
"Eh, lu ngapain ke sini?" tanyaku menatap ke arah Irga.
Dia langsung menyodorkan kertas dengan berbalut plastik, "Kertas undangan?" gumamku dan membuka plastiknya untuk melihat nama siapa di dalamnya.
"Mbak akan datang?" tanya Irga saat aku tengah serius melihat nama yang tertera. Aku langsung menutup kertas itu dan memasukkannya kembali ke plastik.
"Datang, dong. Kan, udah di undang," ucapku menampilkan senyuman, "kok mendadak? 2 hari lagi nikahnya baru dikasih undangan ke aku?"
"Sama Irga, ya, Mbak."
"Mbak-mbak, lu kira ini lagi di mana?" tanyaku dengan nada tinggi.
"Eh, iya Irga lupa Buk."
"Dasar kamu, mah!" ketusku dan meletakkan surat undangan ke meja.
"Ibu udah makan?"
"Eh, kamu mau makan? Mama ada buat lebih tadi, nih, kamu makan aja."
Aku dan Irga akhirnya duduk di bangku milikku, jarak yang tak terlalu jauh hanya meja yang jadi penghalang.
Kuberi kotak bekal yang dibuat lebih oleh Mama dan mulai memakannya, satu per satu guru mulai masuk.
Mereka sesekali melempar senyuman dan mengangguk ke arahku, "Mbak, eh maksudnya Buk Yana. Irga malu," bisik Irga dengan badan dibuat sedikit mendekat ke arahku.
Aku mengerjapkan mata menahan tawa yang hampir keluar, "Bwahahaha, lu ada malu Ga?" tanyaku dengan membekap mulut menahan tawa.
"Ish, Buk! Ya, ada dong. Masa Irga gak punya malu!"
Di lain sisi, Aldo tengah mondar-mandir di kamarnya dengan meletakkan tangan di pinggang.
"Kamu kenapa sih Nak?" tanya Silki melihat Aldo yang mondar-mandir. Dirinya tahu karena pintu kamar Aldo tak ditutupnya.
"Gak papa Ma," jawab Aldo singkat.
"Kenapa? Mikirin Dayana, ya?" goda Mama dan masuk ke dalam kamar memilih duduk di pinggir ranjang.
"Enggak, kok malah mikirin dia?"
"Ya, mana tau kamu lagi bingung. Mau lamar Dayana atau enggak. Saran Mama, terima seseorang yang sudah jelas baiknya ke kamu," ucap Mama sebelum pergi meninggalkan kamar.
Aldo sudah memberi tahu bahwa dirinya dan Dayana sudah pernah ketemu secara tak sengaja sebelumnya.
Dari situ, Silki dan Pram malah semakin semangat untuk menjodohkan Aldo dengan Dayana. Karena tanpa tahu status sosial seseorang Dayana dengan berani membantunya.
"Aldo, nih kamu anter ke rumah Dayana. Jemput aja dia sekalian, bentar lagi dia juga pulang ngajar," ucap Silki sambil memberikan rantang.
"Mama tau dari mana dia bentar lagi pulang?"
"Kata Mamanya."
"Sekolah mana, Ma?"
"Tuh, SMA xxx."
"Yaudah, ntar Aldo anter."
"Jemput Dayana juga."
__ADS_1
"Iya, Mama," jelas Aldo menampilkan giginya yang rapat bawah juga atas.
"Haha, biasa aja kali Do."
"Lagian Mama, ada-ada aja!"
"Kok ada-ada aja?"
"Ngapain Aldo yang jemput dia, coba?"
"Kan, biar sekalian gitu. Lagian kamu lewati rumah dia nanti."
"Iya, Ma."
Mau tak mau, Aldo cuma mengikuti keinginan Mamanya saja. Bagaimana pun tak mungkin dia melawan ucapan sang Mama.
Jam sudah menunjukkan pukul 11, anak murid yang lainnya pulang pukul 2 sore. Dayana sudah selesai kelas pada hari ini.
Ia segera memakai tas ransel dan berjalan ke luar sekolah, saat dia sudah sampai di halaman. Matanya menyipit melihat siapa yang ada di luar gerbang.
"Ngapain tuh orang?" tanya Dayana dan berjalan mendekat.
"Aldo, kamu ngapain?" tanya Dayana menghampiri Aldo yang masih berada di samping mobilnya itu.
"Jemput kamu," kata Aldo singkat. Dayana langsung membulatkan matanya dan menatap ke arah mobil.
"Siapa yang nyuruh? Mama kamu gak ada, kok."
"Yap, Mama yang nyuruh."
