
Beberapa tugas telah selesai, jam makan siang pun tiba. Saat Dayana ingin pergi ke kantin, nomor seseorang menelpon dirinya.
"Halo, siapa?" tanya Dayana yang sudah berdiri karena memang sudah berniat ingin menuju kantin.
"Ini Mbak, ada paket saya sudah di bawah tolong ke sini, ya," kata orang yang sepertinya tugas gojek.
"Oh, baik Pak," jawab Dayana dengan menautkan alisnya pertanda bingung, "siapa yang mesen?" Dayana langsung segera berjalan ke lobby kantor.
"Ini, Mbak," ujar tukang gojek memberikan kantong plastik yang sepertinya dari suatu tempat makan terlihat dari labelnya.
Dayana mengambil makanan itu, "Dari siapa? Saya gak ada mesen Pak," ucap Dayana sambil menatap kantong plastik di hadapannya kini.
"Dari Irga nama akunnya Mbak, gak tau juga itu siapa. Saya duluan, ya, Mbak. Mari!" Gojek pergi dari hadapan Dayana dengan tersenyum ramah.
Dayana pun membalas senyuman itu dan berjalan kembali ke meja kantornya, ia mengambil handphone dan mencari nomor orang yang ingin segera dihubunginya sekarang.
"Dih, di mana sih nih bocah?" tanya Dayana yang menunggu telepon diangkat. Ia segera melihat jam yang ada di tangan kanannya.
"Perasaan biasanya dia aktif, ini kenapa enggak ya?" Dayana melanjutkan langkah yang sempat terhenti, ia kembali ke meja makan dan memilih untuk memakan dari Irga tadi.
Saat dirinya tengah asyik makan sambil melihat film yang ada, handphone miliknya berbunyi dan menampilkan nama Irga.
"Iya Mbak? Ada apa?" tanya Irga di sebrang sana dengan suara yang berisik.
"Kamu di mana? Kenapa ribut banget?" tanya Dayana yang sedikit merasa risih dengan suara yang ada.
"Lagi di koridor Mbak, biasa mau liatin cewek-cewek yang ada. Baru keluar main-main di les ke dua soalnya," tutur Irga dengan tersenyum.
"Sekolah tuh belajar! Bukannya malah milih-milih cewek!" ketus Dayana dengan tetap mengunyah makanan.
"Haha, Mbak cemburu? Tenang Mbak meskipun ada banyak wanita di sekolahan ini yang cantik dan juga yang ngejar Irga, di hati ini cuma ada Mbak," jelas Irga yang membuat bibir Dayana terangkat seperti orang sedang kejijikan.
"Dih, gosah ngegombal deh lu! Oh, iya btw makanan ini dari lu?" tanya Dayana yang memberi tahu maksud ia menelpon Irga.
"Iya Mbak, kenapa? Gak enak pilihan gue, ya?"
"Buat apa lu kirim?"
"Buat pertanda terima kasih karena kalo gak ada Mbak bisa-bisa tadi gue jadi hilang gantengnya, Mbak."
__ADS_1
"Emangnya lu ganteng?"
"Ha? Mbak nanya apa Irga ganteng? Iya, dong! Bukan cuma ganteng aja tapi ganteng banget nih gue Mbak!" teriak Irga yang membuat Dayana menjauhkan handphone dari telinganya.
"Dih, nih bocah apa gak malu, ya? Teriak di koridor yang pasti di dengar banyak orang, dasar akut beut pedenya!" gumam Dayana sebelum mengembalikan handphone ke telinganya.
"Yaudah kalo gitu, makasih, ya!"
"Iya, Mbak sama-sama."
"Yaudah, bye!"
Saat Dayana sudah ingin menjauhkan handphone dari telinganya dan mematikan tiba-tiba, "Mbak ... tunggu!" teriak Irga yang seolah di sekolahan hanya ada dirinya seorang.
"Apa?!" geram Dayana dibuat tingkah laku Irga.
"Pulang jam berapa?"
"Jam 5 sore nanti."
"Biasanya juga jam 4."
"Ya, tergantung. Bisa jadi jam 6 bahkan ini kalo lu nelpon mulu! Kerjaan gue kagak siap-siap, dah!"
Ia kembali memakan makanan yang sempat terhenti dan terbit senyuman dari bibirnya ketika melihat perlakuan Irga kepadanya.
Ah ... apa yang kau pikirkan Dayana, dia masih terlalu muda. Bukankah impianmu memiliki suami lebih tua darimu umurnya?
