
Gia terdiam menatap sebuah tulisan XI IPA 1 sudah satu tahun Gia menjalani kehidupan di sekolahnya. Memperoleh nilai yang maksimal merupakan salah satu tujuan dari Gia meskipun Gia harus menjalani kehidupan seperti apa yang tidak ia harapkan. Gia masuk ke dalam kelasnya melihat ke arah bangku nomor dua paling belakang, banyak sekali sampah tertumpuk di atas meja. Itu bangku Gia duduk tapi itu bukan sampahnya. Kebiasaan teman - teman Gia yang melampiaskan kekesalan mereka karena mendapatkan nilai lebih rendah dari Gia dengan membully Gia habis - habisan selama di sekolah.
Gia berjalan menuju bangkunya. Ia meletakkan tasnya di atas kursinya dan bergegas mengambil sapu untuk membersihkan sampah - sampah yang hampir menutupi mejanya.
"Kasihan banget sih jadi CUPU.. Pagi - pagi udah nyapu sama bersihin sampah sampah"
"Kalau gua jadi si cupu nih, gua lebih baik jadi pemulung aja deh"
"Ihhh jijik banget, kalau semisal gua nih ya.. Gua udah keluar dari sekolah neraka ini"
"Ehh gua sih ngga mau jadi si cupu.. "
Ujar teman - teman Gia sekelas. Meskipun hati Gia sakit tapi Gia tak bisa mengelak apalagi memberontak.
---0---
Pagi ini adalah pelajaran mapel Matematika. Karena kemarin kelas Gia sudah menyelesaikan ulangan hari ini Pak Bowo selaku guru matematika akan menyerahkan nilai hasil ulangan kepada masing masing siswa.
"Baik anak - anak, bapak rasa kalian sudah tau siapa yang memperoleh nilai tertinggi di kelas ini"
"Pasti si Cupu tuh.. "
"Cupu lagi cupu lagi, kapan dia dapat nilai lebih rendah daripada kita"
Seisi kelas langsung menyudutkan Gia seketika. Pak Bowo bahkan sudah hafal dengan sikap Gia yang selalu mendapatkan nilai lebih tinggi dibanding teman - temannya.
"Selamat Gia kamu lagi - lagi mendapatkan poin sempurna"
Ujar Pak Bowo. Gia hanya tersenyum dan bersyukur bisa mendapatkan kembali nilai sempurna meskipun kebahagiaannya tak bisa diceritakan dengan teman - temannya.
---0---
Cring... Cring...
Bel istirahat berbunyi Gia memasukkan buku - bukunya ke dalam tas termasuk juga hasil ulangan matematikanya. Gia berjalan membawa kotak makanannha menuju kantin sendirian. Banyak sekali raut wajah siswa siswi lainnya melihat Gia dengan tatapan judes. Sebenarnya Gia juga tidak tahu apakah ia bisa menyelesaikan 3 tahun sekolahnya secara penuh.
Gia memesan teh hangat dari salah satu warung yang ada di kantin. Sudah menjadi kebiasaann Gia untuk duduk sendiri menyantap makanannya.
__ADS_1
"Beb kantinnya udah penuh nih kita mau duduk dimana? "
Kata moca kepada Nata. Nata paling males kalau harus berurusan dengan Moca. Satu hari saja Nata ingin menghindar dari keberadaan Nata tapi setiap kali Nata mencoba untuk menghindar Moca selalu saja menemukan keberadaan Nata.
Nata melihat Gia yang sedang duduk sendiri di meja paling belakang. Nata langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Gia walaupun Moca masih mengikutinya.
"Beb tunggu"
Teriak Moca yang ditinggal oleh Nata. Nata menghampiri Gia. Tanpa permisi Nata langsung duduk di hadapan Gia. Gia terpelongo seketika melihat Nata yang ada dihadapannya.
"Lihatnya harus segitunya? "
Tanya Nata menatap Gia serius. Moca terpaksa duduk di samping Nata. Mata Moca terus mengarah ke Gia.
