Cuma Angka

Cuma Angka
Tidak Batal


__ADS_3

Tak kupedulikan Aldo yang belum juga mengikuti aku, aku keluar dari rumah dan mengirim foto yang kuambil tadi ke Zahra.


Setelahnya, kumasukkan kembali handphone, ada suara derap langkah di sampingku. Aku langsung menoleh dan melihat Aldo yang sudah berada di samping.


"Kok lo pulang juga?" tanyaku menatapnya sambil berjalan ke arah mobil.


"Lah, gue 'kan tadi pergi sama lo dan pulang juga harus sama lo," jelas Aldo menatap lurus.


"Emangnya acaranya udah selesai?" Aku berhenti tepat di depan pintu mobilnya.


"Terserah, mau kelar atau enggak juga. Masuk!" titahnya dan mulai memutari mobil.


Aku pun segera masuk ke bangku, tak lupa memasang sabuk pengaman. Sebelum mobil dihidupkan aku mengecek handphone lebih dulu.


Hanya dibaca doang oleh Zahra, pasti lagi-lagi dia mengira bahwa aku tengah berbohong dan berusaha untuk merusak kebahagiaan mereka.


"Lo beneran mantan Andi?" tanya Aldo membuka pembicaraan dan menatap ke arahku sekilas.


"Kenapa?" tanyaku menaikkan alisku sebelah.


"Enggak papa, gue kira lo cuma bohong aja tadi."


"Gue juga ogah sih ngaku diri kalo mantan dia, hehehe."


"Kenapa?"


"Karena gue kayak ngeharap bahwa diakui oleh dia. Padahal 'kan belum tentu dia mengakui gue mantannya," jawabku dengan tersenyum sinis.


"Ya, menurut gue kalo emang itu kebenarannya ya gak papa dan artinya berarti lo beneran menghargai dan merasa keberadaan dia."


"Ah, dahlah! Ngapain jadi bahas dia? Eh, iya btw lo kenapa bisa ada di toilet tadi?"


"Karena gue curiga, soalnya gak lama lo pamit ke toilet. Andi juga pamit ke toilet," jelas Aldo.


Aku hanya mengangguk paham dan tak ingin membuka suara lagi. Malas jika harus mengingat tentang laki-laki itu.


Sedangkan di lain sisi, Andi masih menjawab berbagai pertanyaan dari orang-orang yang ada di ruangan.


Ada yang langsung stalking media sosial Zahra dan semakin membenarkan perkataan Dayana tadi bahwa benar jika Andi telah tunangan.

__ADS_1


"Mana cincin tunangan kamu?" tanya Tante Aldo dengan wajah garang.


"Tante, bagaimana Andi bisa pakai cincin jika Andi bahkan sama sekali gak pernah tunangan," tutur Andi yang tetap tak mau dituduh.


"Lebih baik sekarang kamu pergi Kak! Aku gak mau pacaran sama orang yang sudah punya calon istri!" usir adik sepupu Aldo.


'Si*l! Gara-gara si Dayana hancur sudah semuanya, gue gak bisa menikmati ATM berjalan ini lagi!' batin Andi memaki Dayana dengan tangannya yang terkepal.


"Tapi, Sayang ---"


"Pergi sekarang juga aku bilang!" bentak adik sepupu Aldo dengan suara tinggi menunjuk ke arah pintu.


Dirinya bahkan enggan untuk melihat wajah laki-laki yang dicintainya itu, mau tak mau Andi akhirnya bangkit dan pergi dari situ.


Penuh dengan kekesalan, ia menghentak kakinya dan segera memesan taksi karena dirinya ke sini ikut dengan adik sepupu Aldo dan dijemput oleh wanita itu.


Andi sebenarnya bukan orang kaya, dia menyamar sebagai bos di perusahaan padahal hanya pegawai kantor.


Ia pun tak memiliki rumah kecuali apartemen, bahkan kendaraan saja dirinya tak punya. Dayana mengetahui semua itu.


Hingga akhirnya Dayana memilih untuk mengakhiri segalanya saat Andi ketahuan selingkuh juga dirinya mulai tak nyaman dengan sikap Andi yang berubah.


Dayana tak pernah mempermasalahkan hal itu. Namun, semakin lama nominal yang dipinta Andi semakin tak wajar.


