Cuma Angka

Cuma Angka
Terpukau


__ADS_3

"Lagian, Mama. Orang Yana udah salam-salam dari tadi malah gak nyaut-nyaut," gerutu Dayana sambil duduk di bangku meja makan.


Ia membuka isi rantang untuk melihat makanan apa yang ada di dalamnya, "Dari siapa?" tanya Mama yang menghampiri.


"Dari Tante Silki," jawabku dan mulai menurunkan satu per satu rantangnya.


"Dia yang masak atau Aldo?"


"Gak tau Ma, Yana gak nanya."


Setelah semua makanan dari rantang kubuka, aku kembali ke kamar sambil membawa kresek putih tadi.


"Lah, ngapain di buka ini kalo kamu pergi Yana!" teriak Mama dari dapur.


Sedangkan di lain sisi, ada seseorang yang tengah gunda di kantor karena beberapa hari tak bisa menelpon Dayana.


"Dayana ke mana, sih? Kenapa dia gak bisa dihubungi?" tanya Arya mondar-mandir.


Dayana meletakkan tas ke tempatnya dan merebahkan tubuhnya ke kasur miliknya.


"Kepo aja Ma," sahutku dan menutup pintu kamar.


"Dasar kamu, ini, yah!"


"Buat apa Aldo ngasih makanan sebanyak ini, ya? Padahal, aku juga gak minta sama dia," gumam Dayana menatap platfon kamar.


Dirinya kembali duduk dan membuka tas, mengambil benda yang tadi diberi oleh Irga padanya. Ia menatap nama yang ada.


"Zahra beneran udah tau apa belum, sih? Kesian banget dia kalo nanti malah disakiti tuh sama jelmaan buaya," kata Dayana.


Ia mengambil handphone dan segera mencari nama Zahra di aplikasi kamera berwarna ungu itu, dirinya sebenarnya ingin langsung mengirim pesan dari aplikasi yang telepon tapi nomor Zahra belum ia ketahui.


[Aku mau ketemu sama kamu malam ini, apa kamu ada waktu?] tanya Dayana mengirim pesan ke Zahra.


Beruntungnya Dayana menggunakan nama asli di sosmednya itu, jadi pasti lebih mudah untuk Zahra tahu bahwa itu adalah dirinya.


[Gue sibuk!] balas Zahra.


Dayana membuang napas kasar, 'Manusia ini, diselamatin dari manusia cosplay-an buaya bukannya bersyukur malah ngegas,' batin Dayana yang mencoba bersabar.

__ADS_1


[Ini tentang Andi, apa kau tak ingin tau tentang calon suamimu itu?] Kucoba pancing dengan menyebutkan nama laki-laki yang dicintainya.


[Ck, kenapa? Apa kau masih gagal move-on dengan calon suamiku itu? Atau malah kau ingin menjelek-jelekkannya lagi? Lagian, mau endingnya aku tersiksa atau bahagia itu bukan urusanmu!]


Aku tersenyum miris, memang beginilah cinta bisa membuatmu lupa dengan dunia dan menggunakan logika.


[Baiklah kalau begitu, yang pentung niatku untuk tak menjerumuskanmu dalam kecewa yang dalam sudah selesai. Aku sarankan, kuatkan jiwa dan mentalmu. Jangan sampai gila karena gagalnya pernikahanmu itu]


Kumatikan kuota dan meletakkan handphone ke sembarang arah, tak ada niatan untuk menjelekkan orang lain.


Namun, aku sudah tau tentang dirinya itu. Mangkanya aku sangat ingin dirinya tak masuk ke lubang kecewa yang sama.


Aku memilih untuk mandi agar tubuh bisa lebih segar, setelah selesai melakukan ritual mandi. Sayup-sayup kudengar ada suara laki-laki yang berbicara dengan Mama.


"Siapa di depan, ya?" tanyaku yang penasaran dan segera keluar sambil memakai kerudung santai.


"Oh, jadi kamu mau ngajak Dayana jalan-jalan?" tanya Mama dengan Aldo yang masih ada di depan pintu sedangkan Mama di ambang.


"Iya, Tante. Tiba-tiba ada kumpul keluarga gitu, tapi kalo emang Dayana gak nyaman juga gak papa. Secara, nanti pasti akan banyak orang yang datang," ungkap Aldo dan melirik ke arah dalam.


