Cuma Angka

Cuma Angka
Jangan Jadi Orang Lain


__ADS_3

Suara pukulan mengenai perut Andi, Dayana menutup mulutnya dan menatap ke orang tadi sedangkan Andi sudah menahan sakit di lantai.


"Lo gak punya malu, ya? Jangan banci jadi cowok! Cewek aja lu sakitin!" amuknya dan segera membawa Dayana. Tak lupa ia mengambil tas dan barang yang sekiranya punya Dayana.


Dayana hanya diam saja, ia tak memberontak atau marah dengan perlakuan tadi. Sedangkan di ujung sana, ada seseorang yang merasa bersalah.


"Lo kenapa gak ngelawan? Mana juga cowok lu tadi? Kenapa biarin lo sendirian?" tanyanya dengan nada dingin dan melepas tangan Dayana.


"Dia tadi ke toilet," jawab Dayana menunduk.


"Siapa sih dia?"


"Mantan gue."


"Dan yang sama lu tadi siapa? Pacar lu?"


"Bukan, cuma tetangga gue."


"Pantasan aja dia biarin lu berdua sama cowok itu tadi, orang cuma tetangga rupanya," jelas Arya melihat ke arah samping.


"Kita, ngapain sekarang di sini?" tanya Dayana yang bingung.


"Lu mau pulang?"


"Iya, deh. Gue mau pulang aja."


"Yaudah, gue anterin. Gue pamit sama temen-temen gue dulu, lu ikut aja sama gue."


Dengan berat hati, Dayana ikut dengan Arya menuju ke tempat temannya berada. Ketika mereka sampai, semua mata temannya langsung menatap ke arah Dayana.


"Cielah, pantasan tadi tiba-tiba berlari. Ternyata dapat mangsa secantik ini rupanya," goda temen Arya sedangkan laki-laki itu menampilkan wajah dinginnya.


"Jangan asal bicara lo! Dan jaga mata kalian tuh, jangan natap dia begitu!" kata Arya dengan nada dingin.


'Dia emang biasa gini? Kok, kalo sama gue malah beda banget, ya?' batin Dayana menatap ekspresi Arya saat berbicara dengan temannya.


"Yaelah, payah yang lagi bucen mah!" seru temannya yang lain.


"Gue pamit pulang duluan, minuman yang ini udah dibayar. Kalo kalian mau minum lagi maka bayar sendiri," jelas Arya dan langsung menarik tas Dayana pelan.

__ADS_1


Aku mengikuti ke mana perginya laki-laki itu, ternyata kami sampai di parkiran dengan seseorang yang juga telah ada di depan mobil milik Arya.


"Irga?" gumamku saat melihat seperti bentuk tubuh Irga yang berdiri di situ.


Arya yang mendengar gumamku langsung melirik ke arahku, aku hanya menampilkan cengiran akan hal itu.


"Mbak, lu gak papa? Kenapa jadi sama dia?" tanya Irga dengan wajah panik yang dia tampilkan.


"Seharusnya, ketika lu membawa anak orang. Lu harus pastikan dia ada dan berada di tempat yang aman. Atau ... lu emang sengaja menjebak dia agar dia tersakiti oleh mantannya?" tanya Arya dengan wajah emosinya.


"Heh, gue gak ada niatan sama sekali untuk membawa Mbak ke tempat yang gak aman."


"Kalo lu tau dari tadi di meja itu akan ada mantan Dayana. Seharusnya lu pindah! Lu gak liat wajah dia ngerasa gak nyaman? Ya, lu mana tau akan hal itu, ya? Orang pikiran lu aja masih bocil!" papar Arya.


Aku tak tahu Arya dari mana paham jika aku risih, tapi, memang itu benar adanya bahwa dari pertama Zahra datang aku sudah tak enak berada di bangku dan meja yang sama dengan mereka.


"Gue, cuma mau buat mereka untuk gak ngerendahin Mbak karena liat Mbak gak pernah jalan sama cowok lain!" ungkap Irga yang wajahnya sudah menampilkan amarah.


