
Dalam perjalanan Gia masih bersemangat untuk mengontel sepedanya. Tapi laju sepedanya terhenti sebab Gia melihat seorang laki - laki yang memiliki seragam sama seperti Gia sedang berdiri di belakang mobilnya yang berhenti. Wajah itu tak asing bagi Gia. Gia mulai mengingat kembali siapakah laki - laki itu. Yaa.. Itu adalah Nata Anggara anak dari salah satu investor di SMA Cakra Dharma atau bisa disebut dengan sekolah Gia. Karena Gia melihat Nata sedang mencari bantuan akhirnya Gia memberanikan dirinya untuk memberhentikan sepedanya tepat di hadapan Nata.
"Ada yang bisa dibantu? "
Ujar Gia memulai pembicaraan meskipun harus mengumpulkan sejuta nyali keberaniannya.
"Eh cupu gua ngga butuh bantuan lo! "
Ketus Nata melihat Gia yang sedikit merasa jijik.
"Den Nata, tadi bapak udah telepon montir suruh kesini.. Tapi kayaknya kalau den Nata nunggu montir ngga keburu den"
Kata Supir Nata yang Menghampiri Nata.
"Oohh.. Ya sudah kalo gitu kamu bareng aku aja"
Kata Gia setelah mendengarkan ucapan supir Nata. Nata mengkerutkan dahinya menatap baik - baik bagaimana keadaan Gia dan juga sepedanya.
"Ide bagus itu neng.."
"Ogah banget! Lo itu malu - maluin tau ngga! Kalo gua bareng sama lo bisa hancur reputasi gua"
Sahut Nata. Gia membenarkan posisi kacamatanya sambil mendengarkan apa kata Nata.
"Oohh.. Ya sudah kalo ngga mau"
"Den Nata mending bareng aja, jam segini belum ada taxi ataupun kendaraan umum lewat sini"
"Ya udah tinggal bilang sama mami aja suruh bawain mobil kesini"
"Ngga keburu den"
"Saya duluan ya pak"
Ujar Gia mulai menggayuhkan sepedanya.
"Ahh ini semua gara - gara lo supir ngga pecus..! "
Decak Nata. Melihat Gia yang sudah mulai menjauh akhirnya Nata harus memutuskan cepat. Nata lari agar bisa mengejar keberadaan Gia yang sudah cukup jauh.
"Woi Cupu tungguin gua! "
Teriak Nata. Gia tersenyum picik, Gia memberhentikan laju sepedanya dan mulai menunggu Nata.
__ADS_1
"Kenapa mau bareng? "
Tanya Tasya menawarkan bantuan kepada Nata yang terlihat ngos - ngosan.
"Sini sepeda lo! "
Nata menarik sepeda Gia. Gia turun dan duduk di belakang karena Nata yang menggayuh sepedanya.
"Eh cupu, lo ngga malu apa naik sepeda ke sekolah? "
"Kenapa harus malu?"
"Lo kan tau sendiri yang sekolah disitu kalangan elit semua"
"Oohh.. Kan aku bukan kalangan elit seperti kamu dan mereka"
"Cupu, lo jangan panggil aku kamu.. Bilang aja lo gua! "
"Emm.. Aku ngga terbiasa"
Sahut Gia gugup. Sebenarnya Gia tak terlalu dekat dan mengenal Nata, sebab kelas Gia dan Nata berbeda. Untuk bareng sama Nata Gia harus menyiapkan mental yang kuat apalagi Nata adalah salah satu cowok famous di sekolah.
\-\-\-0\-\-\-
Nata dan Gia memasuki gerbang yang hampir tertutup bersama sepedanya. Pandangan siswa siswi lainnya mengarah ke Gia dan juga Nata. Banyak sorot mata merasa heran dan bertanya - tanya. Gia hanya bisa menundukkan kepalanya saat siswa siswi lainnya menatap aneh ke arahnya.
Seru Nata setelah memarkirkan sepedanya. Gia menghela nafas berat dan memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya.