Tanpa aku sadari, ternyata mata kami bertemu. Aku langsung menatap ke arah lantai dan memutuskan pandagan lebih dulu.


Aku mengangguk dan berjalan mendekat ke arah mereka, "Kamu mau ikut ke acara keluarga Aldo?" tanya Mama tersenyum.


"Kalau kamu gak mau gak papa, gak usah ngerasa tertekan," timpal Aldo.


'Daripada di rumah, gak ada kerjaan juga. Lebih baik ikut, deh. Pen liat keluarga si Aldo juga,' batinku.


Bunyi jentikan tangan menyadarkanku, "Nih, anak! Malah bengong, ditanya tuh dijawab bukannya bengong atau ngelamun!" cetus Mama.


"Yana mau kok Ma, bentar, ya, mau ganti baju dulu." Aku segera berlari masuk ke kamar, tak enak rasanya jika harus membuat Aldo menunggu lama.


Mama hanya bergeleng melihat Dayana yang tiba-tiba langsung berlari ke dalam, "Tuh, anak! Bukannya nyuruh Aldo duduk atau apa malah langsung kabur aja," geram Mama dan berpaling menatap Aldo.


"Yuk, Nak. Duduk dulu," ajak Mama menunjuk sofa di dalam rumah.


"Makasih, Tante. Duduk di luar aja," tolak Aldo dan berjalan menuju bangku yang ada di teras.


Mama mengangguk dan berjalan menemani Aldo untuk duduk di teras, sesekali Mama tertawa dan tersenyum saat mereka bercerita.

__ADS_1


"Yuk!" ajak Dayana yang sudah berdiri di samping Mama. Mama dan Aldo langsung melihat ke arah Dayana.


"Yaudah, kalian pergi sana," suruh Mama yang sudah berdiri. Sedangkan Aldo, dia masih duduk dan menatap ke arah Dayana.


Aku mengerutkan kening dan melihat penampilanku dari atas hingga ke bawah, "Dih, ada yang aneh emangnya?" tanyaku yang akhirnya kembali menatap ke arah Aldo.


Mama yang baru sadar bahwa Aldo tak berdiri bersama dengannya langsung tersenyum, "Cantik banget emangnya Aldo?" tanya Mama dan membuat Aldo mengerjapkan mata sadar dan bangkit dari tempat duduk.


"Eh, mmm ... gak gitu Tante," jawab Aldo kikuk dengan menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Yaudah kalau gitu, kalian cepetan pergi sana. Nanti telat, lagi."


"Iya, Tante." Aku dan Aldo bergantian menyalim Mama.


Padahal outfitku simple, cuma tas selempang dada, gamis polos tiga tingkat dan sepatu warna putih non hak.


Entahlah, mungkin dirinya selalu melihatku penampilan lusuh. Hingga, ketika dia melihat aku menggunakan make-up dia merasa aku berbeda.


Kubuka pintu mobil dan segera duduk di samping sopir tak lupa menggunakan sabuk pengaman, "Kumpulnya di daerah mana?" tanyaku menatap sekilas wajah Aldo.


"Lumayan jauh, sih. Setengah jamlah," jawab Aldo dan mulai menjalankan mobil keluar halaman.


Kulihat arloji yang ada di pergelangan tangan, "Berarti, nanti kita shalat di masjid atau mushala aja, ya," saranku.


"Kau sudah makan?"


Aku menggeleng, "Tapi, aku bawa ini, kok." Kubuka tas tadi dan mengeluarkan dua batang cokelat yang ukurannya cukup panjang.


"Kenyang makan itu doang?"


"Ya, ganjel laparlah. Lagian, nanti juga gak enak kalo kenyang banget dan nolak makanan di sana," jawabku tanpa ada malu.


"Ck! Emangnya jelas akan ada makanan?" tanya Aldo tertawa sinis.


"Ya, masa gak ada? Kan, lagi kumpul besar-besaran."


"Yaudah, ntar kalo gak ada makanannya. Kita makan di luar aja."


Aku hanya mengangguk, handphone tak kubuka biarkan hari ini aku bebas tanpa komunikasi dengan orang-orang.

__ADS_1


Musik dihidupkan Aldo, aku menyandarkan punggung ke kursi. Jam tengah dua belas, huh ... sepertinya emang waktu yang pas untuk tidur siang.


__ADS_2