Cuma Angka

Cuma Angka
Sabuk Pengaman


__ADS_3

Dia tak ada bertanya soal apa pun itu padaku, kubiarkan sampai jadwal makan siang tiba. Aku bergegas ke kantin untuk membeli nasi atau sebagainya.


Suara dering berbunyi sebelum kakiku tiba di ruang kantin, segera kuangkat kala melihat nomor yang tertera tak pernah kusimpan.


"Assalamualaikum?" salamku dan diam sebentar menunggu jawaban.


"Waalaikumsalam. Benar dengan Dayana?" tanya orang yang ada di sebrang sana.


"Iya, ada apa?" tanyaku menautkan alis karena merasa tak pernah memberikan nomor ke sembarang orang.


"Nanti pagi sudah diberi tau oleh Papamu 'kan untuk mengisi seminar di sekolah?"


"Ha? Seminar? Gak ada dikasih tau Papa, kok. Kata Papa cuma menemani doang."


"Oh, tidak. Papamu menyuruh kau untuk mengisi seminar dan masuk sebagai guru pengganti sementara seharusnya Papamu yang masuk karena berhubung dia sehabis pulang dari luar kota jadi kau yang ditunjuk," jelas orang tersebut.


"Maaf, ini siapa ya?"


"Staff sekolah."


Kutarik napas perlahan, Papa ternyata menjebakku. Katanya hanya menemani ternyata aku yang disuruh masuk ke sekolahan itu.


Aku memang pernah mengajar di SMP. Namun, itu sudah sangat lama hingga aku memilih untuk kerja kantoran saja dan melanjutkan pendidikanku.


Bukan tanpa alasan aku memutuskan untuk berhenti, karena anak-anak di situ sangat nakal-nakal dan membuatku tak tahan.


Lebih baik aku berhenti daripada harus memiliki wajah tua padahal belum waktunya, "Baik Pak, nanti kirim alamat sekolahnya. Saya akan datang," ucapku dengan terpaksa.


Mau tak mau aku harus mau, bagaimana pun kesian Papa karena baru pulang dari luar kota. Jadi, tak ada salahnya jika aku membantu dirinya.


Telepon kuakhiri, kembali melaju ke arah kantin. Nama sekolah dan juga tema seminar besok sudah diberikan. Nambah kerjaan lagi! Gerutuku dan hanya bisa diam saja.


Pemilik perusahaan ini adalah teman Papa, jadi biarkan beliau nanti yang berbicara dengan bosku terlebih aku bukan libur hanya sehari.


Arya mendekat ke mejaku dan duduk di depan mejaku tanpa sepatah kata pun, aku hanya diam dan melihat ke arah laki-laki itu.


"Kenapa gak di makan?" tanyanya melihat aku yang menatap dirinya.


"Ah, iya Pak Arya ini juga saya akan makan."


"Ha? Pak Arya? Tumben sekali kau manggil aku dengan sebutan itu."


"Ha?" tanya Dayana yang mulai tersadar bahwa di depannya adalah laki-laki yang nyebelin.


"Ngapain di meja saya?" tanya Dayana yang sepertinya sudah menyadari kehadiran Arya.

__ADS_1


"Emangnya gak boleh? Saya mau nanya sesuatu."


"Saya gak minat jawab!" kataku ketus sambil memulai memakan.


"Kamu kalau ketus-ketus gini, lama-lama buat saya malah jatuh cinta, lho."


Dayana tersedak mendengar penuturan Arya, segera ia mengambil air minum agar melegakan tenggorokannya.


"Eh, maaf, saya gak tau kalo kalimat saya bisa buat kamu sampai tersedak."


"Gosah geer deh Arya! Lagian gue heran deh, banyak cewek ngapain nanya-nanya ke gue sih?"


"Lah, emangnya gak boleh?"


"Gak!"


Arya mendekat ke arah Dayana membuat wanita itu menjauh tapi tetap berada di kursinya, "Ingat kata saya tadi, jangan salahkan saya kalo saya jatuh cinta sama kamu karena keketusan kamu itu," bisik Arya dan mengedipkan mata sebelah ke arah Dayana sebelum akhirnya pergi kembali ke meja kerjanya.


Dayana mengedipkan matanya, mencoba memahami apa yang dikatakan Arya tadi, "Gelo beut dah tu orang!"


