Cuma Angka

Cuma Angka
Tuaan Kamu


__ADS_3

"Biasa aja kali ngomongnya, kelamaan jomlo jadi gini, deh!" ketusnya dan berlalu pergi.


Apa katanya? Kelamaan jomlo, bukan kelamaan jomlo cuma orang kantor saja yang tak tahu. Lagian, apakah harus orang-orang tahu siapa pacar/gebetan kita? Kan, gak harus sama sekali.


Dayana tak menghiraukan lagi dan melupakan kejadian tadi, ia segera menyelesaikan tugas karena jam sudah menunjukkan semakin sore.


Selesai dengan tugas yang menumpuk, ia segera berberes barang bawaannya tadi, "Mm ... kamu naik apa?" tanya seseorang yang membuat Dayana memberhentikan aktivitasnya yang sedang bebenah.


Ia bukannya langsung menjawab, malah menatap dengan wajah aneh ke arah laki-laki itu, "Lo nanya gue?" tanya Dayana dengan menunjukan dirinya.


Arya hanya mengangguk pertanda memang dialah yang sedang bertanya dengan Dayana, "Gue naik bus palingan," kata Dayana melanjutkan bebenahnya.


"Gimana kalo bareng gue? Gue anter sampe rumah, deh."


"Dih, gak usah. Gue bisa sendiri!" ketus Dayana dan berlalu pergi meninggalkan meja kerjanya juga Arya.


Arya yang merasa tawarannya di tolak langsung berlari menuju ke Dayana, "Kenapa lu gak mau?" tanya Arya yang sudah mendapati Dayana.


"Kenapa lu maksa?!" omel Dayana yang mulai risih dengan gerak-gerik Arya.


"Ya, apa salahnya menerima bantuan?"


Dayana yang sudah geram pun akhirnya berhenti dan menatap ke arah Arya yang juga spontan ikut berhenti, "Dengar, ya, Pak Arya! Saya tak ingin menerima penawaran Anda, jadi terima kasih buat tawarannya dan Anda bisa ajak wanita-wanita lain. Contohnya, wanita yang ada di belakang, noh!" Dayana langsung pergi meninggalkan Arya sedangkan sang empu melihat ke arah belakang.


Benar saja, beberapa wanita tengah menatap dirinya. Ia langsung terfokus kembali dan mencari keberadaan Dayana.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, Arya melihat Dayana sudah menatap laki-laki yang tak dikenal olehnya. Mereka pun berjalan bersama.


Arya berjalan ke arah parkiran kantor menuju mobilnya, ada apa denganku? Mengapa aku sangat ingin bisa dekat dengan Dayana.


Apakah karena gaya dia dalam bersikap yang tak terlalu suka berteman dengan orang baru atau apa yang membuat aku tertarik?


Tak biasanya aku begini, entah kenapa! Berbagai macam kalimat menyerang isi kepala Arya. Ia segera masuk ke dalam mobil berwarna hitam miliknya.

__ADS_1


"Lu ngapain jemput gue Ga?" tanya Dayana. Kini, mereka tengah di halte menunggu bus datang.


"Gak papa Mbak, mastiin aja kalo calon masa depan gue baik-baik aja," kata Irga dengan tersenyum ke arah Dayana.


Dayana membuang wajah. Sebal! Rasanya melihat tingkah Irga yang sok dewasa ini, ataukah memang dia telah dewasa?


Entahlah, di mata Dayana dia tetaplah anak-anak dan umurnya masih muda darinya. "Mbak, liat tuh mobil!" seru Irga menunjuk sebuah mobil membuat Dayana juga menatap ke arah yang disuruh Irga tadi.


"Kenapa?" tanya Dayana setelah melihat mobil yang dimaksud Irga tadi.


"Suatu hari Mbak akan ada di dalamnya dan gue yang bawa tuh mobil," papar Irga dengan wajah pede.


Seketika, Dayana langsung tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan anak laki-laki itu.


Pasalnya mobil yang ditunjuk oleh Irga tadi ialah mobil Lamborghini Aventador. Harga mobil itu mulai 6,4 Milyar hingga 8,7 Milyar.


Bukan. Bukan maksud Dayana untuk menjengkali rezeki seseorang, hanya saja rasanya sangat mustahil apalagi kehidupan tahun berikutnya pasti akan lebih mahal kebutuhan yang lainnya.


