
"Kenapa?" tanyaku menatap ke Arya yang tersedak.
"E-enggak papa."
Menempuh perjalanan 35 menit dari cafe menuju rumah Arya, aku terperanjat melihat rumah orang tuanya yang begitu besar dengan dua lantai.
Tit ...!
Tit ...!
Klakson Arya menunggu satpam membukakan pintunya, rumah bernuansa putih dan gold juga taman yang lebar tak kalah rumah yang mewah.
Membuatku menjadi heran dan berprasangka buruk, 'Ngapain dia kerja sebagai karyawan biasa? Apakah itu kantor milik orang tuanya juga? Atau ... emang dia gak mau kerja sama orang tuanya? Gak yakin, sih, kalo mereka gak punya perusahaan,' batinku masih menatap bangunan yang cantik di depan.
Arya mengibas-ngibaskan tangannya di hadapanku membuat aku tersadar dan mengerjapkan mata menatap ke arahnya.
"Ayo! Kamu ngapain malah bengong di sini?" tanyanya dengan sabuk pengaman yang sudah lepas.
Aku mengangguk dan membenarkan penampilan, kubuka pintu mobil dan segera berjalan di samping Arya.
"Gak usah gugup, santai aja. Mamaku orangnya baik, kok," jelas Arya. Aku mengerjit mendengar penuturannya.
"Assalamualaikum, Ma," salam Arya. Sedangkan aku hanya menunduk dan mencoba menenangkan diri.
'Kenapa aku malah diajak ke rumah orang tuanya, ya? Padahal, seharusnya dia izin dulu kalau mau ngajak aku. Ntar, malah orang tuanya mikir yang aneh-aneh pulak,' batinku menatap wajahnya dan tanpa sengaja tatapan kami bertemu satu dengan yang lain.
"Eh. Waalaikumsalam, nak Arya," jawab seseorang yang buat pandangan kami langsung menoleh ke arah suara tersebut.
Kutampilkan senyum dan melihat ke arah wanita yang mungkin sudah memasuki usia 40-an ini, sepertinya dia salah satu asisten di kediaman Arya.
"Mama ada Bik?" tanya Arya menatap ke arah pembantunya.
"Ada, nak. Yuk, masuk! Bibi bikinkan minum dulu, ya, buat ...," ucapnya terjeda sambil menatap ke arahku.
"Dayana Bik," timpalku cepat dan langsung diangguki oleh bibik dengan senyum ramahnya.
"Kak Alyaa ...!" teriak seseorang yang berlari dari atas tangga. Kami yang baru berdiri di sofa--ruang tamu langsung melihat ke arah suara itu.
"Nama kamu siapa, sih, sebenarnya?" tanyaku dengan nada pelan sebelum bocah itu sampai di antara kami.
"Haha, lidahnya cadel dan tak bisa menyebutkan huruf 'r'," jelas Arya dan langsung kuangguki. Kan, gak lucu juga kalau di luar namanya Arya tapi pas pulang malah Alya.
__ADS_1
Bocah yang umurnya kira-kira 4 tahun telah berada di depan kami berdua, dia menatap ke arahku dengan rambut keritingnya itu.
"Kak Alya, dia siapa?" tanyanya sambil menunjuk ke arahku.
Kujongkokkan tubuhku agar menyeimbangi tingginya, "Hay, namaku Dayana. Kamu boleh panggil Yana," kataku memperkenalkan diri.
"Halo Kak Yana, namaku Leo. Kalau Kak Yana boleh panggil sayang atau beb juga gak papa, kok," ucapnya membuatku kaget. Dia segera menatap Arya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Leo ... kamu ini!" teriak seseorang yang langsung kulihat ke arah tangga juga. Dua orang turun secara bersamaan.
"Kenapa Mom? Dia bukan pacal Abang 'kan?" tanyanya menatap Arya.
Arya pun ikut berjongkok di sampingku dengan tak lupa memberi jarak, "Memangnya kalo bukan pacar Abang kenapa?" tanya Arya dengan sengit.
"Yaudah, Kak Yana jadi pacal Leo aja. Kak Yana mau 'kan jadi pacal Leo?" tanyanya yang baru saja mengungkapkan perasaan.
What? Hello! Gue baru aja ditembak sama bocil, nih? Kenapa bisa sebocil ini paham tentang pacar-pacaran, astaga!
"Haha, kamu sekolah dulu Leo. Kejar impian dulu, jadi orang sukses dan membanggakan orang tua dulu. Baru mikir soal pacar-pacaran," jelasku mengusap kepalanya itu.
