Cuma Angka

Cuma Angka
Jalan Bareng


__ADS_3

Kembali berjalan ke arah bangkuku tadi, "Siapa Yana?" tanya Papa yang membuat beberapa pasang mata menatapku.


"Kerjaan, Pa," jawabku seadanya.


"Nanti, kamu temani Aldo jalan-jalan sekitar kota ini, ya."


"Ha? Mau ngapain jalan-jalan sekitaran kota Pa?"


"Ya, biar dia tau kota ini. Dia 'kan udah lama gak ke sini."


"Biar kalian juga akan semakin dekat," timpal Pram dengan tersenyum, "iya, gak Ma?" Lengannya menyenggol lengan wanita yang ada di sampingnya.


"Iya dong Pa," jawab Silki dengan tersenyum. Aku hanya bisa menampilkan senyum kikuk dan kembali makan.


Sedangkan laki-laki itu malah terlihat santai dengan fokus pada makanan yang padahal hanya tinggal sedikit saja.


Setelah selesai makan-makan, semua orang pindah ke depan. Aku mengantarkan cake yang dibuat Mama ke depan tempat mereka bercengkrama sekarang.


"Mau minum apa, Tante?" tanyaku ramah.


"Kamu buatkan teh aja," potong Papa dan langsung kuangguki.


Mereka kembali bercerita ria, entah apa yang mereka katakan. Sedangkan aku segera merebus air agar bisa membuat teh.


Sembari merebus air, kurapikan kembali meja makan. Kuletakkan ke wastafel agar mudah dicuci nantinya juga meja yang tak lupa ku-lap.


"Siapa yang masak makanannya?" tanya Aldo yang dari tadi hanya fokus ke handphone. Aku yang berada di sebrang tepat di depan dia langsung melihat dan menghentikan aktivitasku.


"Mama," jawabku cepat dan kembali membersihkan meja.


"Kenapa tidak kau?"


"Aku tak bisa masak."


Dia hanya mengangguk dan aku kembali menjauh dari meja saat meja telah rapi dan tak ada lagi sebutir nasi pun.


"Aldo, jangan dijaga banget. Gak akan hilang itu, kok!" teriak Pram dan membuat Dayana yang paham ke mana arah pembicaraannya hanya bisa menahan malu.


Aku menuangkan air panas ke dalam teko yang besar lalu kutuang ke dalam gelas-gelas yang beralaskan nampan.


"Kau mau?" tanyaku berhenti tepat di meja makan menawarkan Aldo.


"Boleh," jawabnya singkat. Aku langsung menaruh satu gelas teh untuknya dan untukku. Setelahnya, aku meletakkan ke depan di tengah-tengah tawa kedua orang tua ini yang menggelegar.


"Assalamualaikum," salam orang dari depan dan membuat aku terhenti untuk melanjutkan langkah ke belakang.


Kulihat agar jam yang tertempel di dinding ruang tamu, "Apa Arhan yang datang, ya?" gumamku dan berjalan ke arah pintu dengan tetap membawa nampan.


"Eh, kamu udah datang?" tanyaku dan menutup kembali pintu berjalan ke luar.


"Udah Bu Yana," jawabnya santai dengan duduk di bangku teras.


"Sama siapa?" tanyaku melihat ke arah halaman.

__ADS_1


"Diantar supir."


"Kamu mau makan dulu?" tanyaku menawarkan.


"Gak usah Buk Yana," jawab Arhan.


"Kamu pulang dulu, ya?"


"Iya, Bu Yana," kata Arhan, "eh Kak Yana."


Aku mengerjitkan dahi, "Eh, kok Kak Yana?"


"Kan, ini di luar sekolah. Bukan di sekolah kalau di sekolah baru saya panggil ibu."


"Haha, baiklah Arhan. Terserah kamu aja," pasrahku dengan tertawa.


Pintu dibuka oleh seseorang, sontak aku dan Arhan melihat ke arah pintu, "Yana, kamu bukannya temanin Aldo malah ketawa di sini," ujar Mama dengan sedikit marah.


"Eh, iya, biarin ajalah. Lagian, dia juga sibuk sama handphone-nya," kataku dan menatap ke depan.


"Ya, tetap gak boleh gitu juga dong," timpal Mama, "lagian, ini siapa? Kenapa siang-siang bertamu ke rumah orang? Kek gak kerja aja."


