
"Assalamualaikum," salam orang dari luar dengan sesekali mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawab mama Dayana dengan segera membuka kunci pintu. Sedangkan Dayana yang masih duduk di sofa cuma melihat saja.
"Itu pasti mereka," kata Mama Dayana ketika melewati putrinya yang masih tercengang.
"Aaa ... kalian sudah datang!" teriak mama Dayana sambil memeluk seseorang. Dayana yang tak dapat melihat wajah teman Mamanya itu segera bangkit dan melihat.
Wanita itu tak datang sendiri, ada laki-laki di belakangnya yang menghandap ke arah halaman otomatis dia membelakangi Dayana juga kedua wanita yang masih betah berpelukan.
"Hay, ini siapa?" tanya Silki--teman Mama Dayana sambil menunjuk ke arah Dayana.
"Eh, hay Tante. Saya Dayana," sapa Dayana sambil mencium punggung wanita itu dengan takzim.
"Jadi, ini anakmu?" tanya Silki menatap ke arah Mama Dayana. Sedangkan yang sedang menjadi topik pembicaraan hanya mampu tersenyum.
Laki-laki tadi akhirnya memutar badannya dan tak sengaja saat badannya berputar aku menatapnya, hingga membuatku terkejut dan membulatkan mata langsung.
'Lah, dia?' tanyaku membatin dan segera membuang pandangan.
"Oh, iya, ini kenalin anak saya namanya Aldo," kata Silki memperkenalkan anaknya.
Laki-laki yang namanya Aldo itu langsung tersenyum ke arah Mama dan mencium punggung Mama.
"Yaudah kalau gitu, kita ngobrol ke dalam aja biar sekalian makan siang," ajak Mama ke dalam. Aku memilih masuk lebih dulu dan mematikan televisi.
Mengambil handphone dan membantui Mama menurunkan piring serta gelas, "Suamimu mana?" tanya Mama pada Silki.
"Biasalah, kerja dulu. Katanya juga mau ketemu sama suami kamu aja dulu," jawab Silki yang duduk di samping Mama.
Sedangkan aku duduk di sebelah Mama, sesekali aku melirik ke arah Aldo yang fokus pada handphone-nya dan membuat aku akhirnya turut sibuk dengan handphone juga.
"Heh, Yana! Malah sibuk sama handphone sendiri kamu ini!" tegur Mama menyenggol lenganku dan membuat aku berwajar datar seketika.
Padahal, lagi lucu ngeliat berbagai postingan di media sosial. Harus terhenti karena keciduk Mama.
"Hehe, maaf Ma," kataku mematikan handphone dan meletakkannya di meja.
"Kamu juga Aldo, nanti aja kalo emang mau ngurusin kerjaan gak bisa?" tanya Silki yang Aldo sama sekali tak peduli dengan teguran Mama padaku.
__ADS_1
Aldo hanya diam dan memasukkan handphone ke saku jasnya.
"Eh, kalian 'kan belum kenalan. Kenalan dulu, dong," jelas Silki dengan tersenyum.
"Kami sudah kenal," jawab Aldo singkat dengan wajah datar. Sedangkan Mama dan Silki tampak kaget.
"Ha? Kalian pernah kenal? Kapan, di mana?" tanya Silki dengan berderetan.
"Kamu kok gak pernah bilang kalo udah kenal sama Aldo?" tanya Mama menatapku yang kaget karena Aldo berucap demikian.
"Gak sengaja ketemu Ma, namanya aja aku baru tau," jawabku jujur.
"Ketemu di mana?"
"Halte, Ma."
"Oh, iya, Nak Dayana. Kamu kerja di mana?" tanya Silki menatap ke arahku dengan kedua tangannya di letakkan ke meja.
'Ck, harus banget nanya pekerjaan seseorang? Kek apaan aja, gue juga ogah kali sama anaknya. Ngapain nanya kerjaan gue?' batinku.
"Heh, kamu ditanya malah ngelamun!" protes Mama dengan menyenggol lenganku. Membuat aku tersadarkan bahwa baru saja melamun.
