
Gia duduk di bangkunya mempelajari materi yang akan dibahas sehabis istirahat oleh Bu Arum. Tiba - tiba Mocca dan gengnya datang masuk ke kelas Gia tanpa permisi. Mocca langsung menuju dihadapan Gia.
Prakk...
Mocca menggertak meja Gia yang membuat Gia terkejut. Satu kelas langsung menatap ke arah Gia dan Mocca. Tampak raut wajah marah terisyaratkan oleh Mocca. Gia menundukkan kepalanya karena ia tak berani sedikitpun melawan Mocca.
"Cupu yang kamseupay..! "
Ujar Mocca dengan nada tinggi. Jari - jemari tangan Mocca mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk membawa Gia menuju ke pojok kelas. Gia dibawa mereka dengan paksa, kacamata Gia jatuh di lantai samping bangku Gia.
"L.. e.. p.. a.. s.. in"
Rintih Gia. Gia mencoba untuk melepaskan cengkraman dari teman - teman Mocca yang sangat keras tapi tak ada hasil. Tubuh Gia di letakkan tepat di depan dinding. Tangan Gia masih dikunci oleh kedua teman - teman Mocca.
"Cupu cupu kasihan sekali hidup lo..! "
Ketus Mocca tertawa miring. Gia hanya bisa terdiam ingin sekali ia melawan tapi semua itu tak bisa ia lakukan, apalagi teman - teman sekelas yang hanya membiarkannya terpojok begitu saja. Tangan Mocca mencengram kedua pipi Gia yang membuat mulutnya berkerut.
"Lo itu bodoh, cupu, kampungan..!"
Ujar Mocca kembali. Kedua teman - teman Mocca mencopot dasi yang di kenakan oleh Gia dan membuka satu demi satu kancing seragam sekolah yang telah Gia kaitkan.
"L.. e.. pasin aku.. "
Rintih Gia di selangi oleh tangisannya. Disisi lain teman Mocca ada yang menutup tubuh Gia dengan membentuk bulatan di pojok ruang kelas dan ada juga yang merekam kejadian langka ini.
Mocca tersenyum picik melihat ini. Gia benar - benar di bully oleh Mocca dan teman - temannya. Gia menangis pasrah dengan kejadian ini meskipun ia bersusah payah untuk melepaskan diri.
Foa tidak sengaja lewat di depan kelas Gia kerena ingin ke kamar mandi tapi di kejutkan oleh pojok ruang kelas Gia yang ramai terlihat dari arah pintu yang terbuka. Foa melihat Mocca dan segerombolannya sedang berada di pojok ruang kelas dan berkerumun. Foa langsung berhenti dan melihat bangku Gia yang kosong dan meja Gia yang terlihat acak - acakan. Tak butuh waktu lama Foa langsung menafsirkan bahwa Mocca sedang melakukan sesuatu kepada Gia.
Foa langsung bergegas pergi menemui guru tapi langkahnya terhenti karena ia menabrak seseorang.
"Maaf - maaf "
Ucap Foa berusaha meminta maaf atas kecerobohannya.
"Kalo jalan pake mata, jangan pake lutut! "
Sahut seseorang itu. Foa langsung mengangkat pandangannya. Yaa, itu adalah Nata mantan Gia dan Gia masih menyukainya (sekilas pikiran itu muncul di otak Foa). Foa berfikir kembali kalau ia memanggil guru pasti dirinya juga terancam oleh Mocca.
"Tunggu.. "
__ADS_1
Teriak Mocca memegang tangan Nata yang sudah satu langkah pergi mendahuluinya.
"Udah gua maafin..! "
Sahut Nata menghentikan langkahnya dan berfikir bahwa Foa akan meminta maaf kepadanya lagi.
"Bukan itu.."
Seru Foa yang gugup. Nata menaikkan alisnya ternyata tebakannya salah, lantas apa yang diharapkan oleh manusia berkacamata ini.
"Hah? "
"Nata.. Tolongin gua"
Kata Foa tanpa mengambil nafas. Ia cukup berani dalam hal ini karena waktu yang ia miliki tidak cukup lama.
"Sorry, ga ada waktu"
Ujar Nata. Nata pergi begitu saja meninggalkan Foa. Tapi Foa masih terus berusaha mengejar Nata. Sampai ia berhenti di hadapan Nata kembali.