Jangan berondong, masih banyak yang sebaya atau yang tua umurnya. Jangan dia, dia masih panjang perjalanannya.
Setelah selesai mengisi perut, Dayana kembali mengerjakan tugasnya, "Oh, iya. Katanya akan ada pekerja baru, di mana dia? Kok gak muncul, ya?" tanya Dayana yang melihat-lihat sekitar. Namun, sepertinya semuanya karyawan lama.
"Dahlah, semoga kalau pun ada bukan aku yang mengajari dia bekerja. Aku males harus sok lemah lembut sama orang baru!"
Ketika tengah fokus ke layar laptop dan mengetik tugas-tugas yang ada, tiba-tiba seseorang menghampiri mejanya dan berdiri di sampingnya.
"Baik, perhatian semuanya!" ucap seseorang di samping Dayana dan membuat wanita itu mendongak.
"Ini ada anak baru, dia baru keterima kemarin," sambung boss--pemilik perusahaan memberi tahu orang yang ada di sampingnya yang Dayana tak bisa melihat karena terhalang badan boss-nya itu.
__ADS_1
Dayana tak terlalu tertarik dengan pengumuman itu, ia lebih tertarik dengan tugas-tugas yang ada agar segera selesai.
"Hai, semua nama saya Arya Pratama. Semoga kita semua bisa menjadi rekan bisnis yang baik," kata anak baru menyebutkan namanya dan menebarkan senyum kepada rekannya.
"Baik, Arya. Nanti Dayana yang akan mengajari kamu," jelas boss dengan menatap Dayana sedangkan yang di tatap sibuk dengan laptop-nya.
"Ekhem!" dehem boss menyadarkan Dayana. Dirinya segera menatap dan cengir.
Sesi perkenalan telah selesai, 'Kenapa gak besok aja datangnya sekalian? Gini udah sore juga, bentar lagi juga pulang,' batin Dayana menatap jam yang sudah jam satu lebih.
Arya--anak baru satu meja dengan Dayana hanya berbatas buku-buku yang ada saja, Dayana tak menghiraukan tugas boss darinya untuk mengajari anak baru itu.
'Dia minta tolong, baru gue tolong! Kalo enggak, ya, ogah amat nolongin dia segala,' batin Dayana melirik sekilas laki-laki yang tengah fokus menatap layar monitornya.
Kenapa Dayana bukan monitor? Sebenarnya awalnya di meja Dayana juga menggunakan monitor, hanya karena monitornya selalu rusak boss-nya pun merubah ke laptop.
Ia mengambil handset dan langsung memutar lagu dari handphone miliknya kembali mengerjakan tugas.
"Ekhem!" Batuk seseorang yang Dayana dengar melalui kuping sebelah kanannya karena yang pake handset hanya kuping sebelah kiri saja.
Ia melirik ke arah suara dan menatap ke arah suara pertanda menanyakan ada apa, "Gue boleh minta tolong?"
'Hadeh, baru hari pertama aja udah langsung minta tolong. Gak ada inisiatifnya buat berusaha sendiri dulu,' batin Dayana memutar bola matanya malas.
"Apa?" tanya Dayana seadanya.
"Ini gimana ya cara ngerjainnya?" tanya Arya menunjuk monitor.
Dayana langsung bangkit dan menjelaskan apa saja yang harus dikerjakan Arya, ia menjelaskan se-detail mungkin agar laki-laki itu tak bertanya-tanya lagi.
"Ngerti 'kan?" tanya Dayana menatap Arya.
"Iya, makasih," jawab Arya seraya tersenyum. Bukannya mendapat balasan senyuman dari Dayana, wanita itu malah memberikan wajah datar dan kembali ke bangkunya.
"Ingat, lho! Kerja bukan PDKT apalagi pacaran!" ketus seseorang yang baru datang di tengah-tengah Dayana dan Irga.
Dayana yang sudah tahu suara siapa itu tak menatap apalagi melihat ke sumber suara, sedangkan Irga melihat dan menaikkan alis tebalnya satu.
"Ingat, lho! Kerja bukan ngurusin orang!" sindir Dayana dan tersenyum ke arah suara tadi.
__ADS_1
Sedangkan yang diberi senyuman malah panas sendiri, "Dih, gue gak ngurusin kelian, ya!"
"Lah, gue emang ada ngomong kalo lu ngurusin kita Bianca?" tanya Dayana dengan menekan nama wanita itu ketika mengucapkannya.