Cuma Angka

Cuma Angka
Mengakui Kesalahan


__ADS_3

"Okey, semua. Saya di sini hanya seminggu sebelum kepergian kalian untuk PKL ke luar kota beberapa bulan ke depan," ujar Dayana dengan tubuh tetap duduk di meja.


"Jadi, kita hanya sharing saja. Meskipun sebenarnya ada tugas dan materi yang diberikan untuk ngajar kalian. Cuma, no problem. Kalian sudah pasti lebih paham dan mengerti ketimbang saya yang baru kali ini masuk ke kelas ini."


"Pesan saya, jadilah orang yang lebih mementingkan pendidikan terkhusus untuk wanita yang ada di zaman sekarang. Sangat miris rasanya saat melihat anak-anak remaja yang bergaya pacaran seolah orang dewasa."


"Bukan. Bukan kami iri atau dengki, hanya saja sangat disayangkan jika waktu kanak-kanak dibunuh begitu saja karena kesalahanmu sendiri. Jadilah wanita yang seperti matahari, semua orang akan menunduk dan tak berani melihatmu kecuali dia yang memang ditakdirkan Tuhan padamu."


"Bu!" teriak seseorang sambil memganggat tangannya.


"Iya?" tanya Dayana mencari wajah siapa yang bertanya.


"Kalau mencintai seseorang itu boleh?"


"Boleh, malah kalo tidak mencintai seseorang itu yang gak normal. Namun, ingat, jangan pernah mengharapkan seseorang itu membalas rasamu."


"Juga ... satu hal lagi, selain masalah percintaan. Kalian harus punya skill dalam hidup ini juga pintar berbicara di depan, karena apa? Kalo kalian punya ijazah setinggi apa pun nilainya tapi skill kalian gak ada dan public speaking kalian zero. Itu sama aja kalian gak akan bisa dan sulit diterima di luaran sana."


"Kehidupan akan dimulai setelah kalian keluar dari sini dan mulai bersaing dengan jutaan orang."


Semua terdiam dan menatap ke arahku, aku pun mulai bangkit dan menatap semua yang ada, "Ada yang mau bertanya lagi?" tanyaku tersenyum menatap satu per satu orang.


Mataku terfokus melihat ke meja Irga, laki-laki itu malah sibuk dengan HVS dan penanya. Aku mendekat tapi tak diketahui olehnya, ia masih fokus menunduk.


"Bagusan warna biru, gak sih?" tanyaku tiba-tiba yang berada di sampingnya.


Ia menatapku dan menutup sketsa itu dariku, aku sedikit tertawa, "Tak apa, memang guru adalah inspirasi, bukan?" tanyaku tersenyum seraya mulai mundur kembali ke depan.


"Kalian punya kertas HVS?"


"Punya Buk!" jawab mereka serempak kecuali Irga.


"Baik, kalian boleh menggambarkan suatu profesi yang kalian inginkan dan nanti ceritakan apa alasan juga bagaimana caranya dirimu ingin mewujudkan cita-citamu itu."


Semua meletakkan HVS ke meja dan tangan mulai lihai menari di atasnya dengan pensil, aku yang mulai ingin menyisiri tiap baris meja murid kembali melangkah saat handphone berdering.


Kuangkat dan berjalan ke ambang pintu, saat tengah fokus dengan panggilan kutatap ke arah Irga tanpa sengaja.


Ternyata laki-laki itu sedang menatapku sehingga membuat dirinya gelagapan menunduk saat pandangan kami bertemu.


"Iya, Arya. Saya sudah izin kok buat gak masuk seminggu ke depan," kataku pada Arya yang mengabari.


"Aku pikir kau sakit, mangkanya aku bertanya."


"Enggak, kok, alhamdulillah aku baik-baik aja."


"Yaudah kalau gitu, nanti aku jemput, ya."


"Oh, gak usah. Lagian aku pulang ngajar jam 2 bukan jam 4."

__ADS_1


"Oh, gitu, ya? Yaudah, deh. Semangat!"


"Ya, terima kasih."


Dayana memasukkan kembali handphone ke saku rok plisket dan memutari anak-anak yang tengah asyik menggambar juga sudah ada yang mewarnai.


"Wah ... apa kau ingin menjadi seorang penulis?" tanyaku kala melihat tumpukan buku yang ada.


"Iya Buk Yana."


"Kenapa?"


"Karena, aku ingin setiap kata yang tak mampu kuucap dapat kutuliskan."


"Kenapa kau tak mampu berucap?"


