CUPU

CUPU
DIFA BELUM PULANG


__ADS_3

Lanjut...


Hahaha... tawanya.


"Jadi apa mau mu?" ucap Difa gemetar.


"Mau gue?" Sinisnya.


"NYAWA HARUS DIBAYAR DENGAN NYAWA," ucapnya lantang.


Keringat dingin, Difa berusaha menelan salivanya.


"Kalau gue nggak bisa balaskan dendam ini ke Deo pembunuh itu, setidaknya gue bisa balas dendam ke orang yang dicintainya."


"Dan orangnya adalah... elo," ucapnya dan menjambak rambut Difa.


"Argh," ringisnya ketika Alex menjambak rambutnya kasar.


Hahaha, Alex tertawa puas.


 


Dilain tempat...


Tok..tok...


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Pintu terbuka.


"Eh Deo, ada apa tumben ke sini," ucap Mama Difa ramah.


Deo sekarang tengah berada di rumah kediaman keluarga Dirgantara.


Sebelum pulang kuliah Deo menyempatkan dirinya dulu untuk mampir ke rumah Difa.


Deo tersenyum ramah."Biasa Tan mau ketemu Difa, Difa nya ada kan Tan?"


"Ya Difa nya belum pulang Nak."


Belum pulang? batinnya.


Dijawabnya."Oh gitu ya Tan."


"Kamu mau tunggu Difa pulang?"


"Iya Tan," angguk Deo.


"Yaudah masuk dulu, tunggunya di dalam aja."


"Emh nggak usah deh Tan, Deo tunggu Difa nya di luar aja."


"Lho kenapa? di luar panas lho Nak."

__ADS_1


"Nggak apa-apa Tan, Enak aja di luar anginnya banyak hehe."


Mama Difa tersenyum."Yaudah terserah kamu deh, tante masuk dulu, oh iya kalau kamu mau masuk.. masuk aja ya Nak pintunya nggak tante kunci. Jangan malu-malu anggap aja ini rumah kayak rumah kamu sendiri."


"Hehe iya Tan."


Mama Difa telah masuk ke dalam rumah, kini Deo sendirian di luar.


15 menit sudah Deo mondar-mandir nggak jelas di teras rumah Difa.


'Jam segini belum pulang, sekolah biasa udah pulang jam segini,' gumamnya.


Diraihnya benda tipis di saku hoodie nya.


Tut..tut..tut...


'Nggak diangkat,' desisnya.


Panggilan berulang kali disambungkan, tapi tidak ada sambutan juga dari orang di seberang sana.


Panggilan berganti ke nomor sepupunya.


"Halo," ucap orang dari seberang telepon.


"Vin."


"Iya bang kenapa?"


"lo di mana sekarang?"


"Sekolah belum pulang?"


"Udah bang sekolah dari tadi pulangnya, gue sekarang lagi latihan basket sama temen-temen gue."


"Serius lo sekolah dah selesai?"


"Iya bang serius."


Difa ke mana ya? cukup lama ia terdiam.


"Bang halo.. bang Deo."


"Eh iya Vin.


"Ya abang bengong ya, ada apa sih bang sebenernya?"


"Difa."


"Ada apa bang Difa kenapa lagi?"


"Be..lum pulang."


"Hah serius bang?" kaget Kevin.


"Iya Vin,"

__ADS_1


Kevin langsung teringat satu hal...


Enggak salah lagi ini, tangannya mengepal.


"Vin."


"Bang gue ada urusan,"


"Oh iya entar kalau lo liat Difa kabarin gue ya."


"Iya bang, iya."


Sambungan telepon terputus.


Prov Kevin.


"Bro gue cabut duluan ya, ada urusan," ucap Kevin kepada temannya.


Kevin berjalan meninggalkan lapangan basket dengan tergesa-gesa.


Berjalan menuju kelas 11 Mipa 1.


Di depan kelas 11 Mipa 1 tanpa berkata lagi Kevin langsung menerobos masuk ke dalam kelas.


Matanya menyusuri disetiap rinci ruangan memastikan bahwa di sana memang benar tidak ada orang yang dicarinya itu.


Ia berlari lagi keluar kelas menuju parkiran.


Cepat-cepat ia mengambil motornya, dilajukannya motornya.


Di rumah yang mewah itu diberhentikannya motornya.


Tok..Tok...


Pintu terbuka.


"Eh Den Kevin, silakan masuk Den," ucap salah satu pekerja rumah itu setelah membuka pintu dan mengetahui siapa orang yang mengetuk pintu.


"Bang Alex ada Bik?"


"Den Alex nggak ada Den, tadi pagi keluar."


"Bang Alex nggak ngampus Bik?"


"Nggak Den."


"Oh yaudah Bik, Kevin pulang."


"Nggak masuk dulu Den?"


"Nggak Bik besok-besok aja, Kevin buru-buru." ucap Kevin sambil berlari kecil menuju motornya dan melajukan lagi motornya.


Prov Difa.


"Argh..." desis Difa saat Alex mencengkram kuat pipinya.

__ADS_1


__ADS_2