
Laptopku ditutup begitu saja oleh Irga, dia membuatku kaget untungnya aku segera menarik tangan dari tombol-tombol itu.
"Dih, lu kenapa sih?!" amukku yang dibuat kaget olehnya.
"Kok Mbak mau sih sama modelan jamet kek gitu?"
"Biarin!"
"Gak! Gue gak setuju Mbak!"
"Lu emang siapa? Bapak gue sampe gue harus minta persetujuan sama lu?" tanyaku dengan sinis
Dia bergeming, mungkin sedang mencari jawaban lain yang bisa membuatku semakin terpancing diri untuk berdebat dengannya.
"Liat aja! Gak akan mau gue lagi nemenin lu begadang Mbak!" ancamnya dan menjauhkan wajah dariku.
"Bodo amat!" ketusku dan kembali membuka laptop. Ya, memang beberapa kali di minggu belakangan ini aku susah tidur. Entah karena alergi yang sering kambuh atau memang mata yang enggan tertutup.
Kalau orang lain saat tubuh sudah letih maka mudah tertidur, berbeda dengan tubuhku yang malah tak bisa langsung tertidur. Padahal tubuh sudah sangat-sangat lelah.
Akibatnya, aku harus ditemani dalam begadang dan sering kali Irgalah yang menemaniku. Dia biasanya akan berbicara atau bermain gitar. Oh, iya, Irga ini sangat jago bernyanyi juga bermain gitar.
Hingga kadang, mampu membuatku tertidur pulas. Dialah kadang yang mematikan sambungan atau bahkan tak mematikan hingga pagi panggilan tetap tersambung.
"Bener, ya? Gak gue temenin begadang nih Mbak?" tanyanya lagi memastikan.
"Iya, nanti gue bisa begadang sama Arya!" ancamku berbohong agar dia tak kembali bertanya.
"Tentu saja boleh," timbrung seseorang yang berada di belakangku. Aku mematung dengan mata yang kubuka lebar-lebar berharap bukan orang yang tadi kusebut namanya hadir di antara kami.
Irga menatap ke arah orang itu dengan wajah penuh amarah, apakah benar orang yang kusebut namanya datang? Aku hanya bercanda tak sama sekali serius.
"Ngapain lu ke sini?" tanya Irga yang sudah bangkit dari tempat duduknya. Dengan sedikit keberanian aku melihat ke belakang dengan wajah gugup.
Kubuka mata lebar-lebar, mengerutkan dahi. Eh, ini bukan laki-laki yang kusebutkan namanya tadi. Aku sedikit berpikir dan mengingat, wajah laki-laki ini seperti tak asing.
__ADS_1
"Hay, Dayana. Masih ingat gue? Reza yang tampan itu, lho," katanya memperkenalkan diri.
Oh, iya, aku baru ingat. Dia adalah sepupu Irga yang beda setahun dengan laki-laki ini. Dia yang beralasan bingung milih cewek yang mana buat dibawa ke acara keluarga waktu itu.
"Iya, aku ingat kok," jawabku sedikit tersenyum dan berkata jujur meskipun harus mengingat dengan sedikit keras.
"Kata Mama lu, lu ikut gue. Kita tidur di rumah gue," ucapnya memberi tahu maksud kedatangannya.
"Kenapa gak minta kunci rumah aja, sih? Biar gue tidur sendirian di rumah," jawab Irga yang sepertinya tak ingin jika menginap di rumah Reza.
"Dih, bukannya bahagia bisa sekamar sama cowok cakep malah ngeluh begitu lu! Banyak cewek yang mau sekamar sama gue, lho!" kata Reza dengan pede setinggi langit.
"Dih, buta tuh mata cewek mungkin," gumamku dan mengalihkan pandangan yang ternyata masih bisa di dengar oleh Irga dan Reza.
"Ha? Apa katamu Dayana?" tanya Reza yang ingin memastikan. Aku langsung menatap ke arah Reza, hadeuh ketauan deh apa yang aku katakan.
Cengiran hanya bisa kutampilkan sedangkan Irga tertawa mendengar ucapanku tadi, "Yaudah, yuk!" seru Reza yang mengajak Irga agar segera pulang ke rumah Reza.