"Kamu jalan duluan aja Nata"
Ucap Gia mempersilahkan Nata untuk jalan mendahuluinya. Wajar Gia melakukan hal itu karena Nata dan Gia adalah dua orang ya berbeda.
"Lo pasti takut di introgasi sama mereka kan?... Udah ayo bareng sama gua aja"
Nata tersenyum picik. Setelah Nata pikir lagi akhirnya Nata menarik tangan Gia untuk berjalan bersama.
"Hah.. Lepasin tangan aku Nata"
"Masa iya lo udah bantu gua tapi malah gua jalan duluan.. Udah deh cupu ini itu sebagai rasa terimakasih gua ke lo"
Sahut Nata. Gia yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nata tak bisa berkutik apa - apa. Gia terdiam menunduk melewati jalan menuju ke kelasnya.
"Woi cupu ngapai lo pegang tangannya si Nata? "
__ADS_1
"Ihh.. Si cupu ke gatelan banget"
"Lo itu cupu ngga pantes buat si Nata"
"Cantikan gua kenapa harus cupu yang ke gatelan"
"Astaga si cupu bikin ulah lagi tuh"
"Cupu cupu ngga sadar diri banget sih lo"
"Eh Cupu kalau mau ngimpi itu jangan ketinggian..! "
Seru mereka yang melihat kejadian ini dan menatap kesal kepada Gia.
"Kenapa kalian jadi banyak bacot sih?"
Teriak Nata. Nata menatap Gia yang masih terdiam menunduk mendengarkan celotehan - celotehan tak bermutu itu merasa iba. Seketika mereka terdiam mendengarkan teriakan Nata. Namun langkah Nata dan Gia terhenti seketika.
"Wow.. Wow.. Wow.. To the Wow.. CUPU..! Ngapain lo jalan bareng sama Nata? Lo ngga tau diri banget sih"
Ketus Moca melihat tangan Nata yang menggenggam tangan Gia. Moca adalah mantan pacar Nata. Tapi Moca masih belum menerima keadaan kalau Nata telah memutuskan hubungan mereka. Tak hanya itu Moca adalah ketua geng bby girl.
"Minggirin tubuh lo dari hadapan gua..! "
Bentak Nata dengan nada yang keras.
"Beb jangan bentak inces dong.. Itu tangannya bisa di lepasin ngga dari tangan si Cupu..? "
Ucap Moca sedikit terkejut. Kedua anak buah Moca yang mengipasi Moca terdiam seketika.
"Bukan urusan lo! "
Sahut Nata. Tak perlu pikir panjang membuat Moca pergi dari hadapan Nata. Nata hanya perlu mendorong sedikit bahu Moca untuk memberikan jalan kepadanya dan juga Gia.
Setelah jarak antara Nata dan Moca sudah cukup jauh. Gia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan berkata kepada Nata.
"Emm.. Lepasin tangan aku Nata, aku bisa kok ke kelas sendiri"
"Lo bisa ngga sih lawan mereka sedikit aja? "
Tanya Nata serius dan memberhentikan langkahnya. Gia menjawab apa kata Nata dengan menggelengkan kepalanya. Boro - boro melawan ucap sepatah kata kepada Moca aja Gia masih tidak berani.
"Ya setidaknya kalo lo ngga berani lawan lo bisa ngangkat kepala lo dan menatap mata Moca..! Lo ngga perlu menunduk terus, jalan itu lihatnya kedepan dan kebawah bukan hanya kebawah aja cupu..! "
__ADS_1
Mendengar ucapa Nata Gia tak bisa berkutik apa - apa. Gia tak mempunyai nyali sama sekali untuk melawan Moca. Setelah Gia tau kalau Nata telah melepaskan genggamannya, Gia memilih untuk pergi dari hadapan Nata. Gia lari menjauh dari Nata mungkin ini jalan yang dipilih Gia untuk mengurangi rasa bersalah kepada siswa siswi lainnya. Nata yang melihat Gia lari mendahuluinya hanya bisa terdiam.
Lancang sekali kamu yang tiba - tiba datang memaksaku menjadi apa maumu, tanpa mengerti sedikitpun bagaimana perasaanku. ~Gia Sabila Putri