Arhan berdiri sedangkan aku masih duduk di bangku, "Hey, Tante. Kenalin saya Arhan, saya muridnya Kak Yana dan memang saya gak kerja," kata Arhan mengulurkan tangannya ke hadapan Mama.


Mama menyambut tangan Arhan dan Arhan mencium tangan Mama dengan takzim.


"Yaudah, kalian masuk aja kalo gitu," ajak Mama kepada Arhan. Bagaimana pun tak enak dengan Aldo yang tadi kutinggal di meja makan.


"Gak usah deh Tante, Arhan pulang aja. Keknya waktunya kurang tepat, lagian Arhan mau belajar dan bahas tentang mata pelajaran Kak Yana. Bukan mau bertamu," tolak Arhan dengan lembut.


"Kamu pulangnya sama siapa Arhan?" tanyaku yang mengingat bahwa dia ke sini tadi diantar sopirnya.


"Naik bus Kak Yana, gak papa saya tau kok jalannya. Kalau gitu saya pulang dulu, ya, mari," pamit Arhan dan melangkah pergi.


Aku menatap punggung laki-laki yang menjauh itu, "Udah, sana temenin Aldo," perintah Mama dan hanya kuanggukan saja.


Kami masuk lagi ke dalam dan kulihat laki-laki itu sudah berada di ruang tamu, aku pun ikut duduk dengan jarak yang lumayan jauh darinya.


"Siapa Yana?" tanya Papa dan membuat pandangan menatap ke arahku kecuali Aldo yang terus fokus ke handphone-nya.


"Murid Yana, Pa," jawabku jujur.


Mereka hanya ber 'oh' ria saja, aku kembali mendengarkan pembicaraan mereka yang aku sendiri pun tak paham dengan alurnya.


"Yana, kamu sibuk?" tanya Silki menatapku.


"Enggak, Tante. Kenapa?" tanyaku tersenyum ke arahnya.


"Temenin Aldo jalan-jalan, biar kalian juga bisa saling kenal satu sama lainnya," terang Silki dan menyenggol tangan anaknya membuat Aldo menatap.


Aku tersenyum kikuk, menggaruk tengkuk yang tak gatal, "Hehe, b-boleh kok Tante."


Aldo berdiri, "Kami permisi," pamit Aldo lebih dulu.

__ADS_1


'Lah, gue belum dandan udah mau jalan aja,' batinku. Aku segera pamit dengan membungkuk dan masuk lebih dulu ke dalam kamar.


'Takutnya, ntar aku di turunkan di jalan pulak. Mending aku bawa dompet dan dandan sedikit deh,' batinku dan mengambil tas.


Di dalam mobil tak ada yang membuka suara, aku pun sibuk melihat ke arah jalanan.


"Ehem!" dehem dia dan aku langsung melihat ke arah dia.


"Kenapa?" tanyaku menatap dia dengan menaikkan alisku.


"Mm ... maaf tentang Mama yang bilang kalo kita akan di jodohkan."


"Iya, gak papa."


"Jangan terlalu dipikirin."


"Gak, kok."


"Soalnya aku udah punya pacar."


"Aku juga punya tunangan."


Dia terdiam dengan mengangguk, dikira gue akan diam aja gitu?


"Kita mau ke mana?" tanyaku karena dari tadi kelihatannya tak ada berhenti sama sekali.


"Gak tau."


"Lah?"


"Kan, kamu yang tau jalanan di sini. Aku mana tau."


"Kamu mau ke mana?" tanyaku menatap dia.


"Tempat yang kamu sukai aja."


"Suka pantai?"


"Suka, kok."


"Yaudah, kita ke pantai aja." Aku menunjukkan jalan menuju pantai yang biasanya aku kunjungi.


Di jalan menuju pantai, banyak pengedara yang juga ke sana. Padahal, hari masih siang belum sore.


"Kok banyak yang datang, sih? Kan, masih panas," gumamku melihat ke arah jalanan.


"Emangnya biasanya enggak?" tanya Aldo yang ternyata mendengar ucapanku.


"Enggak terlalu kemarin-kemarin."


"Sering ke sini?"


"Lumayan, kalo lagi gabut aja."

__ADS_1


"Gabut atau galau?"


"Eh!" sentakku saat sadar akan pertanyaan dia.


__ADS_2