
Hingga sampai di rumah, tak ada yang membuka percakapan. Dayana masuk lebih dulu di susul oleh Irga baru Aldo.
"Kalian dari mana aja?" tanya Mama dengan wajah tersenyum.
"Pantai, Ma," kata Dayana dan berjalan ke arah ruang dapur.
"Assalamualaikum, semuanya," salam Irga yang ikut juga ke dapur.
"Waalaikumsalam Irga, kamu kok bisa sama Yana?"
"Takdir Tante, Irga ke belakang dulu, ya. Nemenin Mbak Yana," ucap Irga tersenyum.
"Yaudah, sana."
"Permisi, semua." Irga membungkukkan badannya dan berjalan ke dapur duduk di samping Dayana yang tengah merebahkan kepalanya di tumpukan tangan.
"Mbak, Mbak ngantuk, ya?" tanya Irga dengan berbisik.
"Iya, lu mau makan?" tanya Dayana dengan mata yang dipaksa terbuka kembali.
Irga hanya membalas dengan cengengesan dan menggaruk tengkuk yang tak gatal, "Ambil aja di tempat biasa. Ada cake juga noh," suruh Dayana dan memejamkan mata kembali.
Rasa kantuk entah mengapa begitu parah dirasanya, biasanya tak akan seperti ini. Mungkin, efek dari kelelahan.
Tanpa dirinya sadari, Aldo sudah ada di antara mereka. Aldo menatap wajah teduh wanita yang sedang tertutup matanya.
"Eh, Om," kata Irga yang baru sadar kalau sudah ada Aldo di sana.
Dengan cepat Aldo langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya pertanda agar Irga diam, Irga yang paham hanya mengangguk dan mengambil makanannya kembali.
Entah dari dorongan siapa, Aldo segera mengambil handphone dan mengambil gambar wajah Dayana yang masih lelap tertidur.
Dirinya mengembalikan handphone sebelum diketahui oleh Irga dan orang yang diambil gambarnya.
"Woy, Mbak! Bangun!" teriak Irga tepat di telinga Dayana.
Mendengar teriakan, sontak membuat mata Dayana terbuka dengan penuh, "Lu gue gibeng, ya, Ga!" ketus Dayana menyandarkan punggungnya dan mengucek mata.
"Habis bangun tidur mah dicuci, bukan dikucek doang!" sindir Irga mulai memakan masakan Mama Dayana.
"Berisik, lu!" ketus Dayana menatap ke arah Aldo, "eh, udah lama di situ?"
"Lumayan."
"Kalian mau dijodohkan, ya?" tanya Irga melihat ke arah Dayana juga Aldo.
"Dih, sotoy beut lu!" ketus Dayana menyenggol lengan Irga.
__ADS_1
"Ya, gak papa kali Mbak. Nih Omnya keknya baik, sih," ujar Irga melihat dari atas ke bawah Aldo seolah tengah menilai laki-laki itu.
"Daripada yang kemarin itu, keknya anak begajulan!" jelasnya dan menatap ke arah Dayana.
"Apa, sih, lu! Diam, makan aja tuh makanan!" geramku melihat Irga.
"Kalian dekat banget, ya," ujar Aldo yang dari tadi hanya memperhatikan.
"Iya, bukan cuma hubungan tapi juga rumah. Noh, rumah saya di sebelah."
"Gak terlalu," timpalku dengan cepat.
"Om suka sama Mbak?" tanya Irga dengan tetap mengunyah.
"Emangnya kenapa?"
"Gak papa, jangan suka Om. Cukup saya aja yang suka dan cinta sama Mbak, ntar Om jadi saingan saya pulak. Saya gak ikhlas."
"Emangnya Dayana suka sama kamu?"
"Pastinya dong Om!" ujar Irga dengan percaya diri.
"Tapi, kayaknya usia kalian berbeda 'kan?"
"Usia cuma angka, Om. Hubungan akan langgeng bukan hanya karena si cowok yang lebih tua, tapi tentang sama-sama saling cinta juga mengasihi."
"Tapi, susah sih Om. Mbak Yana soalnya masih trauma soal hubungan jadi lebih baik Irga saranin Om milih cewek yang lain aja, gak usah nunggu Mbak."
