Cuma Angka

Cuma Angka
Korban


__ADS_3

Suara bel masuk kelas menggema, kurapikan buku-buku dan tak lupa membawa note tadi juga. Berjalan ke arah kelas dengan sesekali berpapasan dengan para murid.


"Assalamualaikum," salamku masuk ke dalam kelas dan tersenyum ramah ke arah mereka.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


"Berdiri!" perintah ketua kelas dan kali ini aku juga berdiri di samping mejaku.


"Beri salam!"


"Selamat pagi, Bu!"


"Pagi, semuanya. Silahkan duduk," perintahku dan suara bangku juga meja saling sahut-sahutan.


Aku mulai fokus menerangkan materi hari ini, dengan tegas dan juga sesekali melempar pertanyaan dengan mereka.


Tak ingin terlalu kaku, sesekali suara tawa menggema hingga ke luar ruangan agar tak ada kesan tertekan dalam belajar.


Tak tetap mengajar di kelas Irga sebenernya, aku hari ini akan memasuki 3 kelas saja. Dua lagi, aku tak tahu gimana anak muridnya akan menerima diriku.


"Oke, tidak ada pertanyaan lagi?" tanyaku melihat jam yang sudah akan berganti pelajaran.


"Ada, Buk!"


"Ya, apa?" tanyaku serius.


"Cara biar dapat Ibu, gimana?" tanyanya.


"Huu ...!" sorak murid lainnya ke arah mereka. Aku tertawa melihat dirinya yang kesal sendiri akibat ulah teman-temannya itu.


"Udah-udah, oke, selamat siang semuanya. Selamat belajar di mata pelajaran selanjutnya, ya."


"Iya, Buk!"


Aku keluar dan mencari ruangan yang selanjutnya, melihat ke arah pamplet depan kelas mereka adalah jalan ninjaku.


Ketika aku berhenti di salah satu kelas, semua murid di dalamnya menatap ke arahku seakan tak ada sopannya.

__ADS_1


'Dih, bukannya di tanya ada apa Buk? Atau apa kek, ini malah diam aja dan menatap aku kek sebaya mereka aja!' batinku dan mulai melangkah ke dalam kelas yang sama sekali tak ada sambutan seperti kelas Irga.


Kutarik bangku yang di dalam meja, tiba-tiba ada ular mainan sepertinya di bangku itu. Aku tak kaget sama sekali, 'Sepertinya di sini murid yang jahil tersebut,' batinku menatap ke arah mereka yang sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Ada yang; tidur, bercanda, berbicara dengan teman sebangku dan ada juga sibuk dengan barang bawaannya.


"Ehem!" dehemku memukul buku ke meja. Mereka akhirnya menatap ke arahku seolah tak menampilkan wajah takut sama sekali.


"Ini punya siapa?" tanyaku dengan nada pelan. Tak bisa jika langsung dengan marah-marah, bisa-bisa mereka malah semakin jahil padaku nantinya.


Salah satu siswi yang tengah mengikir kukunya menunjuk ke arah siswa yang tengah tertidur dengan bertumpu pada tangannya, "Tuh, si Arhan Buk."


Aku berjalan ke arah anak tersebut, sepertinya kelas ini pun tak bisa jika terlalu di lembutkan. Kulilit ular itu ke leher laki-laki itu dan kuhadapkan kepala ulat tersebut di depan wajahnya.


Setelah merasa pas, kupukul mejanya dengan buku pelajaran yang kuajari, "Ehem!" dehemku biar dia semakin terusik.


Matanya mengerjap perlahan, tiba-tiba "Waaa ... ular!" teriaknya sambil berdiri dan membuang ular itu dari lehernya.


Semua murid tertawa melihat tingkahnya, sedangkan aku? Sudah bersedekap dada, tak ada yang lucu bagiku.


"Ibu apa-apaan, sih?" tanyanya dengan wajah emosi. Aku mengerjit.


"Ha? Saya yang kamu bilang apa-apaan?" tanyaku menunjuk ke diriku sendiri.


"Iyalah, kenapa malah naruh ginian ke saya. Kalo saya tadi kenapa-kenapa, gimana?" tanyanya dengan suara yang naik satu oktaf.


