CUPU

CUPU
JAHAT


__ADS_3

"Andai pembunuh itu datang ke sini saat ini juga, mungkin gue nggak akan ya sampe segininya ke elo," ucap Alex masih dengan posisi yang sama yaitu mencengkram pipi Difa kuat.


"Eh tapi kalau dia dateng kayaknya seru deh," ia berkata lagi.


"Kalau dia dateng otomatis gue dapet mangsa lagi dong," ucapnya dan tersenyum sinis.


"Kayaknya kalau gue habisin dia doang, gue rasa nggak akan seru deh begitu pun sebaliknya kalau gue cuman habisin elo doang. Kalian berdua saling mencintai bukan? hem.. kalau gue habisin kalian berdua sekaligus kayaknya baru afdal deh," ucapnya menyeringgai jahat.


Difa menggeleng."Ka..mu ja..hat," ucap Difa terbata-bata karena ke susahan dalam bicara dan ditambah rasa sakit yang dirasakannya karena tangan Alex yang masih saja memegang kuat pipinya.


"Jahat? jahat mana dibanding dengan pembunuh itu."


Difa menggeleng-geleng kepalanya, bertujuan untuk melepas cengkraman tangan Alex di pipinya.


Difa terus menggeleng-geleng kepalanya.


Sampai tangan Alex sudah hampir terlepas di pipinya.


"Diam!" bentak Alex dan tambah mencengkram kuat pipi Difa kembali.


"Sa..kit," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Difa.


"Sakit ya?" ucap Alex menyeringgai.

__ADS_1


Buliran bening keluar dari pelupuk mata Difa.


Alex menambah cengkraman kuat di pipi Difa.


Argh.. ringis Difa, Alex melepas cengkraman tangannya di pipi Difa kasar.


"Argh.." lagi-lagi Difa meringis.


"Ini belum seberapa ya, inget itu," ucap Alex tegas lalu meninggalkan Difa.


Alex melangkah pergi meninggalkan Difa, saat Alex ingin keluar dari rumah itu, sebelum ia membuka pintu rumah itu ia menoleh sejenak dan berkata...


"Jaga dia jangan sampai lepas, atau kalian yang akan tanggung risikonya," pesan Alex kepada dua anak buahnya yang berdiri di kiri kanan Difa.


Alex pergi keluar rumah itu, meninggalkan Difa dan dua penjaga.


Penjaga menjaga ketat Difa, mereka berbagi tugas 1 tetap fokus menjaga Difa dan 1 lagi was-was berjaga kalau misal nanti ada orang yang datang karena sudah mengetahui keberadaan Difa yang diculik.


"Bom jaga yang bener!" ucap 1 penjaga sedikit teriak kepada temannya yang bernama Bom itu dan diangguki oleh Pak Bom.


Difa kemana? Difa jangan ditanya, kini ia sedang menangis tersendu-sendu meratapi nasibnya kemudian hari jika Alex benar-benar serius dengan perkataannya tadi. Yaitu akan membunuhnya.


Bukan karena ia takut atau tak rela, ia sangat rela bahkan ikhlas jika ia memang sudah ditakdirkan harus pergi dari dunia ini karena itu semua memang sudah ketetapan dari yang maha kuasa.

__ADS_1


Tapi yang membuatnya menangis yaitu kedua orang tuanya, bagaimana bisa ia bisa tahan melihat orang tuanya. Jika kelak mengetahui bahwa ia anak tunggal mereka meninggal dengan cara yang mengenaskan.


Dengan membayangkannya saja sudah membuatnya sesak apalagi jika ini benar-benar terjadi.


Difa saat ini benar-benar gelisah tak karuan.


Bagaimana keadaan orang di rumahnya? Bagaimana kalau Mama dan Papa nya mengetahui kalau ia diculik, pasti mereka sangat khawatir, batinnya menerka-nerka.


 


Di rumah keluarga Dirgantara.


Hampir 1 jam Deo menunggu kedatangan Difa, namun yang ditunggu tak kunjung datang juga.


"Nak, Difa belum pulang juga?" tanya mama Difa yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.


"Eh Tante, belum nih Tan."


"Kemana ya tuh anak, tumben-tumbenan jam segini belum pulang," ucap mama Difa celingak-celinguk dan hanya ditanggapi Deo dengan senyum tipisnya.


Prov Kevin


'Nggak nyangka ternyata bang Alex beneran nekat,' batinnya.

__ADS_1


Ditambahnya kecepatan laju motornya menyusuri jalan raya yang ramai, tak tau akan kemana tujuannya. Yang pasti saat ini tujuannya hanya satu yaitu mencari Alex.


__ADS_2