"Ngapain mau?"
"Sekalian ngantar makanan buat Mama kamu soalnya."
Aldo hanya mengangguk karena memang Silkilah yang menyuruh dirinya, Dayana langsung membuang napas kasar.
"Lain kali, kalo kamu terpaksa melakukan sesuatu itu gak usah aja dilakukan," jelas Dayana menatap ke arah samping.
"Ya, maunya sih gitu. Tapi, melihat yang menyuruh melakukan hal itu adalah orang tua. Jadi, lebih baik lakuin hal itu dengan terpaksa meskipun gak dapat pahala."
"Dih!" ketus Dayana dan bersedekap dada.
"Mau di sini terus?" tanya Aldo menatap Dayana.
"Ya, pulanglah!"
"Yaudah, yuk!"
Aldo mengelilingi mobil dan masuk ke bangku sopir sedangkan Dayana duduk di sampingnya.
"Gimana kerjaannya?" tanya Aldo di sela-sela perjalanan menuju rumah Dayana yang tak terlalu macet.
"Gak gimana-gimana, biasa aja sih," jawab Dayana seadanya sambil menatap wajah Aldo.
"Semua murid bisa diatasi?"
"Alhamdulillah. Lu sendiri, kapan mulai kerja?"
"Belum tau, mungkin seminggu lagi. Masih mau istirahat dulu."
__ADS_1
"Oh ...."
"Gak mau singgah ke mana, gitu?" tanya Aldo menawarkan diri.
"Enggaklah, udah capek pen cepat istirahat aja."
"Tadi, katanya semua murid bisa diatasi kok malah endingnya capek, sih?"
"Kan, emang habis kerja tuh langsung capek, sih."
"Oh, iya, tadi kok aku gak liat siapa namanya?"
"Siapa?" tanya Dayana menautkan alis.
"Yang kemarin ikut pulang pas dari pantai."
"Oh, Irga?" tanya Dayana mencoba menebak.
"Iya, dia di mana?"
"Masih belajar 'kan belum jadwalnya pulang."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mereka tak membuka percakapan lagi hingga akhirnya Aldo meminggirkan mobil di salah satu perbelanjaan.
Dayana yang fokus ke handphone hanya menatap punggung yang semakin menjauh dan masuk ke dalam tempat itu.
"Mau ngapain dia?" tanya Dayana dan kembali mengalihkan pandangannya.
Setelah menunggu 10 menit, Aldo masuk kembali dan meletakkan kresek berwarna putih itu kepangkuan Dayana.
"Apa, ini?" tanya Dayana melihat isi kantong kresek sedangkan Aldo memakai kembali sabuk pengaman juga mulai menghidupkan mobil.
"Buat apaan ciki sebanyak ini?" tanya Dayana menatap wajah Aldo yang fokus ke jalanan.
"Gak papa, biar kamu gak badmood. Mana tau kamu badmood mendadak jadi bisa langsung makan cikinya, deh," terang Aldo tak mengalihkan pandangannya.
Dayana hanya mengangguk, "Makasih," ucap Dayana dan hanya dibalas dengan anggukan saja.
Mereka telah tiba di halaman rumah Dayana, saat wanita itu hendak turun Aldo langsung menahannya.
"Saya gak mampir deh, kamu kasih aja ini ke Mama kamu," jelas Aldo memberikan rantang 4 tingkat.
"Lah, kenapa gak masuk?" tanya Dayana mengambil gagang rantang itu.
"Lagi ada kerjaan dadakan, mangkanya harus segera pergi."
"Oh, okey. Makasih, bilangin ke Tante makasih juga."
"Iya, sama-sama."
Dayana mengambil gagang rantang turun juga kresek berwarna putih itu, sebelum masuk ke rumah dirinya memastikan Aldo sudah keluar dari halaman rumahnya.
Setelah melihat mobil laki-laki itu semakin menjauh, Dayana memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Assalamualaikum," salam Dayana masuk begitu saja karena pintu tak dikunci. Dirinya langsung berjalan ke arah dapur.
"Assalamualaikum Mama!" teriak Dayana meletakkan rantang.
Mamanya yang tak sadar akan keberadaan anaknya itu langsung kaget hingga bahu wanita itu terangkat.
__ADS_1
"Astaghfirullah, kamu ya Yana!" marah Mama dengan memegang dada menatap ke arah Dayana.
"Hahahah," tawa Dayana menggelegar melihat ekspresi dari Mamanya. Padahal wajah Mamanya saat ini menampilkan kemarahan, bukannya takut malah sebaliknya.