"Naik apa?"
Irga mengambil handphone-nya yang ada di meja dan menatap diriku, "Gue pergi dulu, ya, Mbak. Hati-hati kalo ada apa-apa langsung telpon gue, gue akan selalu aktif, kok," papar Irga padaku dan hanya kuberi wajah datar padanya.
"Uhuk ... uhuk!" timpal Reza yang membuat Irga dan aku menatap ke arahnya.
"Ganggu aja nih anak Dugong!" sinis Irga dan berjalan duluan ke arah taksi yang sudah menunggu.
Sedangkan Reza masih menatap ke arah Dayana yang memang dari tadi hanya menyimak perdebatan antar sepupu ini.
"Woy, cepetan!" teriak Irga yang sudah sampai di depan taksi sedangkan Reza masih berdiam diri.
"Kalo gitu, gue duluan, ya, Dayana," kata Reza dengan berlari ke arah taksi sesekali menatapku yang hanya menampilkan wajah datar saja.
Setelah taksi semakin menjauh, kurapikan kembali meja dan kursi segera masuk ke dalam rumah karena akan tiba juga waktunya Isya.
Di dalam rumah, aku meletakkan laptop kembali dan mencuci kaki karena habis keluar dari rumah, "Ah ... ngedrakor enak, nih!" seruku dan mulai tengkurap dan menghadap ke layar laptop.
__ADS_1
Aku menonton drama tentang persahabatan, ah ... aku jadi ingat sahabatku waktu zaman SMA dulu.
Kami selalu bersama-sama dari SD sampai SMA. Hingga pada kelas 12 aku mengetahui dia berpacaran dengan laki-laki yang masih menjadi kekasihku.
Entah aku yang menjadi simpanan atau dia. Namun, yang pastinya sepertinya dia karena memang itu ungkapan dari mereka berdua.
Dari situ, aku tak minat memiliki seorang sahabat. Karena, sahabat itu hanya dogeng semata. Ketika kita terpuruk pun toh mereka tak akan pernah mau membantu.
Jika pun ada, itu seharusnya lebih dari sahabat. Akan tetapi, bisa digelar sebagai keluarga karena zaman sekarang sahabat itu sangat sulit di dapat atau bahkan tak pernah ada.
Ketika tengah asyik menghayati drama yang ada, handphone-ku berbunyi. Aku yang tengah fokus pada konflik yang ada di drama ini tak melihat-lihat siapa yang memanggil.
"Halo, dengan siapa?" tanyaku dan menatap fokus ke cerita agar tak tertinggal setiap menitnya.
"Kamu ini! Bukannya assalamualaikum malah halo-halo. Udah kayak orang apa aja kamu!" amuk seseorang yang membuatku membulatkan mata dan memilih mem-pause video yang ada.
Kutatap nomor siapa yang masuk, "Eh, Mama," kataku dengan cengiran meskipun pasti tak akan dapat dilihat oleh beliau.
"Mama udah di jalan mau pulang, ya," ucap Mama yang memberikan kabar gembira.
"Alhamdulillah, Mama hati-hati, ya."
"Iya, gak perlu ditungguin. Kamu tidur aja mungkin Mama sampainya shubuh."
"Baik Ma."
"Yaudah kalau gitu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kukembalikan handphone di samping laptop dan kembali menjalankan video yang sempat kujeda, "Ah ... mulai cerita dari mana nanti, ya, sama Mama," ucapku yang sudah bersiap-siap ingin bercerita selama Mama jauh dariku.
Aku dan Mama sebenarnya tak terlalu dekat, aku pun jarang bercerita hal pribadi apalagi pekerjaan dengan Mama.
Hanya saja, belakangan ini aku mulai cerita soal percintaanku agar Mama tahu siapa yang akan menjadi calon suamiku dan agar Mama juga bisa memberi masukan padaku.
__ADS_1
Bagaimana pun restu orang tua adalah yang paling utama dalam suatu hubungan, jika tidak mendapatkan restu itu maka lebih baik perpisahan itu diadakan.