
"Pak kenapa berhenti di sini?" tanyanya kepada sopir taksi tersebut.
Namun sopir taksi tersebut hanya diam tak menjawab.
Terlihat sopir taksi tersebut mengeluarkan handphone dari saku celananya.
Dan dapat Difa dengar pembicaraan antara sopir taksi tersebut dengan seseorang teman bicaranya yang Difa sendiri juga tidak tau siapa teman bicara sopir tersebut.
"Sudah bos."
"Bagus, sekarang bawak dia ke dalam," seru orang di seberang telepon tersebut.
"Baik bos."
"Ayo," ucap sopir kepada Difa.
"Enggak mau, ini bukan rumah saya. Jalan rumah saya enggak lewat sini," ucap Difa menolak untuk diajak turun sopir itu.
"Ayo," ucap sopir itu tegas.
"Enggak," geleng Difa.
"Ayo," paksa sopir tersebut sembari menarik tangan Difa.
"Enggak Pak, enggak mau."
"Ayo."
Akhirnya sopir taksi tersebut berhasil membawa Difa keluar dari mobil.
"Pak lepas," lirih Difa sembari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman sopir itu.
__ADS_1
Namun usaha Difa untuk melepaskan diri sia-sia karena tenaga orang itu lebih kuat dibanding dengan ia sendiri.
Rumah minimalis yang ukurannya bisa dibilang tidak terlalu besar, hanya sepetak dan dapat ditebak bahwa rumah itu tidak memiliki ruang-ruang khusus di dalamnya.
Lapangan depan rumah yang sangat sempit, mungkin hanya kendaraan kecil saja yang bisa masuk langsung ke dalam area lapangan rumah itu.
Sepi, sunyi tidak ada orang di sana.
Bangunan-bangunan rumah yang dapat dihitung jumlahnya menggunakan jari, tidak terlihat orang yang berlalu lalang di sana.
Bangunan rumah yang kotor tak terurus dapat disimpulkan bahwa tempat itu tidaklah berpenghuni.
Entah kemana orang-orang di sana berada, meninggalkan rumah mereka.
Difa diseret masuk ke dalam salah satu rumah di sana.
Diikat Difa di dalamnya, kaki, tangan yang diikat dan mulut yang sudah ditutup dengan sapu tangan yang diikat kuat, membuat Difa meringis.
Tempat apa ini? batin Difa.
Seseorang itu menghentikan langkahnya, dan berdiri tepat di depan Difa yang sedang duduk terikat disebuah kursi.
Hahaha, tawa seseorang itu.
Siapa dia, batin Difa bertanya-tanya.
Difa terus memandangi orang itu.
Aku tidak mengenalnya, kenapa dia menculikku apa mau dia.
"Kenapa lo liat-liat?" ucap orang itu.
__ADS_1
Difa hanya menunduk, ingin rasanya dia bertanya kepada orang itu, akan tujuan mereka menculiknya.
Namun bagaimana bisa mulutnya yang ditutup itu sama sekali tak bisa membuatnya dapat bicara.
Orang itu berjalan berputar mengelilingi Difa.
"Gue sebenernya kasian ya... ngeliat lo kayak gini, karena gue liat-liat kayaknya elo cewek baik-baik deh," ucapnya dengan nada bicara seolah merasa iba.
"Hem gue lepasin elo aja deh," ucapnya tepat di depan Difa.
Mendengar ia akan melepaskannya, membuat Difa sontak mendongak menatapnya.
"Tapi boong, hahaha," ucapnya dan tertawa jahat.
"Gue enggak akan... lepasin elo," bisiknya di telinga Difa lembut namun terdengar mengerikan bagi Difa sendiri.
"Gue sebenarnya nggak ada urusan sama lo, hem... tapi karena elo adalah orang tersayangnya si pembunuh itu. Dan pembunuh itu sangat mencintai elo, jadi elo juga harus ikut membayar segala perbuatan jahat pembunuh itu," ucapnya menyeringai.
Emh...emhh.. Difa berusaha berbicara.
"Kenapa mau ngomong?" ucap orang itu dan diangguki oleh Difa.
Ia membuka tutupan mulut Difa.
Hufhh.... Difa mengatur nafasnya, yang tersengal-sengal karena pengap.
Setelah ia sudah merasa tenang Difa langsung bicara...
"Kamu siapa dan maksud kamu apa bilang pembunuh itu mencintaiku, siapa pembunuh yang kamu maksud itu?" tanya Difa beruntun setelah orang tersebut membukakan sapu tangan yang sejak tadi membuatnya tak dapat bicara.
Orang itu hanya tersenyum sinis."Ternyata... elo polos juga ya."
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Orang yang...."