
Fokus pada gadget masing-masing, hingga merasa terusik saat bangku depan sudah di isi oleh adik sepupu Aldo juga tantenya yang kemarin kulihat.
Aku memasukkan handphone ke tas dan melempar senyuman karena mereka memberikan senyuman lebih dulu.
"Sudah lama di sini Kak?" tanya adik sepupu Aldo. Ini kali pertama dia bertegur sapa dengan baik padaku.
"Lumayan. Kamu di undang sama siapa?" tanyaku yang tak bisa menahan kepo.
Dia mendekat ke arahku meskipun meja menghalangi, "Akan ada kejutan dan aku suka kejutan," bisiknya yang masih bisa di dengar oleh orang yang ada di meja.
Aku melirik ke arah Aldo yang masih menampilkan wajah datar, 'Ck! Sok oke banget wajah songongnya itu!' batinku mengalihkan pandangan.
Adik sepupu Aldo kembali duduk dengan tegap, senyuman di wajahnya itu tak luntur sama sekali. Sedangkan aku? Aku hanya menampilkan wajah bingung.
Karena, memang aku bingung dengan apa yang sebenarnya akan terjadi di sini. Bukankah cuma akan ada pernikahan?
Suara mic mulai terdengar, yang dibawa oleh salah satu MC. Perlahan, pintu terbuka menampilkan Zahra dan Andi yang berjalan bersama menuju tempat akad terlebih dahulu.
Namun, kenapa tak ada penghulu lebih dulu? Apakah penghulunya terlambat untuk datang ke acara ini?
Mereka berjalan dengan bergandengan, perlahan melihat ke arah tamu yang sedang merekam mereka berdua dengan 6 orang anak kecil mengikuti.
"Wah ... pengantin kita akan segera sampai di tengah-tengah kita dengan penampilan yang begitu cantik bak Putri kerajaan," ucap MC laki-laki itu.
Setelah bergabung di tengah-tengah pelaminan dan MC, mic langsung berubah menjadi di tangan Zahra.
Wanita itu tersenyum, tapi entah mengapa aku tak merasa itu senyum bahagia. Melainkan senyum yang mencoba untuk bisa kuat.
"Halo semua, selamat pagi menuju siang," kata Zahra menatap satu per satu tamu undangan. Aku bisa melihat hal tersebut dengan jelas.
Karena, meja kami dekat dengan panggung mereka. Otomatis, apa yang dia tampilan dari wajahnya itu terlihat jelas oleh mataku.
"Terima kasih sebelumnya, terima kasih sudah menyempatkan hadir di acara saya dan juga," ucap Zahra menjeda dan melihat ke arah Andi dalam, "Andi."
Raut wajah yang tersenyum gagah seketika berubah, mungkin dirinya bingung kenapa tiba-tiba Zahra memanggil dirinya cuma dengan nama saja.
"Sebelum sah menjadi seorang suamiku, aku ada kejutan kecil untukmu," jelas Zahra sambil menyentuh bahu Andi.
__ADS_1
Sebuah layar yang sebenarnya untuk penyanyi akhirnya diputar, mataku membulat seketika saat melihat apa yang diputar.
Aku kira itu akan berupa rekaman jejak mereka dari awal hubungan hingga kini, atau bahkan kalau perlu dari Zahra yang melabrak aku.
Video itu menayangkan kegiatan Andi di sebuah hotel yang tak kuketahui hotel mana dan entah bagaimana bisa Zahra tahu.
Andi begitu marah karena dipermalukan, tapi dia masih diam. Tak sampai selesai, karena mungkin terlalu panas endingnya.
"Baik, Sayang. Itu pembukaan yang cukup menarik, bukan? Oh, ya, itu kau lakukan kapan?" tanya Zahra mencoba tenang dengan menahan suara agar tak bergetar sambil menyodorkan mic ke bibir Andi.
Tak digubris, Zahra mengambil balik mic ke bibirnya, "Kenapa, Sayang? Oh, kalian mau tau itu kapan gak, Guys!" seru Zahra menatap ke arah tamu dengan menyebut kami seolah temannya.
"Itu dia lakukan kemarin. Waw banget, bukan? Hahahaha," tawa renyah yang sangat menyakitkan akhirnya dikeluarkan Zahra.