"Kamu tenang aja."
"Tenang apa?" tanya Irga yang penasaran dengan jawaban Aldo.
"Ya, tenang aja."
"Om gak akan buat dia jatuh cinta 'kan?" tanya Irga dengan selidik.
"Ya, tergantung. Kalo saya juga cinta, mau gak mau saya juga harus buat dia jatuh cinta sama saya."
"Ih, kalian apaan sih? Kamu juga Irga, ingat fokus ke PKL. Bentar lagi akan PKL dan buat kamu Aldo. Gak usah tanggapi serius masalah perjodohan. Fokus sama pacar lu aja," timpal Dayana yang menengahi.
"Dia murid kamu?"
"Iya."
"Aldo, sudah Nak? Kita mau pulang," panggil Pram dari ruang tamu.
"Iya, Pa," sahut Aldo dan bangkit dari duduknya. Aku dan juga Aldo akhirnya bangkit sedangkan Irga masih asyik makan.
__ADS_1
"Jad gimana tadi? Udah saling kenal satu sama lain?"
"Emang udah kenal dari tadi kok Tanta," jawabku dengan cengengesan.
"Bukan itu, maksudnya gimana udah ngerasa cocok?"
"Jadi temen mah cocok aja Tante, Dayana gak milih-milih buat jadiin temen."
"Enggak, Ma," timpal Aldo dengan wajah dingin, "ayo, pulang!"
Semua orang kaget dengan ucapan Aldo, padahal apa yang salah? Aku pun tak ada perasaan dengan laki-laki angkuh dan sombong itu.
"Yaudah kalau gitu, sekarang enggak bisa jadi besok-besok malah iya," jawab Silki dan membuat Mama akhirnya tersenyum dengan kikuk.
Mereka akhirnya pergi, kami mengatakan hingga ambang pintu. Menutup kembali pintu dan terkejud saat melihat Irga yang sudah tertidur di sofa.
"Lah, anak Alien! Udah tidur aja," kataku menatap dirinya yang memeluk bantal sofa.
"Yana!" panggil Papa dari ruang makan. Aku segera melangkah ke arah dapur.
"Iya, ada apa Pa?" tanyaku dan duduk di sampingnya.
"Kenapa Aldo bisa bilang bahwa kalian gak cocok tadi?"
"Ya, mana Yana tau. Lagian, dia bilang bahwa dia udah punya pacar Pa. Biarin ajalah, kek cuma satu aja cowok," ucapku yang merasa Papa aneh.
"Papa kira kamu yang nolak dia."
"Gaklah, lagian gimana cara nolak orang dia nembak aja enggak dan gimana mau nembak orang dia udah punya pacar. Lagian, ya, Pa dia itu sombong banget!" ketusku mengingat beberapa kejadian.
"Ehem!" dehem seseorang dan membuat pandanganku juga Papa menatap ke arah suara itu.
'Mampus lu Yana!' batinku merutuki diri.
"Eh, ada apa Nak Aldo?" tanya Papa saat mendapati dirinya di ambang pintu dapur.
"Maaf Om, ngambil kacamata saya yang tertinggal di sofa," jelasnya sedangkan aku hanya mampu menunduk menahan malu.
"Oh, iya, ambil aja."
"Iya, ini udah dapat. Kalau gitu saya permisi, ya, Om," pamitnya dan langsung pergi kembali.
"Nah 'kan, Papa liat dia itu sombong. Masa cuma pamit ke Papa doang sedangkan ke Yana enggak, padahal jelas-jelas Yana ada di sini," aduku dengan semangat.
"Udah-udah, lebih baik kamu bangunin tuh Irga," perintah Papa dan langsung masuk kembali ke kamar nyusul Mama yang memang memilih ke kamar setelah mengantar Tante Silki juga Om Pram.
Aku berdiri dan melihat Irga yang masih lelap, "Dahlah, biarin aja dia di situ. Kesian juga lagian." Aku memutuskan masuk ke kamar dan tak lupa menguncinya.
__ADS_1
Berbaring di kasur dan segera memeluk guling, "Semoga aja dia budeg dan gak denger kalo aku ceritain dia ke Papa tadi," gumamku melihat langit-langit kamar.