"Lu denger, ya, jangan pernah membuat seseorang berubah! Jika Dayana bukan tipe orang yang mengoar-ngoarkan hubungan, menunjukkan pasangan. Ya, lu jangan buat dia seperti itu dong. Buat dia tetap nyaman dengan dirinya sendiri dan jangan paksa dia menjadi apa yang ada di kepala lo itu! Karena, pasti akan berbeda," tegas Arya yang menatap ke dua bola mata Irga.


"Udah-udah!" teriakku dan segera berada di tengah mereka. Takut, jika nantinya malah terjadi perkelahian diantara mereka.


Di dalam mobil menuju perjalanan pulang tak ada yang membuka suara, aku pun masih memikirkan kalimat Arya tadi.


Benar yang dia ucapkan, karena kesal aku bahkan menjadi wanita toxic seperti tadi. Berkata dengan kalimat yang sungguh keterlaluan.


Tak biasanya aku mengucapkan kalimat itu, kupijit kepala dan menyandarkan punggung. Sungguh hari yang sangat menjengkelkan.


"Kenapa Dayana?" tanya Arya yang ternyata melihatku.


"Eh, gak papa kok," kataku tersenyum hambar, "btw, makasih, ya."


"Buat apa?" tanyanya menaikkan alisnya.


"Buat tadi, udah nolong aku."


"Udah lama dia jadi mantan lu?" tanya Arya yang membuat aku terdiam dan menatap ke bawah, "kalo emang gak mau dijawab, gak papa kok. Gue gak maksa."


"Udah lumayan lama, sih. Tapi, baru-baru ini jadi sering ketemu."

__ADS_1


"Dia kerja di kantor yang sama?"


"Enggak, gue gak tau kerja dia apa, sih. Gue gak nanya juga."


"Lah, kok bisa gak nanya?"


"Ya, buat apa juga nanya kerjaan seseorang? Gak penting."


"Ya, pentinglah. Kan, dia mau jadi calon suami atau suami nantinya. Masa, udah pacaran lama kerjaan dia aja gak tau kamu."


"Oh ... nanya kerjaan cowok itu penting, ya?" tanyaku menatap ke arah Arya.


"Entahlah, tapi, menurut aku mempertanyakan pekerjaan seseorang yang menjadi pacar atau akan menjadi istriku nanti itu penting. Aku juga gak mau punya pacar yang tukang mencuri 'kan?"


"Haha, kamu bisa aja. Ya, kali dia jadi kang pencuri," tawaku mendengar ucapannya.


"Lah, bisa aja lho. Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, termasuk cewek jadi pencuri."


"Hmm ... iya, sih," kataku mencoba membenarkan perkataan Arya.


"Kamu kapan akan masuk kembali ke kantor?"


"Paling, Rabu depan."


"Enak ngajar?"


"Hmm ... lumayan, sih. Belum ngajar, tadi ada rapat guru dan semua murid dipulangkan. Karena, gue belum terdaftar menjadi guru otomatis ikutan pulang juga," jelasku dan mendapatkan anggukan dari Arya.


Kutatap jalanan alisku mulai bertaut saat merasa aneh, "Kita mau ke mana?" tanyaku yang mulai takut.


Oh, ayolah! Siapa yang tak takut jika dibawa ke tempat yang tak pernah didatangi dan dengan orang yang baru berapa hari dikenal.


"Mau ke rumah orang tua gue."


"Ngapain?" tanyaku mulai tak enak. Takut aja jika salah kata atau ucapan.


"Ya, seperti yang gue bilang tadi. Selain pekerjaan lu juga harus tau bibit, bebet dan bobot seseorang tersebut. Agar, lu gak ngerasa takut nantinya," jelasnya menoleh ke arahku dan tersenyum tipis.


Aku hanya mengangguk paham dengan maksud Arya, "Jadi, selain ke pasangan untuk sekedar temen juga harus, ya?" tanyaku yang polos.

__ADS_1


"Uhuk ...!"


__ADS_2