaget, sejak kapan Papa sudah ada di sampingku?
"Walaikumsalam Nak Aldo. Mau ke mana?" tanya Papa tersenyum ramah. Inilah yang membuat aku mencintai laki-laki di sampingku.
Sikap ramahnya juga tegasnya pada setiap laki-laki yang menjadi temanku, ia tak pernah merendahkan apalagi berkata kasar pada mereka.
"Mau ke nikahan temen yang dihadiri oleh Yana juga, Om," ungkap Aldo menunjuk ke arahku.
Aku membulatkan mata, sejak kapan dia diundang? Apa memang diundang? Kenapa gak pergi sendirian aja.
"Lah, tadi kamu bilang mau pergi sendirian Yana!" goda Papa menyenggol bahuku. Aku yang tak siap dengan senggolan langsung berpindah dari posisiku dan hampir jatuh ke lantai.
Hap ...!
Tangan Papa dengan cepat menahan tubuh mungil dan tak bersalah ini agar tak menyentuh lantai yang mengkilap itu.
"Ih, Papa! Kalo tadi Yana jatuh, gimana?" tanyaku kesal melihat kelakuan cinta pertamaku ini.
"Ya, di tangkap Aldolah," ujar Papa santai. Sangat santai, terlihat dari wajahnya ini.
Mataku membulat kaget, dengan cepat melihat ke arah Aldo yang ternyata menjadi salah tingkah akibat ucapan Papa yang tiba-tiba.
"Kok malah Aldo, sih? Tau ah! Yana mau pergi aja. Assalamualaikum." Aku segera meraih tangan Papa dan mengecup punggung tangan lelaki itu.
Dengan menghentakkan kaki menuju depan mobil Aldo, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan hanya saja Papa tersenyum melihat ke arahku.
Aldo menyalim Papa dan berjalan menuju ke arahku, aku masuk lebih dulu dan diikuti olehnya.
Tit ...!
Suara klakson dibunyikan Aldo terlebih dahulu sebelum keluar dari halaman rumahku, kulihat Papa menaikkan tangannya sebelah.
"Lo beneran di undang?" tanyaku menaikkan alis sebelah tanda tak percaya.
"Apakah wajahku seperti seorang pembohong?" tanyanya kembali dengan wajah datar.
__ADS_1
"Ck! Pertanyaan itu dijawab, bukan diberikan pertanyaan lagi!" gerutuku mengalihkan pandangan ke arah samping dengan bersedekap dada.
"Jawaban terkadang bisa ada di dalam pertanyaan itu," jawab Aldo tak mau kalah. Aku memilih diam saja, kalau diteruskan debatnya mungkin gak akan selesai sampai Zahra punya anak bahkan.
Sekitar 45 menit, kami sudah sampai di gedung yang memang sudah di booking Zahra. Aku mengedarkan pandangan setelah turun dari mobil.
"Banyak banget tamunya," ucapku kagum melihat parkiran yang begitu luas sudah hampir penuh.
"Apa emang jadwal nikahnya diganti, ya?" tanyaku menutup pintu mobil.
"Apa kau ingin tetap melihat mobil-mobil itu?" tanya Aldo yang memecah lamunanku.
"Iya, bentar!" Aku sedikit menaikkan gamis ini, tenang saja. Aku pakai celana dalaman jadi tak akan terlihat kakiku.
Sebelum masuk, kami harus mengisi daftar hadir dan menunjukkan kartu undangan. Aldo mengeluarkan kartu undangannya.
Artinya, dia tak bohong. Dia juga diundang di acara Zahra, apakah mereka saling kenal?
"Ini Mbak," kata penjaga buku menyerahkan nomor meja.
"Terima kasih Buk," jawabku dengan ramah. Kulirik sekilas ekspresi penjaga buku itu, seperti marah akibat kupanggil 'buk'
Lagian, aku juga tak setua itu hingga dia panggil dengan sebutan 'Mbak' apakah memang ketika undangan di tempat orang terkenal bangku juga sudah memiliki tempatnya masing-masing?
"Tempatnya cantik?" tanya Aldo yang tengah memperhatikan aku menatap sekeliling tempat ini.
"Biasa aja, sih," kataku jujur.
"Masa, sih?"
"Ya, karena gue gak suka sama modelnya. Mungkin, kalo modelnya diubah bisa jadi gue suka, sih," ungkapku yang menjelaskan bahwa seleraku dengan Zahra pastinya berbeda.
Aku suka hal sederhana, sedangkan Zahra? Tentu tidak bisa dengan sederhana, secara dia terkenal di publik.
Kalau sederhana maka akan dicibir oleh orang-orang yang ada, kami dipandu oleh laki-laki ke arah meja kami.
Tak ada penolakan, kami pun hanya diam dan patuh mengikuti arahannya.
Bangku yang berisi 4 kursi ini menampilkan dua nama yang belum hadir, aku mengerutkan kening membaca nama itu.
"Itu adik sepupuku," timpal Aldo menatap lurus tanpa ekspresi apa pun.
Aku yang sedikit menyondongkan tubuh untuk dapat membaca tulisannya, akhirnya kembali duduk tegap sambil ber 'oh' ria.
Kulihat sekeliling, orang-orang tengah sibuk agar acara berjalan dengan lancar. Setelah kata Aldo bahwa nama di depan adalah adik sepupunya yang berarti pacar Andi.
__ADS_1
Aku tak mengambil pusing, bisa jadi Andi yang mengundang wanita itu agar wanita itu merasakan hancur setelah Andi si cowok buaya itu menikah.