
2 bulan kemudian...
"Gue harap kali ini elo berhasil, ingat jangan sampai ketahuan. Apalagi sampai dia curiga dan sadar kalau dia lagi diawasi," ucap lelaki itu.
"Iya bos siap," angguk lelaki yang tampilannya sudah seperti preman itu, ya atau lebih tepatnya ia memang seorang preman.
"Bagus," ucap lelaki itu sinis.
"Pergilah kerjakan tugas kalian," ucapnya lagi.
Preman itu pergi dan meninggalkan lelaki itu sendiri.
Hari minggu...
Gadis cantik, memakai celana sport panjang dengan dipadukannya baju kaos polos ala-ala
anak kekinian yang cocok dipakai untuk olahraga sebagai atasan bajunya.
Dituruninya anak tangga rumahnya satu persatu...
"Bik, Mama sama Papa kemana?" tanyanya kepada salah satu Art rumahnya.
"Tuan dan Nyonya sudah berangkat Non," jawabnya.
Ia mengangguk."Yaudah kalau gitu, Difa keluar dulu ya Bik," ucapnya.
"Non, enggak sarapan dulu?" tanyanya.
"Enggak Bik, nanti aja nanti setelah pulang."
"Difa pamit ya Bik, Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Iya Non, Wa'alaikumsalam."
Berlari-lari kecil ia, sampai di taman ia duduk di bawah salah satu pohon yang rindang itu.
'Nyaman banget suasananya, rasa enggak mau pulang deh hehe,' ucapnya sendiri.
Dilihat-lihatnya di sekelingnya, banyak orang yang sedang melakukan aktivitas mereka. Ada yang sedang senam bersama, ada yang lari-lari kecil mengelilingi taman, ada juga yang duduk-duduk sepertinya dan lain-lainnya.
'Itu siapa?' ucapnya dalam hati, ketika matanya dengan tidak sengaja menangkap seseorang yang sedang memandanginya.
'Kenapa, dia liatin aku terus ya?' ucapnya pelan, ia merasa risih karena orang itu tidak henti-hentinya memandanginya.
Walau jaraknya memang agak jauh tapi Difa sangatlah merasa risih, orang itu seperti tidak melepas pandangannya sedikit pun terhadapnya.
Difa berdiri dari duduknya...
Ia berjalan menjauh dari tempat itu.
'Jam sembilan,' gumamnya melihat jam yang terlilit di tangan kirinya.
Ia berjalan santai, ia berniat untuk pulang ke rumahnya.
'Kayak ada yang ngikutin,' gumamnya.
Ia menoleh.'Enggak ada siapa-siapa, au ah.'
Tak ambil pusing, dipercepatnya jalannya.
Kediaman keluarga Dirgantara.
'Kak Deo kira-kira lagi ngapain ya?' pikirnya.
'Telpon ah,' ucapnya.
Dihubunginya Deo...
"Hallo kak lagi apa?" tanyanya setelah ia merasa panggilan telponnya telah tersambung.
"Baru selesai mandi yaang, ada apa kamu enggak kenapa-kenapa, kan?" ucapnya.
"Hehe enggak kok kak, cuma mau telpon aja," ucap Difa.
"Kak, aku ganggu waktu kakak ya?" tanya Difa tidak enak.
"Enggak kok yaang, enggak ganggu sama sekali, malah aku seneng enggak kayak biasa kamu telpon aku. Biasa aku yang telpon kamu duluan," ucap Deo.
"Hehe, habis aku kangen," ucapnya.
"Ciye-ciye ada yang kangen nih ye," goda Deo.
"Apaan sih kak," ucap Difa salting.
__ADS_1
"Ciye-ciye ada yang salting nih," goda Deo lagi.
"Ih apaan sih sok tau deh," ucap Difa mengelak.
"Alah enggak usah ngeles deh, aku tau kok. Tuh-tuh kamu lagi senyum-senyum sendiri kan," ucap Deo.
'Ih kak Deo kok bisa tau sih,' ucapnya dalam hati.
"Ya taulah Deo gitu lho," ucap Deo tiba-tiba seperti tau pikiran Difa.
'Kok kak Deo tau aku ngomong apa,' ucapnya lagi dalam hati.
"Kan udah dibilang, apa sih yang enggak Deo tau," ucap Deo lagi-lagi seolah tau apa yang dibicarakan Difa.
'Enggak ini pasti kebetulan aja, enggak mungkin kak Deo bisa baca pikiran aku. Kak Deo kan orangnya emang gitu suka bercanda,' ucapnya lagi dalam hati.
"Enggak sayang... ini beneran," ucap Deo lagi seolah tau isi pikiran Difa.
"Ih kakak," teriak Difa.
Hahaha, Deo tertawa puas.
"Kak, entar sore kakak ada kerjaan enggak?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Enggak ada kayaknya, yaang," jawab Deo.
"Jalan-jalan yuk kak," ajaknya.
"Yuk, entar aku jemput ya," ucap Deo.
"Iya kak, agak sorean aja ya kak," ucap Difa.
"Iya tuan putri siap."
Sore hari jam 3 sore.
"Non, di bawah ada teman Non," ucap Art kepada Difa.