"Kalau Aldo, dia seorang chef di salah satu restoran bintang lima dan terkenal di kota Paris," ujar Silki sambil menatap anaknya sekilas.
"Wah ... jadi insecure, nih, Tante. Mana buat makanannya banyak lagi, pasti kalah nih masakan Tante," cakap Mama dengan tersenyum kikuk.
"Saya juga masih belajar Tante," jawabnya dengan senyum tipisnya.
"Oh, iya, Yana udah punya pacar?" tanya Silki dan membuat aku seketika menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Belum 'kan nunggu anak kamu!" potong Mama begitu saja padahal aku belum menjawab pertanyaan Tante Silki.
"Eh, Mama. Enggak, Tante saya udah punya pacar, kok," jawabku dengan cepat dan semoga dipercaya.
"Ha? Siapa pacar kamu? Emangnya ada?" tanya Mama dengan wajah yang tak percaya pada jawabanku.
Sedangkan Aldo, kulihat membuang wajah seolah dia tengah mengumpatku karena jawabanku itu.
"Haha, gak perlu malu kalo kamu jomlo. Aldo juga jomlo, kok," timpal Silki menyenggol siku Aldo dan membuat tatapan kami bertemu.
__ADS_1
Namun, dengan cepat aku langsung memutuskan tatapan itu, "Yaudah kalau gitu, kita langsung makan aja, ya. Biar kuat bahas tentang anak-anak kita," timpal Mama.
Ha? Bahas anak-anak? Maksudnya apaan? Siapa juga yang mau dibahas, gak ada yang perlu dibahas juga.
Di meja makan hanya suara dentingan sendok yang terdengar, "Assalamualaikum," salam seseorang dengan membuka pintu.
Kami semua langsung melihat ke arah orang itu, "Udah makan duluan aja, gak nunggu-nunggu kami!" kata Papa sambil merangkul bahu yang bisa kutebak adalah papa si Aldo.
Mereka berjalan ke arah meja makan dan duduk di bangku yang tersisa, "Eh, ini salah posisi duduknya," kritik Papa.
"Ya, ampun Pa. Cuma duduk buat makan aja harus posisinya benar, apa?" tanyaku yang tahu sifat jahil dark cinta pertamaku ini.
"Iya, dong. Biar bagus Yana," ujar Papa dan hanya membuat aku geleng-geleng.
Meja makan kami terdiri dari 6 bangku, 4 berhadapan dan dua lagi berhadapan. Dan posisiku sekarang duduk di samping Mama dengan menggeser bangku.
"Yana, kamu di sebelah situ dan Aldo juga," terang Papa dan mau tak mau aku berdiri mengembalikan bangku pada tempatnya.
Kuambil handphone dan sisa makanan di piring, tak mau banyak perdebatan yang terjadi. Lagian, hanya makan saja tak mungkin sampai membuat aku gerogi atau lainnya.
Setelah tempat duduk di atur dengan keinginan Papa, kami kembali makan dengan Papa yang sesekali tertawa sama Pram.
Tiba-tiba handphone yang ada di sampingku berbunyi membuat Papa dan Pram terdiam menatap ke arahku.
Aku tersenyum kikuk menahan malu, "Maaf, saya izin angkat handphone dulu," kataku sambil menatap wajah semua orang termasuk Aldo yang ternyata melihat ke arah handphone-ku tadi.
"Yaudah, jangan lama-lama," perintah Mama dan aku segera menjauh.
Di ruang tamu, aku akhirnya mengangkat handphone dengan suara yang kubuat sekecil mungkin.
"Ada apa Arya?" Ya, laki-laki itulah yang baru saja membuatku harus menahan malu.
"Kau sedang apa? Masih di sekolah?"
"Aku sedang makan siang di rumah dan ada tamu, jadi kalo gak penting banget nanti lagi, ya, telponnya."
"Oh, maaf aku tak tau."
"Gak papa, udah dulu, ya."
__ADS_1
Segera kumatikan dan tanpa sengaja aku melihat Aldo menatap ke arahku, melihat aku yang mengetahui dirinya menatapku dia langsung membuang pandangan ke arah piringnya.