
"Kak ini uang aku," ucap Difa kepada Deo dan menyodorkan uang seratus ribuan sebanyak dua lembaran.
"Ini uang aku," ucap Cica juga kepada Deo dan menyodorkan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar juga kepada Deo.
Deo mengambil uang yang di berikan Cica dan Difa kepadanya, ia mengumpulkannya menjadi satu.
"Sisanya biar gue yang bayar," ucap Deo dan di angguki oleh Cica dan Difa.
Deo meraih sesuatu di saku celananya, ia membuka dompetnya dan mengeluarkan uang.
"Ini Buk," ucap Deo menyodorkan uang kepada ibu kantin.
"Terima kasih, Nak," ucap ibu kantin dan berlalu pergi setelah mengambil uangnya.
"Bro ... kenapa kalian bayar sebanyak itu sih?" tanya Andy.
"Iya, itu uangnya banyak lho kita cuma makan segini doang seratus ribu juga enggak nyampe," ucap Raffa.
"Kalau kalian bayar segitu banyaknya itu sama aja kayak bayarin anak satu kelas," ucap Andy lagi.
"Memang kita bayarin satu kelas," ucap Deo santai.
"Apa ..." pekik Raffa dan Andy.
"Kalian enggak liat noh," ucap Deo menunjuk ke arah belakangnya.
__ADS_1
"Kalian traktir mereka?" tanya Andy.
"Menurut lo?" tanya Deo balik.
"Duh gila ... kalian bertiga traktir mereka sampe satu kelas kayak gitu emang enggak tekor apa?" ucap Andy sembari
menggeleng - geleng kepalanya.
"Enggak apa - apa kak, sekali - sekali berbagi, apa salahnya iya kan?" ucap Difa dan tersenyum.
"Yups bener tu ... Dif apa salahnya kita berbagi," ucap Cica.
"Iya enggak salah sih," jawab Andy sembari menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya sama - sama," jawab Deo, Cica dan Difa."
Kini mereka sudah kembali ke kelas mereka masing - masing.
Percepat.
Enam bulan berlalu kini tiba lah hari di mana kelas tingkat akhir, akan menyelenggaran hari kelulusannya.
Yang mana artinya Deo akan lulus dari sekolahnya, dan yang berarti Deo juga akan pergi dari sekolahnya.
"Kak selamat ya," ucap seseorang kepada lelaki bertubuh tegap yang berdiri di depannya itu.
__ADS_1
"Uhh ... terima kasih sayang," ucap lelaki itu.
"Kak, apa kakak akan pergi ninggalin aku?" tanyanya lirih kepada lelaki yang ternyata adalah kekasihnya itu.
"Yaang ... jangan nangis dong," ucap lelaki itu lembut, dan menghapus air mata yang mengalir deras di pipi chubby gadis di depannya itu.
"Jangan ngomong kayak gitu lagi ya, kamu enggak boleh ngomong kayak gitu. Aku enggak suka," ucapnya lembut.
"Tapi bener kan kak, kakak bakal ninggalin aku? kakak akan pergi jauh dari aku," ucapnya di sela isak tangisnya.
"Enggak kata siapa? aku enggak akan ninggalin kamu, sampai kapan pun itu," ucapnya.
"Enggak kak," ucapnya menggeleng.
"Kakak akan pergi, kakak akan ninggalin aku sendirian di sini ... iya kan?" ucapnya lagi.
"Yaang ... udah berapa kali aku bilang berhenti, berhenti untuk ngomong kayak gini aku memang akan pergi. Iya aku akan pergi ... pergi dari sekolah ini karena tugas aku di sini udah selesai tapi bukan berarti aku akan pergi juga dari kamu," ucapnya sendu.
Mereka menangis, rasa bahagia yang di rasakan Deo dan Difa atas berhasilnya Deo menyelesaikan tugasnya sebagai pelajar di SMA ini selama tiga tahun lamanya, dan Deo yang juga mendapatkan predikat lulusan terbaik di tahun ajaran ini rasa bangga mereka rasakan. Dan juga rasa sedih yang tak luput mereka rasakan karena setelah lulusnya Deo ini, itu berarti mereka akan saling jauh dari sang pujaan hati mereka.
Difa yang berarti akan naik ke kelas 11 SMA, dan Deo yang telah lulus SMA juga akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Walau Deo masih tetap akan ada, karena ia tidak akan pergi jauh ia hanya akan melanjutkan kuliahnya saja di universitas. Yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dengan SMA mereka, tapi rasa sedih Difa untuk jauh dengan orang yang di cintainya itu tidak dapat di pungkirinya air matanya yang terus saja mengalir deras.
Di tahannya air matanya, dengan sekuat tenaganya namun tetap terkalahkan dengan rasa cintanya yang berhasil meloloskan air matanya.
__ADS_1