"Karena, tak selamanya berucap akan berdampak ke hal baik. Bisa jadi malah menimbulkan masalah baru."


"Kau cerdas!" seruku seraya mengusap bahunya pelan.


Aku berhenti ke bangku laki-laki yang berjumpa denganku di koridor tadi, "Kau gambar apa itu?" tanyaku yang tak paham dengan apa yang tengah dia gambar.


"Dimas, Buk," jawabnya mendongak dan tersenyum.


"Ha?" tanyaku menautkan alis yang tak paham.


"Nama saya Dimas, Buk."


"Seorang penjahat atau perampok."


"Ha? Kau ingin jadi kriminal?" tanya Dayana yang kaget mendengar ucapan anak laki-laki ini. Bisa-bisanya ada orang yang berkeinginan jadi penjahat.


"Iya, Buk. Perampok hati Ibu," godanya yang bukan membuat aku baper melainkan mual.


"Cieeee!" sorak semua murid yang ada.


"Ehem!" dehem dari suara Irga membuat semua anak diam kecuali aku yang menjadi tersenyum.


"Kenapa Ga? Kesedek lu?" tanya Dimas sengit.


"Enggak, sedikit keselek aja denger gombalan receh!"


"Dih, yang gue gombalin Buk Yana kok. Bukan lu."


"Buk Yana juga ogah kali nanggapin gombalan lu, mangkanya dia diam aja dari tadi," kata Irga membela Dayana. Yanh membuat wanita itu mengulum senyum.


Semua orang terdiam kala bel berbunyi, "Lah, kok bel pulang?" tanya Dayan saat mendengar intonasinya menyuruh pulang.


"Yee ...!" seru murid yang ada. Tentu saja mereka gembira, karena pulang lebih cepat.

__ADS_1


"Tenang semua! Bisa jadi belnya salah pencet, saya tanya ke Pak Wahyu dulu, ya."


"Iya, Buk."


Dayan melangkah keluar kelas, "Pak, apa salah pencet bell?"


"Tidak Yana, karena akan ada rapat untuk ketentuan di mana kelas 12 akan PKL juga tentang guru baru yang akan masuk. Jadi, anak-anak dipulangkan saja," jelas pak Wahyu yang berada di koridor.


"Baik, terima kasih Pak. Saya gak ikut rapat 'kan Pak?"


"Enggak Yana."


"Alhamdulillah," ucap Dayana begitu saja dari bibir.


Ia kembali lagi ke arah kelas dengan beberapa murid yang sudah menyandang tas, "Astagfirullah kalo kalian, ya. Bisa-bisanya udah pake tas aja."


"Haha, emang pulang 'kan Buk?"


"Huum, kalian boleh pulang."


"Bersiap!" tegas Irga dan semua yang sibuk ingin menggunakan tas langsung terhenti.


"Beri hormat!"


"Terima kasih Buk Yana."


"Sama-sama kalian semua," kata Dayana yang ikut bahagia karena hari pertama berjalan lancar.


Satu per satu berebut untuk salim pada Dayana, sedangkan Irga tetap sibuk di bangkunya sambil melanjutkan lukisannya tadi.


Hingga, semua telah habis berhamburan keluar kelas. Dayana berjalan menuju bangku Irga dan duduk di depan meja yang telah kosong orangnya.


"Kenapa gak pulang?" tanya Dayana menatap wajah yang fokus menatap kertas.


"Nanti aja Buk Yana. Pulang cepat-cepat juga gak tau mau ngapain di rumah," kata Irga menatap ke arah Dayana dan kembali fokus ke HVS.


"Mmm ... ke mall, yuk! Main time zone atau makan," ajak Dayana dengan senyuman penuh harap.


"Bukannya Ibu tadi bawa bekal, ya?" tanya Irga tetap ke HVS.


"Eh, astagfirullah," kata Dayana memukul keningnya pelan, "itu kamu dapat bekal dari Mama, Ga!"


"Mama udah pulang?"


"Huum, emangnya kamu gak liat Mama kemarin?"


"Enggak, baru datang Mbak sama cowok idaman Mbak itu udah datang aja."


"Ga ... sorry soal itu."

__ADS_1


"Mbak, biasakan meminta maaf menggunakan bahasa Indonesia. Setidaknya, Mbak mengakui bahwa salah. Karena melakukan kesalahan menggunakan Indonesia, maka meminta maaflah dengan kalimat Indonesia."


"Iya Ga, saya minta maaf karena udah buat kamu kesal atau marah sama saya. Percaya, saya gak niat buat lakuin itu."


__ADS_2