Andi pun selalu mengancam akan mengakhiri hubungan jika tak diberi uang. Laki-laki yang seperti ini memang lumayan banyak berkeliaran.


Suka dikasihani daripada bekerja keras, padahal karyawan kantoran juga bukan memiliki gaji yang kecil.


Karena gaya hidup yang dia inginkan tinggi, oleh sebab itu gaji yang sebenarnya cukup pun tak akan pernah bisa terbilang 'cukup'


"Pasti banyak yang udah chat Zahra, aku harus segera jelaskan ke dia. Jangan sampai aku kehilangan Zahra juga," papar Andi dan segera mengetik nama Zahra di aplikasi telepon berwarna hijau miliknya.


Tak mau membuang waktu, segera kutelepon dan menunggu beberapa menit akhirnya panggilan tersambung.


"Hay, Sayang," ucapku lebih dulu membuka pembicaraan.


"Iya, ada apa?" tanya Zahra dari sebrang dengan nada dingin.


"Kamu kenapa, Sayang? Kok tumben cuek gini?"

__ADS_1


"Gak papa. Mungkin cuma karena kecapean."


"Oh, maafin aku, ya, gak bantuin kamu urus pernikahan kita. Karena emang lagi sibuk banget di kantor," jelas Andi yang sudah pasti berbohong.


"Yaudah, gak papa. Kamu fokus ke kerjaan aja."


"Kamu juga jangan capek-capek, ya, masa Bidadari aku kecapean, sih."


"Iya, aku mau istirahat dulu. Bye."


Panggilan dimatikan Zahra lebih dulu, Andi langsung menatap handphone-nya. Tak biasanya Zahra akan mematikan panggilan lebih dulu.


Namun, pikiran negatif ditepis Andi. Karena, bagaimana pun Zahra masih mau berbicara padanya.


Di dalam mobil yang sudah hampir dekat dengan apartemennya, dia tersenyum seolah merasa bahwa aman dan memasukkan handphone ke saku kemejanya.


Tanpa Andi ketahui, perbuatannya itu membuat seseorang meringkuk tubuhnya di atas kasur dengan keadaan yang memprihatinkan.


"Sudah, Sayang. Kamu harus ikhlaskan dia, dia gak pantas buat kamu," ujar wanita yang mengusap surai hitam milik anaknya itu.


"Ma-ma ... hiks ... emangnya Zahra punya salah apa sih sama dia? Sampe-sampe dia sejahat ini sama Zahra?" lirih Zahra dengan tersedu-sedu.


"Kamu 'kan pernah bilang bahwa Dayana pernah mengingatkan kamu tentang Andi dan kamu malah marah-marah ke dia, kalau dipikir padahal dia baik sama kamu. Dia gak mau liat kamu terluka karena Andi, anggap aja ini pelajaran dan sakit hati Dayana terbalaskan karena sikap kamu yang dulu," ungkap Mama Zahra.


Zahra akhirnya duduk dan menatap sendu ke arah Mamanya, "Zahra punya banyak salah sama Dayana Ma. Cuma karena laki-laki gak tau malu itu Zahra hampir membuat dia terluka lebih parah dari ini," jelas Zahra mengingat kesalahannya pada Dayana.


Mama Zahra dengan cepat membawa anaknya ke dalam pelukannya, mengusap punggung anaknya itu.


"Masih banyak waktu, kamu bisa minta maaf sama dia nanti."


"Iya, Ma. Pasti Zahra akan minta maaf sama dia," terang Zahra melepaskan pelukan.


Tangan Mamanya terulur mengusap pipi putih anaknya itu, "Jadi, kamu mau batalkan acaranya?"


Zahra menggelengkan kepalanya, "Ada dua hari lagi untuk membuat Andi malu. Zahra akan cari informasi tentang mantan-mantannya yang lain dan akan mengundang mereka di acara itu. Biar dia merasakan malu sekalian!" geram Zahra menatap dengan amarah seolah ada Andi di situ.


"Yasudah kalau itu mau kamu, intinya jangan sampai kamu meratapi laki-laki itu," saran Mama dan dibalas anggukan juga Zahra yang tersenyum.


"Kalau begitu, Mama ke luar dulu, ya," ucap Mama Zahra seraya berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Iya, Ma," balas Zahra mendongak dan melihat kepergian Sang mama dari hadapannya.


__ADS_2