
"Pelan-pelan kali, Cil jalannya. Kayak mau ngejar diskonan aja lu," protes Dayana yang kelelahan mengejar Irga. Langkah kaki Irga lebih panjang dari Dayana, itu sebabnya wanita tersebut merasa letih menyeimbangkan langkahnya.
"Mbak apa mau digandeng?" tanya Irga berhenti dan melihat ke arah Dayana dengan kening sudah penuh dengan keringat padahal di dalam mall begitu banyak AC.
"Gandeng-gandeng! Lu kira gue mau nyebrang, gitu?" tanya Dayana mulai berjalan lebih santai dari yang sebelumnya.
"Lagian lama banget, sih!"
"Ngapain mau cepat-cepat juga?"
"Mbak, ini sudah sore. Mbak mah enak kagak shalat, calon imammu ini tetap harus melakukan kewajibannya, dong!"
"Dih, pede banget lu Cil jadi calon imam gue!"
"Emang gak boleh?"
"Gak."
"Kenapa?"
"Ada hati yang tengah aku jaga dan ada orang lain yang tengah aku perjuangkan dalam doa," ujar Dayana tersenyum ke arah Irga.
Irga yang sebelumnya tersenyum tipis. Kini, menampilkan wajah datarnya. Melihat ke arah Dayana beberapa detik dan akhirnya menampilkan senyuman untuk wanita di depannya itu. Dayana yang melihat senyuman tak biasa seperti itu bukannya merasa senang melainkan takut akan hal tersebut.
__ADS_1
"Ternyata, aku memperjuangkan orang yang sedang memperjuangkan orang lain, ya," kekeh Irga. Namun, tak terdengar sebagai kekehan yang bahagia. Melainkan, ada rasa menyakitkan di dalamnya dan bercampur kekecewaan yang besar.
Dayana terpaku mendengar ucapan Irga barusan, belum sempat dirinya bertanya tentang maksud anak tersebut. Irga sudah memilih jalan lebih dulu, seketika Dayana merasa mall yang ramai tampak sepi dan menyedihkan. Entahlah, sudut mata Dayana sudah hampir mengeluarkan cairan beningnya.
'Jadi, apa yang Irga ucapkan selama ini benar? Dirinya suka sama aku? Apa dia gak tau sejak awal juga aku udah bilang kalo aku tuh mau sama yang lebih tua bukan muda,' batin Dayana berjalan mendekat ke arah Irga mau tak mau dengan menunduk.
Beberapa kali Dayana bersenggolan dengan pengunjung mall karena dirinya tak melihat orang yang di depannya, dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi. Apakah dirinya sebegitu salahnya kepada laki-laki yang berumur tujuh belas tahun tersebut.
Setelah segala belanjaan dihitung, Dayana membayar dan membawa barang tersebut dengan menggunakan kresek. Dayana melihat-lihat pengunjung mencari keberadaan Irga yang pergi entah ke mana setelah memberikan troli pada Dayana.
"Apa mungkin dia pulang duluan? Aku cari di depan aja, deh," ujar Dayana melangkahkan kaki keluar mall dan mencari keberadaan Irga.
Beruntungnya, laki-laki tersebut ada di parkiran mall dengan taksi yang sudah ada di hadapannya, "Masuk, Mbak," ucap Irga tanpa ada niatan untuk membantu atau membukakan pintu belakang. Irga langsung masuk ke kursi depan di samping sopir.
"Mbak ... Mas, kalau ada masalah jangan saling diem. Nanti, setan masuk dan rusak pernikahannya, lho," ucap sopir sesekali melihat ke samping dan belakang melalui kaca.
"Bukan pasangan, kok, Mas. Jadi, gak masalah kalo setan masuk rusak bahkan bikin pecah sekalian," jawab Irga melirik Dayana. Dayana yang melihat itu dan mendengar jawaban Irga merasa ada yang hancur di dalam hatinya, tapi bukankah memang benar apa yang dikatakan oleh orang di depannya itu?
"Owalah, kirain pasangan suami dan istri tadi," kekeh sopir yang merasa malu atas ucapannya tadi.
Dayana hanya melihat jalanan dari balik kaca mobil, beberapa detik kemudian handphone miliknya berdering menampilkan nama seseorang yang pernah menorehkan luka untuknya.
