CUPU

CUPU
AKHIR FLASBACK


__ADS_3

"Hei.. BERHENTI," teriakkan satpam sekolah SMP C.N (Cahaya Negeri), yang melihat Alex memukuli Deo.


"Pak, Pak... sini," panggil Ranti, seraya mengangkat-angkat tangannya. Yang dapat anggukkan cepat oleh satpam.


Satpam menarik Alex, menjauhkannya dari Deo. Dan Deo sendiri kini telah dilarikan ke rumah sakit terdekat.


**


1 Minggu sudah berlalu, yang berarti sudah 1 Minggu juga, sejak kejadian itu. Yang berlalu biarlah berlalu, kejadian kemarin mungkin itu terjadi hanya karena emosi sejenak saja, tak perlu diambil hati, lagi pun mereka Adik-Kakak bukan.


Tapi sepertinya ego keduanya tampak.. sangatlah tinggi, faktanya sampai saat ini Alex dan Deo masih belum saja akur.


Tak saling menyapa, saling diam, seolah mereka tak saling mengenal satu sama lain. Itulah mereka sekarang.


**


"Anak-anak memang suka begitu, kalau lagi marahan pasti saling diem-dieman, maklum anak remaja," begitulah tanggapan dari keluarga mereka, ortu Alex maupun ortu Deo.


Orang tua tak mau ambil pusing.


***


"Mau minum?" tanya Deo, yang diangguki oleh Ranti.


"Oke, tunggu bentar," pergi meninggalkan Ranti.


"Ran," merasa namanya dipanggil, ia menoleh. "Alex," kagetnya, ingin pergi.

__ADS_1


"Tunggu, Ran," tahan Alex.


"Apaan sih," ketusnya seraya menepis tangan Alex yang berusaha menahan tangannya.


"Lo, kenapa ngehindar dari gue Ran?" tanya Alex.


"Nggak, ng-gak gue nggak ngehindar dari lo kok," ucap Ranti gugup.


"Disaat gue mau nyamperin lo, kenapa lo mau pergi, kalau bukan untuk menghindar?"


"Yaaa.. gue lagi buru-buru aja, ada urusan," elak Ranti.


Alex menyungging senyum getir di bibirnya."Gue kenal lo, Rant."


"Gue jauh lebih kenal diri lo, jauh dibanding Deo mengenal lo."


Alex menatap lekat mata wanita di depannya itu, sebelum dia bicara."Kok, lo perhatian banget sama Deo?"


"Lah, lo kok malah nanya balik, gue nanya lo Alex," raut wajahnya sedikit berubah.


"Gue juga nanya lo, Ran?"


"Tapi gue nanya lo duluan Lex, dan lo belum jawab, kenapa lo bawak-bawak Deo?"


"Gue juga nanya sama lo Rant, kenapa lo perhatian sama Deo. Dan sejak kapan? seorang Ranti bisa sesensitif ini dengan masalah cowok."


"Sebucin, itu kah lo sekarang?" sambung Alex.

__ADS_1


Begitu tatapan sendu semulanya berubah menjadi tatapan dingin."Bukan urusan lo."


"Bukan urusan gue? itu jelas urusan gue juga Ran, gue itu sahabat lo."


"Gue tau lo sahabat gue, lo perhatian sama gue, lo juga sayang sama gue, dan lo selalu berusaha buat bantu gue kalau gue ada masalah. Tapi enggak juga semua masalah gue yang ada ini, lo juga harus ikut campur, Lex. Adakalanya masalah gue ini bisa gue selesaikan sendiri, tanpa bantuan orang lain, lagi pun ini masalah hati, lo pasti paham nggak mungkin juga gue umbar-umbar ke orang lain, dan gue rasa ini PRIVASI."


"Privasi? hm.. its oke, lo butuh privasi bukan? oke mulai sekarang gue nggak bakal ganggu lo lagi, gue nggak bakal ikut campur lagi urusan lo, lo bebas sekarang, mulai detik ini juga gue bilang lo BEBAS Ran, lo bebas dari si Alex sahabat pengganggu lo ini."


Ranti menatap Alex penuh arti, sebelum ia bicara."Maksud lo apa?" suaranya kian sayu.


"Lo mau pergi dari gue?" ucapnya kini semakin sayu.


Alex hanya diam, berdiri tegap tubuhnya.


"Tega lo ya," ucap Ranti sebelum pergi, air matanya kini sudah mengalir deras membasahi pipinya.


***


Deo yang baru selesai membeli minum, hendak menyebrang tapi ada mobil truk dan


Aaaaaaa... Deo berteriak.


Brukkkk...


"Rantiiiii," teriak Deo, tak menghiraukan luka-luka lecet ditubuhnya akibat dorongan Ranti yang cukup keras, ia langsung berlari menghampiri Ranti meski langkahnya sedikit tertatih.


Ranti sudah tergeletak tak berdaya, dengan badan penuh darah dan tubuh yang lemah sekali.

__ADS_1


__ADS_2