Cuma Angka

Cuma Angka
Cewek Beda


__ADS_3

Sesampainya di dalam restoran, Irga duduk lebih dulu sambil mengangkat tangannya ke arah salah satu pelayan.


"Silahkan pesanannya Mas," kata pelayan ramah dengan memberikan buku menu.


Selesai memesan beberapa makanan juga minuman, pelayan kembali lagi dengan membawa catatan.


Ketika menunggu pesanan, Irga dan Dayana asyik dengan handphone masing-masing milik mereka.


"Lu kapan perginya?" tanya Dayana membuka suara dan meletakkan handphone di meja.


"Pas Mbak udah gak ngajar lagi."


"5 hari lagi?"


"4 Mbak," koreksi Irga dan menurunkan handphone-nya juga.


"Kok lu gak ngasih tau gue kalo mau ke luar kota sih PKL-nya?"


"Kenapa? Mbak takut rindu sama gue yang ganteng ini?" tanya Irga menaik-naikkan alisnya menatap Dayana.


"Dih, pede beut lu!"


Pesanan yang ditunggu akhirnya sampai, Dayana dan Irga segera mengisi perut mereka. Sebenarnya Irga tak terlalu lapar. Cuma, jika menemani Dayana doang wanita itu pasti enggan untuk makan.


"Makan ice cream di mana?"


"Gak kenyang emangnya ntar Mbak?"


"Itukan cuma ice cream, mana ngenyangin!"


"Masa, sih?"


"Iyalah. Yaudah, kalo emang gak niat belikan. Gue bisa sendiri juga," ketus Dayana dan memalingkan wajahnya.


"Hahaha, santuy kali Mbak. Di sekolahan aja tegasnya minta ampun, sampe gak ada senyum giliran sama gue malah ngambek-ngambekan."


"Dih, sok iye lu. Diam, biar bisa menikmati makanan!"


Irga akhirnya menuruti ucapan Dayana, dia diam dan tak menjawab lagi. Memilih fokus pada makanannya.


Suara dering handphone Irga membuat Dayana menatap ke arah laki-laki itu, sedangkan Irga seolah tuli tak sama sekali memperdulikan suara deringnya.


"Ga, tuh handphone lu bunyi," kata Dayana memberi tahu.


"Iya, Mbak. Biarin aja," ujar Irga dengan cuek.


"Mana tau penting, gak boleh gitu. Mending di angkat dulu," suruh Dayana dan langsung diangguki Irga. Laki-laki itu mengangkat handphone dengan malas.


"Hmm," kata Irga dengan handphone yang di dekatkan di kuping.

__ADS_1


"...."


"Ya, ntar baru dibahas pas di rumah Ma. Irga lagi di luar soalnya."


"...."


"Iya, cepat kok pulangnya. Yaudah, ya." Irga mematikan handphone lebih dulu dan tampak wajahnya seperti tengah sedih dan kecewa.


"Lu kenapa? Kok murung gitu?" tanya Dayana sembari mengunyah daging ayam.


"Kesel aja Mbak, masa orang lagi uwu-uwuan disuruh cepat pulang. Ganggu banget 'kan!"


"Siapa yang lagi uwu-uwuan?"


"Kitalah Mbak, masa Irga doang."


"Dih, ngarang lu!" ketus Dayana dan kembali fokus ke makanannya.


Irga yang melihat Dayana fokus ke makanannya, tanpa wanita itu ketahui tersenyum dan menghapus air mata dengan cepat.


Selesai mengisi perut, mereka mencari restoran ice cream. Kali ini pilihan Irga langsung dan tak bertanya apa mau Dayana.


"Enak 'kan Mbak?" tanya Irga menyendok ice cream ke mulutnya.


"Bener, kamu sering ke sini, ya? Kok bisa tau, sih?" tanya Dayana dengan selidik.


"Kamu bisa badmood, Ga?" tanya Dayana kaget dan sedikit maju ke arah Irga yang jarak mereka terhalangi meja.


"Ya, pernahlah Mbak! Mbak kira saya robot gak bisa ngerasain badmood?" tanya Irga mendorong kening Dayana menggunakan jari telunjuknya.


Dayana mengambil handphone dan berpindah tempat duduk menjadi di samping Irga, "Mbak mau ngapain?" tanya Irga yang tak paham maksud Dayana berpindah posisi.


