
"Dif, gue mau bicara sesuatu," ucap Kevin kepada Difa.
"Apa Kak?" tanya Difa penasaran.
Kevin meraih tangan Difa, memegangnya."Gue suka sama lo, lo mau kan jadi pacar gue?"
"K-kak Kevin bercanda kan?" menggeleng tak percaya, Difa.
"Dif? Coba liat mata gue, lo liat.. Apa ada gue bercanda?"
Difa menatap lekat mata indah milik Kevin. Benar saja, tak ada raut kebohongan ataupun bercanda yang dilihatnya di sana. Melainkan hanya wajah yang penuh dengan tatapan keseriusan."Apa ada? Apa ada muka gue bercanda?" ucap Kevin halus.
Difa hanya diam."Gue beneran serius, gue beneran suka! sama lo," ucap Kevin serius.
"T-tapi Kak.." belum selesai.
"Lo mau kan? Jadi pacar gue," ulang Kevin.
"Em.. Em.. Ma-maaf ya Kak, tapi aku nggak bisa," ucap Difa.
"Kenapa? Kenapa nggak bisa, gue beneran tulus, suka.. Sama lo Dif," ucap Kevin lirih.
"Kasih gue kesempatan.. Sekali aja, gue janji gue nggak bakal bikin lo sedih.. Gue bakal selalu buat lo bahagia," ucap Kevin mantap.
"Plis.. Beri gue kesempatan Dif," mohon Kevin.
Difa merasa tak enak hati kepada Kevin, jika ia menolaknya.. Namun bagaimana? Ia tak mau jika harus menyakiti hati Kevin, jika ia menerima cinta Kevin, namun tanpa membalas rasa cinta itu sendiri, karena jujur ia tak punya perasaan yang sama seperti Kevin untuknya. Ia telah menganggap Kevin itu seperti Kakaknya sendiri, Kakak kandungnya.. Ia sayang Kevin sebagai sayangnya sang Adik kepada sang Kakak tak lebih."Kak Kevin itu, terlalu baik buat aku," ucapnya dengan lirih.
"Why? Terlalu baik. Gue bukan malaikat Dif," ucap Kevin.
Ucapan Kevin membuat Difa tambah, dihantui dengan rasa tak enak hatinya."Huuh.. Aku akan coba," akhir keputusannya.
Senyum kebahagiaan terpancar di wajah Kevin."My Princess❤" ucapnya dan mencium tangan mungil milik Difa.
Difa hanya tersenyum tipis melihatnya, entahlah.
Seperti halnya dengan pasangan lainnya. Kevin dan Difa menghabiskan waktu mereka bersama.
Jika di sini Kevin sangat menikmati moment bahagia ini, tapi tidak dengan Difa.. Difa yang hanya diam saja, yang hanya akan bicara ketika Kevin bertanya kepadanya saja.
Kevin menyadari bahwa Difa tak merasakan bahagia seperti dirinya, dilihat dari tatapannya yang kosong, melamun saja sedari tadi."Kamu nggak bahagia ya?" ucap Kevin tersenyum getir.
__ADS_1
Difa menatap Kevin."Aku mau pulang, Kak."
"Buru-buru banget? Kita baru aja dateng lho," ucap Kevin lembut.
"Kakak nggak mau pulang, ya udah aku duluan Assalamu'alaikum," ucap Difa ingin pergi namun terhenti."Iya kita pulang," suara Kevin lemah.
***
Rabu yang indah..
Hari ini, langitmu sangatlah cerah
Aku harap..
Kisah kesanku di hari ini..
Bisa cerah seperti langitmu itu..
Ya.. Walau mungkin,
Kenyataannya tak akan mungkin bisa..
Pagi yang cerah, di rumah yang mewah dan megah itu.. Terlihat gadis cantik yang sedang memoleskan make up di wajahnya.
***
Hari ini sepertinya ia sangat senang, berjalan menyusuri koridor kampus dengan senyum manis yang terlukis di bibirnya.. Ia menenteng satu buah kantung di tangannya yang entahlah apa isi di dalamnya.
Matanya menangkap sosok lelaki yang sudah tak asing lagi dilihatnya."Kak Kevin?" panggilnya sedikit teriak, ia berlari kecil menghampiri lelaki itu yang saat itu sedang berdiri di depan mading, tak jauh dari posisi jalannya.
Setelah ia sampai tepat di depan Kevin."KAKAK," kagetinya.
Kevin yang sedang fokus-fokusnya membaca pengumuman di mading, tak tanggung-tanggung dibuat kaget oleh ulah kejailan Difa.
"Princess astaga!" kaget Kevin.
"Haha," tawa Difa, melihat ekspresi kagetnya Kevin.
"Ih jahil ya.." ucap Kevin sambil mengacak rambut Difa pelan."Hehe.." kekeh Difa.
"Ada apa hm?" tanya Kevin gemas.
__ADS_1
"Hehe ini aku ada kue lho Kak," ucap Difa, menunjukkan kantung yang dipegangnya.
"Oh ya.. Buat aku kan?" ucap Kevin senang.
"BUKAN Kak," geleng Difa gemas.
"Lho bukan ya? Terus buat siapa dong kuenya," ucap Kevin.
"Buat Kak Deo," ucap Difa santai.
"Lah kok buat Bang Deo sih," cemberut Kevin lucu.
"Haha Kak Kevin lucu deh," ucap Difa mencuil hidung Kevin gemas.
"Habisnya kamu sih," cemberut Kevin.
"Hehe ini kuenya rasa coklat lho Kak, emang Kakak bisa apa makan coklat? Kakak bukannya alergi ya.. Makan coklat-coklatan kalau Kak Kevin kenapa-kenapa gara-gara makan kuenya gimana?" ucap Difa panjang lebar.
"Hm.. Perhatian nih yeh," goda Kevin.
"Em.. Enggak tuh siapa juga yang perhatian," ucap Difa jail.
"Oh gitu.. Ya udah," ucap Kevin datar.
"Iya-iya ih, ambekan banget sih," goda Difa.
Kevin hanya diam."Kak? Kok diem sih."
"Kak?"
"Kak?"
"Kak Kevin?"
"Ih Kak Kevin."
"Kak Kevin? Jangan diem aja dong... Kita makan aja gimana? Berdua Kak," bujuk Difa.
"Kevin menatap Difa."Serius?" tanyanya memastikan.
"Iya.. Kak Kevin," angguk Difa.
__ADS_1
Kevin tersenyum."Ya udah ayok," ucapnya semangat, Difa pun ikut tersenyum karena bujukannya berhasil.
Bergandengan tangan, mereka ke kantin.