"Lelaki Bik," ucap Difa.
"Iya Non," angguk Art.
Difa mengangguk.
"Lho kak Kevin," ucap Difa heran.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Difa.
"Nganterin kamu jalan," jawabnya.
"Nganterin aku?" ucap Difa menunjuk dirinya sendiri.
Kevin mengangguk.
Difa mengambil hp-nya di dalam tas kecilnya itu, dihubunginya seseorang.
"Halo kak," ucapnya.
"Halo, Kevin udah nyampe," ucap orang dari seberang telpon itu.
"Kak maksudnya apa? kok kak Kevin yang dateng bukannya kakak," ucap Difa.
"Maaf ya yaang, Kevin sengaja aku suruh buat nganter kamu jalan. Soalnya aku enggak bisa nganter kamu, Mama mendadak sakit aku khawatir nanti Mama kenapa-kenapa kalau ditinggal sendiri di rumah," jelas Deo.
"Kan bisa nanti kakak jalannya, kita bisa lain hari aja. Enggak perlu kakak suruh kak Kevin segala buat gantiin kakak," ucap Difa.
"Aku takut kamu kecewa yaang, makanya aku suruh Kevin buat gantiin aku," ucap Deo.
Hufhh, Difa menghela nafasnya berat.
"Kamu tenang aja, kamu aman kok sama Kevin. Dia sepupu aku, dia udah kayak adik aku sendiri jadi dia pasti bakal jagain kamu. Sama seperti aku jagain kamu," ucap Deo lembut.
"Bukan itu kak," ucap Difa lirih.
"Udah aku tau maksud kamu, enggak apa-apa kok. Kamu enggak usah ngerasa enggak enak sama aku, aku percaya kok sama kalian berdua."
"Hufhh, iya kak."
Telpon terputus.
"Jalannya jadi?" tanya Kevin setelah melihat Difa menyimpan hp-nya kembali ke dalam tasnya.
Difa mengangguk.
__ADS_1
Sekarang Kevin dan Difa sudah berada di mall.
"Mau kemana?" tanya Kevin.
"Belanjaan aja kak," jawab Difa dan diangguki oleh Kevin.
Satu jam lebih Kevin menemani Difa keliling belanja-belanja.
Di meja kasir.
"Lima ratus ribu mbak," ucap kasir itu sambil menyodorkan beberapa bungkusan paper bag.
Difa mengambil paper bag itu.
"Bentar ya mbak," ucapnya ingin mengambil uang di dalam dompetnya yang ditaruhnya di dalam tasnya.
"Biar gue yang bayar," ucap Kevin.
"Eh enggak usah kak, biar aku bayar sendiri aja," tolak Difa halus.
"Enggak biar gue aja," ucap Kevin.
"Tapi kak aku enggak enak lho sama kakak, ini lumayan banyak lho belanjaannya," ucap Difa merasa tidak enak hati.
"Enggak apa-apa biasa aja," ucap Kevin.
"Nih mbak," ucap Kevin menyodorkan 5 lembar uang seratus ribuan kepada penjaga kasir.
"Terima kasih mas, mbak," ucap penjaga kasir itu ramah.
Kevin dan Difa mengangguk.
Kevin dan Difa sekarang sedang makan di salah satu restaurant di dekat mall itu.
"Eh elo siapa?" tanya orang berbadan tegap itu.
"Apa urusannya sama elo," jawab lawan bicaranya.
"Elo ngapain ngeliatin mereka terus?" ucap orang berbadan tegap itu menunjuk ke arah 2 orang yang sedang makan di dalam restaurant itu.
"Terserah gue, jangan ikut campur lo," ucap lawan bicaranya itu.
"Elo mau macem-macem ya," ucap lelaki tubuh tegap itu belum selesai ia bicara pukulan dan serangan diterimanya.
"Bugh...bugh..." pukulan melayang di perutnya.
Tidak diam saja, dibalasnya pukulan-pukulan orang itu.
"Bugh...bugh..."
Saling balas-membalas pukulan, babak belur keduanya. Sampai dipisahkan oleh beberapa satpam di restaurant itu.
Keduanya dipisahkan.
Kevin dan Difa kini telah pulang.
----
"Dia memantau?"
"Iya Den."
"Apa yang dilakukannya selain memantau, apa dia membuat rencana jahat lainnya?"
"Tidak tau Den, hanya itu saja yang saya tau."
"Hem baiklah, saran saya sebaiknya kamu harus lebih berhati-hati lagi, karena bisa jadi dia akan kembali menyerangmu."
"Iya Den."
'Ternyata dia orang suruhan .... , bos harus tau ini,' ucap seseorang yang bersembunyi dibalik pohon itu.
------
"Apa?"
"Iya bos."
"Keterlaluan, berarti dia selama ini sudah berkhianat."
"Iya bos."
"Lo enggak salah liat orang kan?"
__ADS_1
"Enggak bos, bener ini mah enggak mungkin saya salah liat, orangnya benar-benar mirip dengan ...."
"Berarti selama ini, elo mau main-main sama gue ..... , oke gue terima. Elo akan nyesel karena elo sudah berkhianat," ucap orang itu dengan senyum sinisnya.