"Ayo, foto!" ajak Dayana dan meletakkan handphone dengan bertumpu gelas ice cream.


"Pake efek?" tanya Irga menaikkan alisnya saat melihat kamera yang sudah ber-efek.


"Iya, emangnya kenapa?" tanya Dayana menatap Irga.


"Ya, ampun Mbak. Mbak itu udah cantik, jadi buat apa pake efek segala?" tanya Irga dan mengganti menjadi kamera biasa tanpa efek.


"Apaan, wajah kek apa gini," gumam Dayana dan mau tak mau mengikuti keinginan Irga.


Berbagai macam fose mereka buat secara bersama-sama, setelah merasa puas. Dayana kembali ke bangkunya semula dan menikmati ice cream yang belum habis.


Tengah menikmati handphone dan meletakkan handphone di samping, tiba-tiba tangan Irga ingin meraih sesuatu.


Dayana bukannya kaget malah menatap ke arah Irga, melihat apa yang ingin diambil oleh Irga, "Mau ngambil apa lu? Kok gak jadi?" tanya Dayana mengerutkan dahi.


"Haha, enggak ada. Lagi trend Mbak, cowoknya ngambil sesuatu tiba-tiba. Banyak cewek yang tiba-tiba juga langsung mengambil handphone-nya. Mungkin takut ada chat sama cowok lain," ungkap Irga memberi penjelasan.

__ADS_1


"Oh, jadi lu mau cobain ke gue nih maksudnya?"


"Iya, dong."


"Tapi, gue 'kan bukan cewek lu!"


"Iya, sih, tapi 'kan Mbak cewek juga. Otomatis tetap cewek gue juga Mbak."


"Sejak kapan begituan Ga!"


Irga tertawa menatap wajah kesal Dayana, sedangkan wanita itu kembali lagi fokus ke ice cream miliknya.


"Mbak, jangan berubah, ya," kata Irga penuh harap.


"Maksudnya?" tanya Dayana menautkan alisnya menatap dengan kebingungan.


"Ya, biar suami Mbak nanti ngerasain bahagia punya wanita seperti Mbak," jelas Irga.


"Ha? Lu kesambet paan?"


"Haha, gak kesambet apaan Mbak. Cuma, ini jujur biar laki-laki itu merasa beruntung punya Mbak."


"Beruntung kenapa?"


"Ya, Mbak apa adanya. Gak neko-neko meskipun kadang rada ngeselin dan ketus."


Dayana menaikkan sebelah alisnya menatap Irga dengan emosi, laki-laki di depannya ini ada saja hal yang membuat dirinya kesal.


"Kita mau ke mana?" tanya Dayana kala mereka masuk ke salah satu toko muslimah. Selesai dengan ice cream, Irga mengajak Dayana lebih dulu ke toko muslimah.


"Nyari keperluan Mbak," kata Irga singkat.


"Ga!" panggil Dayana yang merasa Irga mulai berbeda. Melihat tak ada respons dari sang empu, Dayana menghadang jalan Irga dengan merentangkan tangan tepat di depannya.


"Ada apa Mbak?" tanya Irga yang otomatis berhenti.


"Lu kenapa, sih? Lu mau jauhin gue atau mau ninggalin gue? Kenapa tiba-tiba lu malah aneh gini sih sifatnya?" Pertanyaan bertubi-tubi diberikan Dayana kepada Irga.


Irga hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala, "Mbak kerjaannya suudzon mulu!"


"Gak suudzon, tapi feeling gue lu akan pergi dan gak akan balik lagi. Lu bukan mau PKL di Bandung 'kan?"


"PKL Mbak, Mbak tanya aja besok pas di sekolah kalo gak percaya."


"Bener, ya?" tanya Dayana sambil menunjuk ke wajah Irga, "kalo gue sampe tau lu mau pergi jauh dari gue. Gue akan cari dan kejar lu sampe dapat Ga!"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Dayana berjalan lebih dulu masuk ke dalam toko dengan bersedekap dada.


"Lu gak akan ngejar gue kalo lu udah bersama dengan orang yang tepat Mbak, bahkan bisa gue pastikan lu akan berterima kasih karena gue udah pergi menjauh dari hidup lu," lirih Irga menatap punggung Dayana yang kian jauh lalu memalingkannya ke bawah menatap lantai agar bisa menghapus air mata yang ingin terjatuh

__ADS_1


__ADS_2