Irga menatap Dayana saja, ia memasang wajah kesal. Dirinya paham apa sebabnya yang membuat Dayana bisa tertawa sebegini parah.


"Mbak gak boleh menjengkali rezeki orang, lho!" peringat Irga bersedekap dada.


Dayana diam sebentar dan menatap ke arah Irga, ujung matanya ia periksa karena ditakutkan ada air mata yang keluar.


"Bukan begitu Ga, gue sama sekali gak ada menjengkali rezeki lu. Cuma, lu pikir aja deh. Semakin lama itu harganya pasti akan naik, dan kebutuhan tiap tahun itu akan semakin mahal. Masa, lu lebih mementingkan mobil daripada kebutuhan yang emang benar-benar penting?" tanya Dayana dan membuat Irga terdiam.


"Lebih baik, lu buat uangnya jadi modal usaha agar semakin sedikit jumlah pengangguran yang ada di Indonesia ini," sambung Dayana menjelaskan yang entah dipahami oleh Irga atau tidak.


"Hmm ... benar juga sih lu Mbak. Yaudah deh, ntar gue ajak lu kerja sama. Eh, bukan! Lu yang kelola 'kan lu ntar calon bini guenya," tutur Irga begitu saja tanpa beban.


"Gue tampol lu Ga!" geram Dayana.


Bus telah datang, mereka dan penunggu lainnya naik ke dalam bus. Seperti biasanya, Dayana pasti memilih duduk di dekat kaca memang katanya dirinya ingin seperti itu.

__ADS_1


Agar, ia tak merasa sumpek atau lainnya dan tak terjadi adegan mual dan muntah di dalam bus, "Mbak, nanti malam gue jemput, ya!" bisik Irga yang takut orang di dalam bus dengar atau menganggu karena padat.


"Mau ngapain? Kerjaan gue banyak, ih!" tolak Dayana yang memang banyak pekerjaan.


"Temenin main futsal atuh," bujuk Irga dengan wajah yang dibuat sok imut padahal tak sama sekali ada imutnya.


Dayana hanya menarik nafas pelan dan memalingkan wajahnya, ia sangat malas melihat futsal seperti ini. Karena nantinya di sana ia akan melihat banyaknya wanita yang memberi semangat, video, dan menyiapkan minuman ke pasangannya.


Apakah dia harus melakukan hal yang sama ke Irga? Oh, tentu jangan sampai terjadi hal itu. Bisa-bisa Irga akan geer dan pede tingkat dewa.


Dayana yang tadinya melihat ke arah jalanan, seketika menatap ke arah Irga saat laki-laki itu berucap, "Di sini saja Buk." Ia segera bangkit dan mempersilakan seorang ibu muda yang sedang mengandung. Terlihat jelas dari perutnya yang sudah membesar.


Sedangkan Irga berdiri dengan pegangan di tiang yang telah disediakan, saat wanita itu ingin duduk Dayana memberikan senyuman ramah terlebih dahulu.


"Makasih, ya, Dek," ujar orang itu menatap Irga. Irga yang merasa dibicarakan pun melihat dan mengangguk ke arah wanita itu.


"Udah besar, ya, Buk. Mau melahirkan, ya?" tanya Dayana melihat ke arah perut wanita itu.


"Iya Kak," jawabnya.


"Eh, jangan panggil Kakak. Ibuk lebih tua."


"Hehe, umur saya masih 19 tahun Kak," jawabnya tersenyum.


Sedangkan Dayana yang mengucapkan bahwa wanita itu lebih tua langsung menutup mulutnya dan mendatarkan wajahnya, ia menatap ke arah Irga dan melihat laki-laki tersebut pun tengah mengulum senyum.


"Ayahnya mana? Kenapa kamu pergi sendirian?" tanya Dayana yang kepo.


"Ada Kak, cuma lagi pengen jalan-jalan aja."


"Gak boleh sendirian, kalo kenapa-kenapa nanti gak ada yang jaga kamu lho. Lagian, kalo mau jalan-jalan mah di sekitar kampung jangan naik bus gini," jelas Dayana menasehati.


"Iya Kak, makasih buat nasehatnya."

__ADS_1


__ADS_2