"Nata cuman lo yang bisa hentikan kelakuannya Mocca, please bantuin gua, bantuin temen gua! "
Seru Foa memohon kepada Nata. Nata mengacak - acak rambutnya sendiri. Jujur ia sudah muak jika harus berhubungan dengan Mocca lagi, tapi disisi lain Nata tidak tega dengan Foa yang sudah mengejarnya cukup jauh.
"Panggil aja guru"
Sahut Nata membuang muka.
"Lo kan tau siapa mocca, gua ngga cukup berani untuk bilang ke guru.. Sumpah kalo lo ngga mau bantuin gua lo jahat banget..! "
Jawab Foa. Sebelum mendengarkan persetujuan dari Nata, Foa langsung menggeret tangan Nata menuju ke kelas Gia sebelum waktunya terlambat.
Di ambang pintu Nata menyipitkan matanya melihat ke arah pojok ruang kelas. Teman sekelas Gia yang sudah membiarkan kejadian inipun langsung terfokuskan ke arah Nata yang datang tiba - tiba.
"BERHENTI..! "
Teriak Nata di ambang pintu. Foa yang berada di belakang Nata tak berani sedikitpun masuk ke kelas Gia. Foa hanya bisa menghantar Nata sampai di depan kelas Gia.
Nata melangkahkan kakinya menuju ke pojok kelas. Mocca terdiam seketika mendengarkan kata - kata Nata yang tiba - tiba datang. Dengan perasaan yang marah Nata langsung menarik tangan Mocca keluar dari kerumunan.
"Lo gila? "
__ADS_1
Teriak Nata dengan nada yang tinggi. Teman - teman Mocca masih melanjutkan misi yang di tugaskan. Nata membiarkan Mocca terdiam dan menuju ke arah Gia berada. Nata melepas paksa cengkaraman kedua teman Mocca dan membuang ponsel yang di gunakan untuk merekam kejadian ini seketika.
Gia masih menunduk, menutup matanya dan menangis. Melihat tubuh Gia yang kancing perekat seragamnya di buka semua oleh teman - teman Mocca Nata langsung mencopot jaket almamaternya dan mengenakan di tubuh Gia.
"Kalian semua gila? *****? Bodoh? "
Seru Nata. Satu kelas terdiam seketika begitupun juga dengan Mocca dan satu gengnya.
"Beb, ngga gitu gua bisa jelasin ke lo"
Ujar Mocca mencoba mengelak. Tapi percuma saja Nata sudah melihat semuanya.
"Mana suara tawa lo yang tadi terdengar sampai luar cuman gara - gara lo perlakuin si cupu kayak gini? Ternyata lo lebih cupu dari si cupu..! "
Sahut Nata. Nata melihat seisi kelas yang terpenuhi orang tapi tak ada satupun yang membela Gia.
"Ternyata teman sekelas juga ngga ada gunanya..! Percuma kalian masuk ke kelas nomor satu tapi kelakuan kalian ngga mencerminkan kelas nomor satu..! Lo, lo, lo semua pada tega lihat teman sekelas lo di perlakuin muna sama seorang nenek peyot yang lebih cupu..!"
Teriak Nata membawa Gia di sampingnya. Tubuh Gia sekarang tertutup karena jaket Nata jadi Gia tak perlu takut, tapi Gia masih saja menunduk dan menangis.
"Beb, lo kok belain si cupu sih, lo udah ngga sayang lagi sama gua? "
"Gua bela siapa yang benar, lo itu udah salah tapi ngga mau ngaku kalo lo salah.. Lo ngaca tanya sama diri lo kenapa gua jadi benci dan gedek sama lo..! "
Nata langsung pergi meninggalkan Mocca dan membawa Gia keluar dari kelas. Rambut Gia yang acak - acakan dan kacamata Gia yang jatuh membuat aura kecantikan Gia terpancar.
"Apa?"
Ketus Nata saat semua siswa melihat ke arahnya dan juga Gia.
"Gua bilang jangan lihatin cupu..! "
Teriak Nata langsung membuat semua orang memalingkan tatapannya. Foa langsung menghampiri Nata dan juga Gia.
"Giaa.. Lo ngga papa kan? "
Tanya Foa. Nata membawa Gia menuju ke taman belakang sekolah yang sepi. Sesampainya Nata langsung menyuruh Gia untuk duduk dan menenangkan dirinya. Foa memeluk hangat tubuh Gia.
"Lo minum dulu ya"
Ujar Foa menyodorkan sebotol air putih kepada Gia agar Gia bisa sedikit tenang.
__ADS_1
Meskipun semua orang membenciku, setidaknya ada satu orang yang mau menjadi temanku.