
Tet... Tet.. Tet..
Alarm dari jam Gia sudah berbunyi. Meskipun hari masih fajar Gia harus terbangun dari tidurnya. Gia menyibakkan selimutnya dan melipatnya. Senyum hangat Gia tampak di raut wajahnya untuk menyambut pagi. Gia mengikat rambutnya dan pergi menuju kamar mandi.
Gia melihat ibu yang selama ini mendidik Gia dan merawat Gia sejak bayi sudah bangun dan menyibukkan dirinya di dapur.
"Ibu.. "
Kata Gia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang memotong wortel.
"Eh gia sudah bangun aja kamu"
Jawab wanita itu. Ibu Sari nama panggilannya adalah seorang pemilik panti asuhan sekaligus pengelola panti asuhan tempat Gia tinggal selama ini. Sejak kecil Gia sudah akrab dengan Ibu Sari karena sejak kecil juga belum ada orang tua yang mau mengadopsi Gia sebagai anaknya.
"Mau Gia bantu? "
"Kamu mandi saja dulu, nanti jangan lupa bangunin anak anak yang lainnya"
Gia menghela nafas berat. Sebab Gia tak bisa ikut campur tangan di dapur. Gia selalu ingin bangun lebih awal daripada Ibu Sari agar Gia dapat menyiapkan makanan dan tak perlu membebankan Ibu Sari yang sudah mulai menua.
"Umm.. Nanti kalo yang lain sudah bangun Gia bantuin Ibu masak ya"
"Ngga usah Gia, Kamu udah terlalu capek bantuin ibu.. Biar ibu saja yang masak"
Gia menggaguk dan membiarkan Ibu Sari untuk memasak di dapur.
\-\-\-0\-\-\-
Setelah selesia mandi Gia membangunkan anak - anak panti yang lainnya.
__ADS_1
"Riri Bangun"
Ujar Gia pada salah satu anak yang tidur sekamar dengannya. Tak perlu susah susah untuk membangunkan mereka Gia hanya menepuk atau mengelus tiga kali sambil memanggil nama mereka untuk bangun.
"Masih ngantuk teh"
"Ri.. Ayo bangun, katanya mau jadi dokter? Masa iya dokternya pemalas? "
Riri adalah salah satu dari beberapa anak panti yang akrab dengan Gia. Riri ingin memiliki watak seperti Gia karena kepribadia Gia yang penyayang dan baik hati.
Setelah semua anak - anak telah bangun, Gia mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Ini adalah hal yang sedikit di benci oleh Gia, pasalnya Gia tidak terlalu suka di lingkungan sekolahnya. Gia duduk di depan cermin sambil menatap tubuhnya sendiri yang terpampang di cermin.
"Gia kamu harus kuat..! "
Ujar Gia menyemangati dirinya sendiri. Meskipun masalah Gia di sekolah mampu menurunkan mental Gia, tapi Gia harus tetap terlihat baik - baik saja dimana Ibu Sar, Riri, dan anak - anak panti yang lainnya.
Gia mula menyisir rambutnya dan mengepang rambutnya. Tak perlu dandan yang menor Gia hanya perlu memakai bedak saja untuk terlihat cantik. Setelah semuanya selesai Gia memakai kacamatanya. Kacamata Bulat dan rambut yang terkepang dua adalah salah satu ciri khas Gia selama di sekolah.
Ujar Riri memeluk Gia dari arah belakang. Riri begitu menyayangi Gia dan menganggap Gia sebagai kakak kandungnya sendiri.
"Riri juga cantik"
Sahut Gia tersenyum hangat kepada Riri.
"Riri juga mau di kepang dua kayak kak Gia"
Seperti hari - hari biasanya Gia harus menyisir rambut Riri dan mengikat rambut Riri sesuai permintaan Riri sendiri.
Gia keluar dari kamarnya menaruh tasnya di kursi ruang tamu dan membantu Ibu Sari untuk menyiapkan makanan.
__ADS_1
"Biar Gia aja Bu"
Ujar Gia kepada Ibu Sari. Karena Ibu Sari sudaj cukup lelah Ibu Sari membiarkan Gia untuk membawa makanan itu ke meja makan. Anak - anak panti yang umurnya masih kecil sudah duduk rapi menanti Gia yang membawakan makanan untuk mereka.
"Sini - sini teh"
Seru salah satu dari mereka. Gia senang bisa melihat anak - anak itu tersenyum dan semangat.
"Nih makanannya, jangan berebutan ya"
Kata Gia. Gia mengambilkan mereka nasi secara bergantian wujud kasih sayang Gia kelada mereka. Setelah selesai Gia merapikan meja makan dan bergegas menuju ke sekolah.
"Gia pamit dulu ya kesekolah"
Seru Gia ke Ibu Sari. Hari ini Riri meminta Gia untuk mengnatarkan Riri ke sekolah karena ini sudah menjadi kebiasaan Riri terhadap Gia. Gia hanya bisa mengantarkan Riri ke sekolah menggunakan sepeda mininya.
Dalam perjalanan Riri sangat menikmati cuaca pagi hari bersama Gia. Gia selalu menceritakan bagaimana kisah menjadi seorang dokter kepada Riri agar Riri bisa memiliki semangat yang lebih untuk menggapai cita - citanya menjadi seorang dokter.
"Teh Gia, Kalo Riri udah jadi dokter Riri bakal periksa Teh Gia, Ibu Sari, sama teman - teman Riri yang lainnya secada gratis teh"
Kata Riri sangat bersemangat. Gia senang bisa mendengarkan antusias Riri untuk menggapai mimpinya.
"Boleh juga. Tapi nanti Riri kalau mau suntik teteh suntikannya jangan sakit - sakit ya"
"Teteh tenang aja.. Nanti ngga bakal sakit kok"
"Pasti teteh bangga bisa di periksa sama Riri.. Apalagi Riri cantik"
"Cantikan juga teh Gia"
__ADS_1
Setelah selesai mengahantarkan Riri untuk sekolah. Gia langsung mempercepat laju sepedanya agar bisa dengan cepat menuju ke sekolah.
Tak ada yang kebetulan untuk hidup di dunia. Semua itu butuh proses dan pembelajaran. Meskipun terkadang pahit selalu datang untuk menggelapkan suasana. ~ Gia Sabila Putri