"Ada apa?" tanya Dayana langsung pada intinya, dirinya pun bingung mengapa bisa laki-laki tersebut mendapatkan nomornya. Padahal, Dayana sudah berulang-ulang kali mengganti.
__ADS_1
Irga melirik dari kaca mobil melihat ekspresi Dayana saat mengangkat panggilan tersebut, dirinya bisa menebak siapa yang menelpon wanita tersebut dari raut wajahnya.
"Ha? Siapa yang memberimu izin untuk datang ke rumahku? Aku tak memberi izin akan hal tersebut, pergilah Riki!" bentak Dayana dengan suara yang tetap dibuat pelan ditakutkan sopir dan Irga terganggu.
Dayana langsung mematikan panggilan sepihak, dirinya tak mau terjadi adu mulut antara dirinya dengan Riki Henry. Laki-laki yang dulu sempat dirinya kira akan menjadi penyempurna agamanya tersebut, laki-laki tinggi, baik, pengertian. Wanita mana yang tak akan jatuh cinta pada dirinya, bahkan orang tua mereka sudah sama-sama saling memberi restu. Akan tetapi, kita tak pernah bisa memaksakan takdir jika memang hanya berniat mempertemukan saja tanpa menyatukan.
'Tuhan ... bukankah sebelum dia datang aku bisa tersenyum serta tertawa bahagia? Lantas, kenapa sekarang setelah dirinya memilih pergi kebahagiaanku pun ikut pergi juga bersama dengan dirinya?' batin Dayana bertanya tentang hatinya yang sesekali masih merasakan sakit ketika laki-laki tersebut kembali menyapa atau berharap masih ada kesempatan yang kedua kalinya.
"Tak ada yang menyakitimu, kau tersakiti oleh ekspektasimu sendiri tentang dirinya," ujar Irga memberikan selembar tisue pada Dayana. Dayana menatap ke arah Irga, dirinya mengambil tisue tersebut dan tak berniat menjawab ucapan Irga.
"Maafkan kesalahannya, tutup aib perlakuan dirinya yang kau ketahui. Dan jangan pernah lakukan hal yang sama seperti dirinya kepada orang lain, ataupun kepada dirinya," sambung Irga lagi. Sopir melihat ke arah Irga dengan gaya cool Irga, dirinya mengedipkan sebelah matanya ke arah sopir yang melihatnya tersebut. Sopir tersebut hanya membalas dengan senyuman serta menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Dirinya mungkin bingung dengan apa yang terjadi, dan tak paham apa yang dimaksud dengan ucapan Irga barusan. Sopir hanya bisa tersenyum saja.
"Seseorang gampang menasehati, tapi apakah dia pernah berada di posisi tersebut?" tanya Dayana dengan mata yang telah selesai berair.
"Seseorang tersebut juga pernah merasakan, hanya pelakunya saja yang tak tau akan pedihnya. Dan apakah seseorang itu memberi tau? Tidak! Karena ... dirinya tau betul, ketika dirinya sudah berani jatuh cinta maka harus berani yang namanya patah hati." Irga menatap wajah Dayana dengan separuh badannya ke belakang. Sedikit ada yang teriris ketika melihat wajah murung dan sedih Dayana, Irga mengambil tisue lagi yang berdekatan dengan dirinya serta mengelap pipi Dayana yang masih memiliki bekas air mata.
Dayana yang diperlakukan seperti itu tentu saja membuat sesuatu yang di dalam tubuhnya berdetak tidak seperti biasanya, dirinya menatap Irga beberapa detik dan membuang pandangannya kembali. Takut jika laki-laki tersebut melihat bahwa ditatap oleh Dayana.
"Nanti, saya dikira pukuli Mbak! Saya gak mau, ya! Lagian, udah elek gini pake acara nangis segala," ejek Irga dengan tawa khasnya.
Dayana langsung menatap tajam Irga dan memajukan mulutnya, "Siapa yang kamu bilang elek?" ketus Dayana bersedekap dada.
__ADS_1
"Saya, masa Mbak!" jawab Irga dengan cepat. Dirinya tertawa dan membetulkan kembali tempat duduknya, setidaknya wanita tersebut sudah tak terlalu bersedih lagi.