CUPU

CUPU
LUPAKAN


__ADS_3

"Bang Deo," panggil seseorang siapa lagi kalau bukan Kevin, sambil berlarian kecil ia mendekat ke arah Deo dan Difa.


"Kalian nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Kevin menatap Deo dan Difa bergantian.


Perhatian Kevin teralih disaat, ia dengan tak sengaja melihat tangan dan kaki Difa yang masih terikat rapi.


Tanpa babibu lagi, Kevin langsung melepaskan ikatan itu.


"Bang, Dif, ayo kita pergi dari sini," ajak Kevin setelah ia berhasil melepas ikatan yang melilit di tubuh Difa.


Deo dan Difa tergelonjak kaget, mendengar seruan Kevin.


Kevin mengerutkan keningnya."Eh, kalian nggak sadar ya ada gue?" ucapnya.


Difa hanya tersenyum tipis menanggapi, Deo masih tetap setia dengan tatapannya terhadap Difa. Tak menggubris perkataan Kevin.


Entah apa, yang sedang dipikirkan olehnya.


"Bang, ayo gue bantu," tanpa izin persetujuan lagi dari Deo, Kevin langsung menarik lengan Deo, memapah Deo.


Difa tidak diam saja, diraihnya tangan sebelahnya Deo. Ditariknya dan ditaruhnya di pundaknya.


Berjalan perlahan...


Kini mereka telah berada di rumah kediaman keluarga Kevin.


***


Awalnya tadi Difa dan Kevin ingin membawa Deo ke Rumah Sakit, tapi karena Deo menolaknya dengan alasan sakit memar di tubuhnya itu bisa diobati sendiri tanpa harus repot-repot ke Rumah Sakit.


Ya mau tidak mau mereka hanya bisa menurut saja, dan Deo meminta diantar ke rumahnya saja. Tapi kali ini tidak dapat disetujui oleh Kevin sendiri.


Di rumah Deo ada Mama dan Papa nya Deo, bisa-bisa habis Deo jika ketauan babak belur, karena telah berantem.


Dan tidak hanya itu jika ortua Deo sampe tau, lawan Deo berantem adalah Alex sepupu Deo sendiri. Yang berarti keponakan mereka.


Bisa-bisa habis Deo dimarahi, dan Kevin tak mau itu terjadi.


Kevin kasihan melihat Deo, yang selalu menjadi bahan pelampiasan keegoisan Alex.


Bukan kali ini saja, dan bahkan bukan cuma dua tiga kali saja Alex memukuli Deo seperti ini, tapi telah berulang kali. Namun biasanya Deo hanya diam dan pasrah jika Alex memukulinya, tapi tidak kali ini, Deo membalas setiap pukulan demi pukulan yang dilayangkan kepadanya.


Sehingga pertarungan di antara keduanya kali ini, sangat tampak brutal.


"Gue ke belakang ngambil obat," ucap Kevin dan berlalu.


"Sakit Kak?" tanya Difa, memegang lebam di sudut bibir Deo.


Yang ditanya hanya mengangguk.


"Kakak, kenapa kok bisa luka-luka kayak gini?"


"Derrt... derrt... dertt.." suara hp bergetar di saku celana Deo.


Diambilnya, setelah dilihatnya layarnya...


Deo menunjukkan layar ponselnya kepada Difa.


"Mama Kak?"


"Iya."


"Halo, Tant?"


"Nak, gimana Difa nya ada?" tanya Mama Difa khawatir.


"Iya Tant, Difa nya ada tante tenang aja. Sekarang Difa nya lagi sama Deo, nanti sorean Deo anter Difa pulang."

__ADS_1


"...."


"Iya, Tant."


**


"Kamu pulangnya, dianter Kevin ya," ucap Deo.


"Tapi Kak, lukanya belum diobatin."


"Udah nggak apa-apa, ini luka biasa, diobatin sendiri juga bisa," ucap Deo.


"Tapi Kak.."


"Udah, pulang ya," bujuk Deo.


Difa hanya pasrah, ia pulang diantar oleh Kevin.


***


Keesokan harinya...


Hari ini Difa berangkat sekolah sendiri, karena Deo sepertinya masih sakit menurut kabar dari Kevin semalam.


Iya semalam Difa mencoba menghubungi Deo, tapi tidak ada respond dari Deo.


Dari menelpon, sms, chat semua Difa lakukan untuk bisa menghubungi Deo.


