
Difa akhirnya berangkat sekolah bareng Kevin.
'Maafin gue bang,' ucap Kevin dalam hati.
Di sekolah lebih tepatnya di parkiran.
"Thanks kak tumpangannya, maaf kalau ngerepotin," ucap Difa.
"Yo'i santai aja kali," ucap Kevin.
"Duluan ya kak," ucap Difa.
"Iya-iya silakan," angguk Kevin.
'Kak Deo kemana ya? aku kok jadi khawatir gini,' ucap Difa sendiri.
'Ditelpon juga enggak diangkat-angkat, huh kemana sih kamu kak-kak,' ucapnya gelisah.
Disatu sisi...
"Thanks ya bro," ucap lelaki itu sembari menepuk bahu lawan bicaranya itu.
"Yo'i sama-sama, gue masuk duluan ya," ucap lawan bicaranya itu dan diangguki olehnya.
Kini tinggal ia sendiri...
Woy, ucap seseorang dari belakangnya.
"Ndy," ucap lelaki itu.
"Hah kenapa bro?" tanya Andy.
"Sial gue Ndy, hari ini," jawab lelaki itu, siapa lagi kalau bukan Deo.
"Kenapa lagi lo?" tanya Andy.
"Motor gue, mogok," jawabnya.
"Lah, kok bisa?" tanya Andy.
__ADS_1
"Baru kali ini lho, gue denger elo ngomong motor elo mogok. Gue kira motor elo sehat terus," sambung Andy dan terkekeh.
"Nah itu dia gue juga bingung, kok bisa motor gue mogok. Padahal elo sendiri tau kan, gue enggak pernah alpa servis motor gue tiap bulannya," ucap Deo.
"Iya juga ya, tapi entar dulu ngomong-ngomong motor elo, kemana?" tanya Andy.
"Gue tinggal di sana," jawab Deo.
"Elo kesini naik apaan?" tanya Andy lagi.
"Nebeng sama orang, dan kebetulan orangnya anak kampus sini," jawabnya.
"Beruntung lo, btw kenapa elo enggak telpon gue coba kan gue bisa bantu, gue bisa jemput elo kek."
"Nah itu dia masalahnya, gue lupa bawak hp," jawab Deo.
"Hahaha kayaknya hari ini emang hari sial elo deh bro."
Di Sma gemintang.
Pulang sekolah...
"Emh enggak usah kak, aku naik taxi aja," tolak Difa lembut.
"Enggak, elo pulang bareng gue," ucap Kevin.
Difa tak menanggapi ucapan Kevin, ia mempercepat jalannya mendahului Kevin dan sedikit berlarian.
"Dif, tunggu," panggil Kevin dan mengejar Difa.
"Dif," ucap Kevin setelah ia berhasil menyejajarkan jalannya dengan Difa.
"Gue anter lo pulang ya," ucapnya lagi.
"Enggak kak terima kasih, aku naik taxi aja," ucap Difa.
"Gue enggak nerima tolakan elo, elo pulang bareng gue," ucap Kevin agak tegas.
Difa menghentikan jalannya dan membuat Kevin sontak ikut berhenti juga, ia menatap Kevin.
__ADS_1
"Tapi kak," ucapnya pelan.
"Ayo," ucap Kevin, ia berjalan duluan sedikit tidak ia menghiraukan ucapan Difa.
Difa memandang punggung lelaki itu, ia masih setia berdiri di tempat itu.
Sampai suara panggilan laki-laki itu lagi yang membuatnya tersadar, dan berjalan lagi mengekor lelaki yang bernama Kevin itu.
Malam hari...
"Yaang maaf ya," ucap seseorang dari seberang telpon itu.
"Iya kak, enggak apa-apa kok."
"Terima kasih ya, yaang kamu udah bisa ngertiin aku," ucap orang itu lagi.
"Iya kak Deo, sama-sama hehe. Dari tadi lho kakak bilang terima kasih terus," ucap Difa terkekeh.
"Hehe ya maaf," ucap Deo.
"Nah-nah bilang maaf lagi kan? udah berapa kali lho kak, kakak bilang maaf sekali lagi kakak bilang maaf dapet cangkir emas dari aku hehehe," ucap Difa.
"Haha bisa aja kamu, maaf," ucap Deo.
"Nah bilang maaf lagi, fiks kakak mau dapet cangkirnya ya? dari tadi bilang maaf mulu," ucap Difa dan terkekeh.
"Tau aja kamu haha," ucap Deo.
"Iya dong hehe," jawab Difa.
"Udah-udah tidur sana, jangan telponan terus besok sekolah," ucap Deo.
"Yaelah yang nelpon siapa? yang ngajak ngomong siapa? yang kena omel siapa?" ucap Difa memutar bola matanya malas.
"Hahaha udah tidur sana," suruh Deo.
"Iya, good night kak Assalamu'alaikum."
"Iya sayang good night, Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Sambungan telpon terputus.