"Jadi, kalau saya yang kenapa-kenapa, gimana? Kalau guru yang lainnya kenapa-kenapa, gimana? Jaga nada bicara kamu dengan guru kamu, jangan semua orang bisa kamu samakan!" tegasku dengan suara lantang. Bukan aku marah, hanya saja menyesuaikan dengan nada bicaranya saja.


"Ibu mau dibedakan? Umur cuma angka, Bu! Gak usah sok mau dihormati deh, kalian juga digaji oleh Ayah saya! Gak usah banyak bicara."


"Oh, ya? Berapa miliar Ayah kamu mampu membayar saya? Kalo Ayah kamu mampu membayar guru-guru kenapa gak mampu mendidik gaya bicara kamu, ya? Ini sekolah, punya aturan sendiri meskipun yang punya bahkan Kakek kamu! Jika kamu di sini ikutin aturan di sini!" bentak saya dan melihat ke arah semua murid yang terpaku.


Dia ingin membuka suara lagi, "Kalau kamu tidak senang dengan cara bicara saya, lapor! Sekalian suruh Ayah kamu biar segera menyelesaikan tugas saya di sini! Gak masalah, sana lapor! Toh, saya keluar dari sini bukan jadi gelandangan apalagi gak punya pekerjaan! Masih ada kerjaan saya yang nunggu saya!"


Deru nafasku menggebu, bahkan beberapa murid sempat terlihat singgah di ambang pintu melihat ke arah kelas ini.


Mungkin, mereka heran tumben sekali kelas ini ada suara guru yang marah. Karena emang info yang kudapatkan bahwa tak ada lagi guru yang mau berkoar-koar.

__ADS_1


Jika ada guru yang masuk, dia langsung menjelaskan dan memberi tugas. Jika minggu depannya ada yang mengumpulkan tugas dia terima.


Jika tidak, ya, gak masalah buat dia. Tapi, bukankah itu sama saja seperti makan gaji buta? Aku tak ingin itu terjadi.


Arhan pergi dengan menghempaskan mainan ular-ular tersebut lebih dulu dan berjalan keluar menyenggol pundakku. Sangat tidak ada hormat-hormatnya!


Setelah kulihat punggungnya tak lagi ada, kutatap semua murid, "Ada lagi yang mau ke luar? Sok, silahkan! Lapor sekalian ke kepala sekolah biar saya diberhentikan dari sini!"


Semua diam, menatap ke meja masing-masing, "Saya gak mau ada satu barang di atas meja kalian kecuali alat belajar! Kalo mau make up di tempat lain!"


Berjalan kembali ke meja depan, kubuang nafas dan tak lupa ber-istighfar. Baru kali ini aku harus marah-marah di dunia kerja. Bahkan di kantor dulu aku tak pernah marah sama siapa pun.


Namun, rasanya aku seperti ada yang mengganjal. Aku tetap harus minta maaf sama Arhan tadi karena sudah membuat dia kaget.


"Baik, semua. Fokus dan buka buku mata pelajarannya." Selanjutnya, kelas berlangsung dengan sepi dan hanya beberapa orang yang antusias menjawab pertanyaanku.


Bel istirahat pertama berbunyi, aku keluar dari kelas ini dan berpapasan dengan guru yang juga baru keluar dari kelas samping.


"Ada apa, Buk?" tanya guru itu menatapku.


"Kenapa Buk?"


"Hehe, tadi, suara Ibu kedengeran sampe ke kelas saya."


"Hmm ... itu, Buk ...."


"Arhan?" tanya guru memotong ucapanku.


Aku mengangguk dengan lemah, "Mamanya udah gak ada Buk, Ayahnya pemilik sekolah dan ibu tirinya dokter. Dia punya saudara tiri yang dulu pernah sekolah di sini juga, tapi, beberapa kali saudara tirinya dia buat menangis juga terluka."


Aku terdiam, semakin merasa bersalah, "Biasanya kalau jam istirahat dia di mana, ya, Buk?" tanyaku menatap fokus ke arah guru yang sepertinya banyak tahu tentang Arhan.


"Taman belakang sekolah kalo enggak, ya, rooftop."


"Oh, makasih Buk. Saya permisi duluan, ya, kalau gitu."


Aku berjalan dengan cepat ke tempat yang dimaksud guru tadi, aku tak mau sampai tuh bocah malah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya seperti di film-film.

__ADS_1


__ADS_2