
Yang ditakutinya belakangan ini, terjadi juga.
Berusaha ia untuk menghindar, tapi ternyata.. keberuntungan tak berpihak kepadanya.
"Maaf, Ran.. gue nggak bisa," ucap Deo menundukkan kepalanya.
Matanya kini telah berbinar-binar."Kenapa Deo, apa lo nggak punya perasaan yang sama juga kayak gue?"
Deo menggeleng."Maaf, Ran."
"Sedikit pun, Deo?" lirihnya.
"Maaf," tatapannya semakin menunduk.
Hancur perasaannya, seorang lelaki yang telah berhasil membuatnya jatuh hati pada pandangan pertamanya.
Lelaki yang sangat perhatian, baik itu. Ia yang mengira bahwa lelaki itu juga memiliki perasaan yang sama kepadanya, perhatian yang diberikan lelaki itu selama ini diartikannya dengan rasa sukanya kepadanya.
"Lo baik, perhatian sama gue selama ini apa arti semua itu, Deo?" dengan lirihnya.
Kepala yang tadi tertunduk, terangkat."Apa gue salah, melakukan semua itu?"
Ranti menggeleng."Dengan sikap lo seperti itu, gue nggak yakin.. kalau lo nggak punya perasaan apa-apa."
Deo tersenyum tipis."Lo bener Ran, bohong kalau gue nggak punya perasaan apa-apa ke elo, gue..." terputus.
"Jadi?" potongnya.
"Gue sayang sama lo Ranti, gue sayang lo.. sebagai sahabat gue."
Jleb, dunianya seakan berhenti berputar.
Tangisnya tumpah...
"Maafin gue Ran," ingin meraih tangan Ranti, tapi tertepis.
"Munafik lo," menarik kerah baju Deo.
"Bang, lepasin," ucap Deo, sambil berusaha melepaskan cengkraman itu.
__ADS_1
"Berani-beraninya lo, buat Ranti nangis," emosinya.
"Alex, berhenti.. udah stop, lepasin Deo," teriak Ranti.
"Dia udah buat lo nangis, dan lo masih belain dia," menunjuk Deo.
"Dia nggak pantes dibelain," sambungnya lagi.
Tangis Ranti samakin menjadi."Udah Lex, lepasin Deo.. Deo itu adik lo."
Alex tersenyum sinis."Adek laknat."
"Bang, ..." belum selesai.
Bugh.. satu bogeman mendarat dipipinya, Deo tersungkur.
"Deo."
"Lex, lo apa-apaan sih. Dia ini adek lo," marah Ranti.
"Lo harusnya jangan emosi kayak gini, lo hampir aja nyelakain orang tau nggak," sentak Ranti, sambil membantu Deo.
"Tuh nggak pa'pa kan, jangan lebay deh. Lagian dia juga anak laki, bogeman gue tadi nggak seberapa kali buat dia," sinis Alex.
Ranti menggeleng."Sakit, nggak? kita ke dokter aja ya," ucap Ranti cemas.
Deo menggeleng."Nggak usah Ran, nggak pa'pa ini cuma memar sedikit kok."
"Tapi ini lebamnya parah banget lho, Deo."
"Udah nggak pa'pa, kok."
Alex yang dari tadi diam melihat pemandangan di depannya itu, terbakar api cemburu juga.
"Udah Ran, ayo pulang," ucapnya meraih tangan Ranti.
"Nggak Lex, gue mau sama Deo," tolaknya, menepis tangan Alex.
Alex tak menyerah."Ran, ayo."
__ADS_1
"Nggak Lex, gue nggak mau."
"Ayo, Rant lo harus pulang bareng gue."
"Nggak, Lex."
"RANT," Bentaknya, Ranti terkejut.
"Biasa aja dong ngomongnya, dia ini cewek," santai Deo.
"Lo jangan ikut campur ya," ucap Alex menunjuk Deo.
"Gue nggak ikut campur, gue cuma nggak terima aja kalau Ranti lo bentak-bentak."
"He.. peduli apa lo sama dia," sinis Alex.
"Lo punya Ibu kan, Ibu lo cewek. Coba lo bayangin kalau Ibu lo digituin."
"He.. maksud lo apa hah.. bawak-bawak orang tua," Alex yang tak terima, semakin naik pitam.
"Gue nggak bawak-bawak orang tua, Bang. Gue cuma bilang seandainya Ibu lo diperlakukan seperti itu, apa lo terima."
"Alah nggak usah banyak ngomong lo."
Bugh... bogeman sekali lagi dilayangkan Alex.
Bugh.. entah sadar atau tidak Deo membalas pukulan Alex."Apa yang gue lakuin.." batinnya.
"Ma-af, Bang."
Tak menghiraukan Deo, Alex kembali melayangkan pukulannya.
Bugh... bugh... Lex, stop, teriak Ranti namun tak dihiraukan Alex, ia kini semakin membabi buta menghajar Deo.
Deo yang tidak membalas dan melawan hajaran Alex, dengan mudahnya terkapar. Badannya kini telah tumbang ia terjatuh.
"Bangun lo, dasar lemah.. sini lawan gue lagi," Alex menarik paksa Deo, Deo hanya pasrah tubuhnya sudah tak sanggup lagi jangan kan untuk melawan, untuk bertahan agar ia tak terjatuh dari berdirinya saja dia sudah tak sanggup.
Bugh... lagi-lagi.
__ADS_1