"Saat calon istrinya sibuk mikirin segalanya agar sebaik mungkin, laki-laki murahan ini malah asyik bersenang-senang!"
"Oh, iya. Aku ada kejutan satu lagi buat kamu, Girl! Tolong kesini, dong!" panggil Zahra dengan menepuk tangannya.
Beberapa orang yang duduk di mejanya mulai bangkit dan berjalan ke arah Zahra dan Andi yang masih mematung.
Aku menatap tak percaya saat bangku di depanku penghuninya juga bangkit, kemudian seseorang mengisi bangku itu dengan mengedipkan mata lebih dulu baru fokus ke depan.
"Pasti otakmu tak sampai kepikiran ke situ 'kan? Secara kau sendiri tak punya otak!"
Kedua tangan Andi mengepal, "Apa kau ingin mempermalukan aku?" tanya Andi yang sudah lama diam.
"Oh, kau bisa berbicara ternyata. Dari tadi aku berbicara sendiri seolah sedang memaki patung."
Andi pergi begitu saja dengan merenggangkan dasinya, ia berhenti tepat di deket mejaku dan menatap ke arahku.
Aku yang dilihat hanya menatap datar ke arahnya, tangan seseorang menutup wajahku. Setelahnya aku tak tahu apakah Andi masih menatapku atau tidak.
Karena saat tangan itu tak menutup wajahku lagi, laki-kaki itu sudah pergi dari depanku tadi. Sedangkan di depan pelaminan, Zahra sudah berjongkok sambil menangkup wajahnya.
"Tak ingin menghampirinya?" tanya Aldo berbisik.
"Enggak," jawabku singkat karena masih ingat dengan perlakuan Zahra padaku tempo waktu.
__ADS_1
Satu jam lamanya kami di dalam, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Karena, rasanya tak ada gunanya juga di situ.
Aku sudah tahu semuanya, ngapain harus kaget dengan apa yang terjadi pagi ini. Aldo memasukkan tangannya di saku celana.
"Ternyata, kamu kalau udah kecewa parah banget, ya?" katanya sambil melihat ke arahku.
"Parahnya?" tanyaku menaikkan alis.
"Ya, langsung gak peduli sesakit apa pun orang itu."
Aku membuang napas kasar dan menatap lurus, "Gue akan merasa iba ketika gue menyesal. Menyesal karena tak memberi tau sikap orang tersebut, sekarang apa yang harus gue iba-in ke dia? Sedangkan gue aja udah ngasih tau ke dia," paparku melihatnya sekilas lalu menatap ke arah depan kembali.
Kami langsung masuk ke dalam mobil, di tengah perjalanan Aldo melihat arloji di pergelangannya itu.
"Kenapa?" tanyaku yang merasa aneh dengan aktivitasnya.
"Masih banyak waktu berlebih," terang Andi sambil tetap fokus menyetir.
"Kita fhotoshot, yuk! Di tempat temenku, dia baru buka foto studio dan nyuruh aku datang. Mumpung kita lagi pake beginian, jadi vibesnya kek anak kuliahan gitu," ajak Aldo yang menjelaskan tanpa aku pinta sepanjang itu.
"Jauh?"
"Kenapa?"
"Gue laper, tadi 'kan gak sempat makan hehe," jawabku dengan cengengesan sambil memegang perut.
"Yaudah, kita makan dulu baru ke foto studionya."
Aku hanya mengangguk dan menuruti ke mana maunya, lagian sayang juga make-upku jika tak diabadikan.
Karena, aku jarang-jarang full make-up begini sampai-sampai ada alat make-up yang kubeli baru.
Makan di salah satu restoran di mall. Aldo tak tahu lagi restoran mana yang buka sepagi ini. Karena dia jarang sekali beli makanan di luar.
"Gue gak pernah ngerasain masakan lo," kataku membuka suara di antara dentingan sendok ke piring.
"Mau ngerasain?" tanya Aldo menatapku.
__ADS_1
"Mmm ... kalo mau buatkan mah tinggal buatkan aja, gak usah ditanya. Gak romantis banget!" gerutuku menyendok makanan dan memasukkan ke mulut.