"Beb ayo pergi aja"
"Kalo lo ngga mau duduk disini, ya udah sana pergi"
Ketus Nata. Karena Moca ilfil sama keberadaan Gia, Moca memilih untuk menjauh dari hadapan Gia dan juga Nata. Kali ini hanya ada Nata dan Gia mereka duduk berhadapan namun tak saling pandang.
Nata memulai pembicaraan. Namun Gia memilih untuk tetap terdiam.
"Lo dengar gua ngomong ngga sih? "
Nata menatap Gia serius membiarkan makannya sedikit mendingin. Tak berselang lama Nata langsung mengacak - acak puncak kepala Gia.
"Auu.. "
Decak Gia. Nata tertawa miring dan melihat bagaimana tingkah Gia dan Memakan sesuap bakso yang ada di mangkuknya.
"Kalo gua jadi cupu sih gua udah pergi dari kantin ini"
"Bener tuh, emang si cupu ngga tau diri banget"
Seru beberapa siswi yang duduk di meja sebelah Gia. Karena Gia rasa makanannya sudah habis Gia memilih untuk meninggalkan Nata. Gia pergi tanpa sepatah katapun yang terucap.
Dalam perjalanan menuju ke kelas langkah Gia dihadang oleh Moca dan gengnya. Gia terjatuh karena tubuhnya menatap tubuh salah satu anggota dari gengnya moca.
__ADS_1
"Lo itu cupu..! Jangan sok sokan dekat sama Nata, Nata itu milik gua..! "
Kata Moca. Moca mengisyaratkan kepada para gengnya untuk merekam kejadian ini. Karena tubuh Gia yang masih berada dilantai dengan senang hati Moca membuang cup es berisi jus alpukat yang ada di tanganya ke atas kepala Gia. Tak hanya itu Moca menendang tubuh Gia dengan cukup keras. Banyak sekali siswa dan siswi yang mengetahui hal ini tapi mereka hanya bisa terdiam sebab mereka tak ingin berurusan dengan Moca.
"Awas ya kalo nanti gua lihat lo sama Nata lagi..! "
Seru Moca meninggalkan Gia dengan keadaan seperti ini. Gia terdiam takut dengan Moca. Gia hanya bisa menangis dalam kejadian ini.
"Gia, lo ngga papa kan? "
Ujar Foa anak dari kelas XI - IPS 2. Gia tak cukup mengenal Sekar, tapi entah kenapa Foa bisa mengetahui namanya padahal selama ini tak ada satupun siswa siswi disini yang menyebut namanya.
"Sini gua bantu"
Foa mengulurkan tangannya dan membantu Gia untuk berdiri. Sekar tahu bagaimana perasaan Gia saat ini. Foa langsung membawa Gia menuju kamar mandi agar Gia bisa membersihkan rambutnya.
"Sorry gua tadi ngga bisa bantu lo"
Ucap kembali Foa menunggu Gia yang sedang membersihkan tubuhnya. Gia langsung terejut mendengarkan apa kata Foa. Apakah iya ada yang mau membantu Gia? Bukankah selama ini Gia hanya menjadi tokoh cupu di sekolah ini yang sama sekali tidak memiliki teman.
"Makasih ya"
Ujar Gia kepada Foa dengan serius. Gia masih tidak percaya ada yang mau membantunya meskipun hanya membantu setelah kejadian itu selesai.
"Hummm.. Boleh gua tanya sesuatu sama lo? "
"Boleh, kenapa? "
"Mmm.. Kok lo bisa dekat sama Nata sih? "
Foa yang menunggu Gia di luar kamar mandi menatap kaca dan berkara serius kepada Gia.
"A.. Ku ngga dekat kok sama Nata"
Sahut Gia terpatah - patah. Setelah merasa badan dan seragamnya sudah bersih Gia keluar dari kamar mandi. Gia menatap wajah Moca sosok perempuan yang saat ini mau membantunya.
Lebih baik berusaha memaafkan kesalahan orang meskipun itu adalah sebuah hal bodoh ~Gia Sabila Putri
__ADS_1