"Kak Yana tau? Kalo misalnya nanti Leo gak nembak Kak Yana, bisa-bisa Kak Yana jadi pacal olang lain!" ketusnya bersedekap dada menatap sengit ke arah Arya.
"Dih, bocil! Paan lu natap gue begitunya?" tanya Arya yang tak terima dengan tatapan adiknya itu.
"Heh, udah-udah. Kalian ini, bukannya tamu di suruh duduk malah diajak denger perdebatan unfaedah dari mulut kalian itu!" timpal wanita yang berdiri di belakang Leo.
Bisa kutebak, sudah pasti itu adalah orang tua dari kedua laki-laki ini. Aku tersenyum dan berdiri, menyalim tangan putih wanita itu dan menangkup kedua tangan di depan dada ke hadapan pria yang sepertinya beda tipis umurnya dengan wanita itu.
"Ayo, kita duduk!" ajak wanita itu merangkul bahuku ke sofa, "nama saya Devi. Kamu boleh manggil Mommy ke saya."
Aku mengangguk paham, "Dan itu, adalah Dimas. Suami Mommy dan juga ayah dari Arya juga Leo," sambungnya memperkenalkan keluarganya.
Kami duduk di satu bangku yang cukup lebar, sedangkan Leo dari tadi ingin duduk di sampingku yang sebenarnya masih muat untuk punggung bocah tersebut.
Namun, Arya melarang dengan mengatakan bahwa ini khusus untuk wanita dan laki-laki pemberani duduknya di bangku satu lagi.
Mau tak mau bocah itu menurut dengan wajah yang cemberut, sangat menggemaskan!
"Nama saya Dayana, Tante," ucapku memperkenalkan diri.
"Kamu kerja di tempat Arya juga?"
__ADS_1
Aku mengangguk, "Iya, Om. Tapi, masih diberi cuti karena ada pekerjaan dadakan," jelasku.
"Kerjaan apa?"
"Jadi guru sementara gantikan Papa saya Om."
"Wah ... Kak Yana gulu? Nanti, Leo bisa minta ajalin sama Kak Yana tugas sekolah dong?" timbrung Leo yang tak mau kalah.
"Haha, tentu saja boleh Sayang. Nanti, Kak Yana bantuin kalau emang sempat dan bisa, ya," ungkapku jujur.
"Oke Kak Yana, besok Leo suluh gulu Leo ngasih tugas yang banyak-banyak deh!" serunya dengan senyum yang mengembang.
"Dih, biar apaan Cil?" tanya Arya yang menyiku bahu bocah itu.
"Bial Kak Yana selalu sama Leo," jawabnya singkat.
Sedangkan aku, hanya menatap wanita yang di sampingku tengah menggeleng-gelengkan kepalanya dan memijit pelipisnya itu.
"Leo, dari mana sih paham dengan pacar-pacaran begini?" tanya Devi menatap anak bungsunya itu.
"Bang Alya Mommy," jawabnya dengan wajah lugu.
Kubulatkan mata saat mendengar kalimat dan jari mungil itu menunjuk ke arah laki-laki yang ada di sampingnya.
"Kamu, ya, Arya! Bukannya diajari adeknya yang bener malah yang aneh-aneh!" amuk Devi berkacak pinggang.
"Sudah-sudah, jangan malah bertengkar. Gak malu apa ada tamu? Ayo, minum nak Yana," potong Dimas yang tahu jika permasalahan ini tak akan kelar.
Aku mengangguk kikuk dan meraih minuman juga makanan yang sudah ada di meja, semua orang mengambil gelasnya masing-masing.
Syukurnya bukan hanya aku yang minum, jika cuma aku mungkin lebih baik tenggorokan ini kering. Rasa maluku lebih besar daripada rasa haus ini.
"Kamu ketemu sama Yana di mana Arya? Atau ... emang udah janjian akan ke sini?" tanya Devi menatap anak sulungnya yang ada di depan sambil meletakkan gelas.
"Ketemu di cafe Mommy, jadi, ya, diajak aja ke sini buat kenalan dan ketemu sama Mommy. Mana tau, Mommy dan dia bisa jadi temen baik."
Devi menyipitkan matanya, "Temen baik? Atau ... jadi, menantu dan mertua baik?" tanya Devi mencari kebenaran.
"Uhuk!" Aku tersedak dengan ucapan Devi barusan. Padahal, air minum baru saja akan mengalir dari tenggorokanku.
"Eh, kamu kenapa Yana?" tanya Devi yang panik.
__ADS_1
"Hehe, gak papa kok Tante."