Setelah kepergian laki-laki itu, Dayana menghabiskan makanan yang tadi sempat terjeda.


Waktu pulang kerja telah tiba, Dayan berjalan kr arah loby, dirinya meyipitkan mata menatap punggung seseorang.


"Kamu? Ngapain di sini?" tanya Dayana berhenti di samping wanita itu sambil menunjuknya.


"Tentang apa?" tanya Dayana menaikkan alisnya keheranan.


"Jangan di sini, ayo ikutin aku!" titahnya.


Dayana berjalan mengikuti Zahra, ya, sepupu Irga dan calon suami dari laki-laki dari masa lalunya itu. Entah apa gerangan membuat Zahra datang ke kantor Dayana.


Mereka berhenti di taman sebrang kantor, Dayana ikut duduk di samping wanita itu dengan wajah yang masih kebingungan.


"Langsung ke intinya aja, apa lo mantannya Andi?"


"Ha?"


"Udah, gak usah sok kaget gitu. Gue tau dari handphone Andi yang masih simpan nomor lu juga chat kalian."


"Iya, gue mantan Andi."


"Lo masih ada rasa sama dia?"


"Enggak."

__ADS_1


"Haha, benarkah itu?"


Dayana menatap kaget ke arah wanita di depannya kini, 'Apa maksudnya? Apakah dia melihat aku pernah membalas chat dari tunangannya itu? Bahkan, nomornya saja sudah ku-blok.'


"Kenapa kau tak percaya?"


"Secara, gue liat ada nomor lain yang masuk ke handphone dia."


"Dan urusannya sama gue?"


"Itu pasti nomor lo," tuduh Zahra dengan suara yang sedikit tinggi.


"Emangnya yang tau nomor handphone tunangan lu itu cuma gue doang?"


"Maksud lu?"


"Ck, lu tanya aja sama manusianya sendiri. Saran gue, sebelum labrak orang lain interogasi dulu laki-laki lu!" Dayana bangkit dan ingin melangkah pergi.


"Gue peringatin sama lu buat jangan deket-deket lagi sama Andi!" tekan Zahra dan membuat Dayana terhenti.


"Bahkan, gue ogah mengakui dia sebagai mantan kekasih," jawab Dayana remeh dan kembali berjalan meninggalkan Zahra yang masih kesal.


"Orang emang dasar tuh cowok keganjenan, malah salahkan gue. Lagian, siapa juga mau sama cowok modal omong kosong," gerutu Dayana sambil berjalan untuk menuju halte kantor.


Sangat disayangkan, ketika dirinya keluar dari taman dan ingin menyebrang. Bus sudah pergi jauh, "Woy, bus! Tungguin!" teriak Dayana yang sudah ada di halte.


"Yah ... naik apa dah ini pulangnya?" tanya Dayana dengan melihat arloji di tangan kirinya.


Suara klakson membuat Dayana menatap ke arah depan, sudah ada mobil seseorang yang ada di depannya.


"Yuk, aku antar!" ajaknya menurunkan kaca mobil.


"Gak!" ketus Dayana mengotak-atik handphone.


"Bentar lagi hujan, dan di sini akan sunyi. Ntar, terjadi sesuatu sama lu!"


"Bener juga, sih," gumam Dayana melihat ke kanan dan kiri jalan.


Mau tak mau, Dayana berjalan dengan pelan ke arah mobil Arya. Ia membuka pintu mobil dan duduk di jok depan samping Arya.


Laki-laki itu tersenyum, "Nah, gitu dong. Kalo diajak itu mau, gak usah nolak," kata Arya yang berhasil membuat Dayana mau pulang bersamanya.


Mobil akhirnya dijalankan. Hingga, baru beberapa meter dari halte kembali dihentikan Arya, "Kenapa?" tanya Dayana menatap Arya.


Arya menatap ke arah Dayana, ia mendekat ke arah wanita itu, "Eh-eh, lu ngapain?" tanya Dayana yang takut dan terus menjauh dari Arya.

__ADS_1


"Harus pakai sabuk pengaman, agar gak terjadi apa-apa nantinya," ungkap Arya memasangkan sabuk pengaman milik Dayana.


Melihat apa yang sebenarnya terjadi, membuat roba merah malu timbul di pipi Dayana. Dirinya mengira bahwa laki-laki itu akan melakukan hal yang macam-macam ternyata hanya memasangkan sabuk pengaman.


__ADS_2