
Riri terus menjaga Gia. Riri menatap Gia dengan tatapan yang penuh kehangatan.
"Teh.. Maafin Riri ya"
Kata Riri sesekali. Riri melepaskan gengggaman tangan Gia. Riri keluar dari kamar Gia menemui Bu Rumi yang sedang duduk menonton TV.
"Ibu.. "
Kata Riri melangkah menemui Bu Rumu dengan langkah kecilnya.
"Kenapa sayang? "
Bu Rumi mengalihkan pandangannya ke Riri yang duduk di sampingnya.
"Teteh kok belum bangun? "
Ujar Riri menatap bu Rumi dengan wajah yang menggemaskan.
"Ini udah malam Ri, wajar kalau teteh belum bangun kan teh Gia lagi tidur"
"Riri kenapa belum tidur? Nanti kalau teh Gia tau pasti dia akan marah.. Riri sekarang cuci kaki, cuci tangan langsung masuk ke kamar buat tidur ya"
Sahut Bu Rumi mengarahkan Riri untuk segera tidur.
---0---
Dalam perjalan menuju pulang ke runah Nata yang menyetir mobil di buat kepikiran dengan keadaan Gia.
__ADS_1
"Nata.. Lo kenapa sih dari tadi bengong aja kayak orang kesambet"
Kata Ayok menyomot permen yang ada di hadapannya.
"Lo kasihan ngga sih sama si cupu? "
Tanya Nata serius menunggu gilira lampu hijau.
"B aja udah takdirnya si cupu kayak gitu, lo aja yang kebaperan"
"Atau jangan jangan lo suka sama cupu ya?? "
Sahut Ayok mengejek Nata dan memojokkan Nata untuk segera mengaku.
"Ngga level gua sama dia..! Lo jangan aneh - aneh"
Decak Nata terlihat marah. Ayok memalingkan muka dari Nata dan menatap jendela luar.
Seru Ayok menatap jendela luar dan merekam perjelanan dari jendela mobil.
"Maksut lo? "
"Lo bayangin aja kalo di posisinya, dia tegar banget ngadepin masalahnya"
"Yok.. Udah nasib hidup si Cupu kali"
"Gua mau tanya sama lo.. Kenapa sampai detik ini lo ngga bisa kenal orang lain selain grup kita, Mocca, dan tiba tiba lo mulai mengenal cupu? "
__ADS_1
Mendengarkan ucapan Ayok, Nata langsung mengerim mobilnya dan melaju perlahan - lahan.
"Bahkan kalian semuapun ngga ada yang tau tentang kehidupan gua.. Gua temenan sama kalian cuman formalitas"
"Jadi lo ngga nganggep gua? "
"Ngga usah baper..! Kadang gua ingin ada di posisi Cupu yang tak mempunyai teman sama sekali, sekalinya punya teman ia memiliki teman yang ngga mandang dia siapa"
Nata sudah mengenal Ayok dan yang lainnya sudah lama. Sifat Ayok dan yang lainnya sama saja ujung ujungnya berteman dengan menumpang nama agar terlihat keren. Tak hanya itu merekapun sering mendapatkan uang dari nyokapnya Nata karena mereka mau berteman dengan Nata.
"Okee udah mulai nyindir menyindir? "
Posisi Ayok sudah semakin tak enak karena ia merasa sungkan dengan perkataan Nata.
"Tapi gua beruntung bisa dapat sahabat kayak lo meskipun statusnya cuman bayaran"
Seru Nata. Ayok menatap kembali ke arah Nata.
"Yaaa meskipun gua bayaran tapi gua harus bisa kerja profesional"
Sahut Ayok sambil mengepalkan tangannya untuk tos persahabatan dengan Nata. Nata langsung memukul kepalan tangan Ayok dengan kepalan tangannya sendiri.
"Dasar"
Nata terkekeh dan menggeleng - gelengkan kepalanya. Pembicaraanpun selesai. Baik Nata dan juga Ayok terdiam untuk saat ini. Untuk mengurangi rasa senyap Nata mendengarkan lagu dari speaker mobilnya yang barusan ia hidupkan.
"Kok lo berisik banget"
__ADS_1
Decak Ayok terganggu karena dia sudah mencari posisi yang enak untuknya tidur.
Untuk menjadi pribadi yang lebih baik perlu waktu untuk adaptasi. Namun, untuk menjadi pribadi yang terbaik hanya perlu selangkah menerima kekurangan orang lain.