Namun Deo masih saja tak membalas panggilannya, sampai terpikir di otaknya untuk bertanya kepada Kevin.


Dan ternyata menurut kabar dari Kevin, Deo sakit, dan Deo menginap di rumahnya.


Banyak pertanyaan-pertanyaan, yang ingin Difa tanyakan.


Tapi ia tahan, pikirnya."Bukanlah waktu yang tepat."


Whatsaap


Kak Deo❤


"Nanti pulang sekolah, aku jemput."


09.30


Iya, Kak:)


09.31


Pulang sekolah.


Deo menjemput Difa sebelum mengantarnya pulang ia membawa Difa ke taman, di mana di taman itulah tempat mereka jadian tepat 8 bulan yang lalu.


Dan semenjak 8 bulan yang lalu, tempat ini telah resmi menjadi tempat favorit mereka.


"Tumben Kak, ngajak ke sini, biasanya hari minggu? ini baru hari rabu lho Kak, Kakak nggak salah hari kan?" ucap Difa sesekali terkekeh.


Deo hanya diam..


"Kak?" panggil Difa.


"Kak."


"Kak Deo?"


Deo hanya diam, tak menjawab. Menatap Difa pun ia tak mau.


Setelah Berapa kali Difa memanggilnya, ia akhirnya bersuara."Maaf, kitaaa Putus."

__ADS_1


Dorrr... Bagai disambar petir disiang bolong.


"Kak, Kakak.. bercanda kan?" ucap Difa mencoba tersenyum.


Deo menggeleng.


"Kak, Kakak bohong kan? Kakak lagi bercanda kan Kak? Kak jawab, Kakak mau ngefrank aku ya Kan, ih Kakak mah suka banget ngefrank, tapi frank Kakak berhasil lho Kak, Kakak jangan diem, jawab aku liat aku Kak," ucap Difa nyerocos.


"Dif, stop-stop gue lagi nggak bercanda. Gue serius gue nggak ngefrank lo, gue beneran Putusin lo."


"Kak.." air mata Difa tak dapat dibendung lagi, tangisnya pecah.


"Gue harap, lo bisa lupain semua tentang kita, anggap aja kita nggak pernah ada hubungan apa-apa, anggap aja kita nggak saling mengenal satu sama lain."


Difa menghapus air matanya kasar."Kak, Kakak pikir mudah buat lupain itu semua, itu semua nggak mudah Kak, 8 bulan lebih kita sama-sama nggak mungkin hanya dengan sekejap aku bisa lupain itu semua," air dimatanya tak berhentinya mengalir.


"Terserah lo, intinya mulai sekarang kita udah nggak ada hubungan apa-apa."


"Nggak Kak, aku nggak terima aku cinta sama Kakak, sekarang aku mau tanya apa alasan Kakak tiba-tiba mutusin aku?"


Deo hanya diam


"Kak, aku tanya sama Kak, jawab Kak?"


"Gue udah nggak cinta sama lo."


Difa tersenyum getir."Aku benci KAMU," ucap Difa sebelum ia berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Deo.


"Bukan urusan kamu," ucap Difa tegas.


"Gue anter pulang," ucap Deo.


Difa tak menggubris ucapan Deo, ia berjalan menjauh.


"Gue anter pulang," ucap Deo lagi-lagi, namun masih saja tak digubris oleh Difa.


Difa malah mempercepat jalannya.


Happ Deo berhasil menangkap tangan Difa.


Deo menatap Difa dalam-dalam, tangannya masih memegang tangan Difa."Gue, anterin lo pulang," ucap Deo lembut.


Tangis Difa semakin pecah.


"Jangan nangis," Deo menghapus air mata Difa lembut.


"Senyum dong," ucap Deo.


'Gimana aku mau senyum Kak, disaat hati aku sakit kayak gini,' batin Difa.


Tak ada respond dari Difa, Deo bicara lagi.


"Pulang yok," Difa hanya mengangguk.


Deo mengantar Difa pulang, selama diperjalanan tidak ada yang berbicara di antara keduanya.


Semua diam.


Disepanjang perjalanan pun Difa tak henti-hentinya menangis.


Deo pun dapat merasakan bahwa Difa sedang menangis, punggungnya basah dapat dirasanya air mata Difa mengalir deras dan jatuh di punggungnya.


"Maaf," ucap Deo pelan bahkan Difa tak dapat mendengarnya.


Angin semilir derasnya, dapat dirasakan di kulit mereka, angin-angin menabrak kuat tubuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2