CUPU

CUPU
MANA COKLAT


__ADS_3

Difa pov


Hari yang melelahkan, setelah dari pagi hari aku berangkat sekolah akhirnya pulang juga.


Sungguh aku ingin cepat-cepat sampai ke rumah, ingin merebahkan tubuh yang penat ini ke kasur empukku.


"Ini uangnya Pak, terima kasih," aku memberikan uang lima puluh ribuan sebanyak satu lembar kepada sopir taksi, lalu turun.


Berjalan dengan lesunya.'Huh jarak dari pagar rumah ini sampai ke teras rumah hanya berjarak sepuluh meter, kenapa rasa jauh sekali untuk sampai,' aku berjalan dengan lesunya, kakiku yang sepertinya sudah tak sanggup lagi menopang beban tubuhku akhirnya luruh juga aku terduduk di lantai teras rumahku.


"Non?" aku menoleh, suara yang sudah tak asing lagi kudengar."Bik?" benar dia adalah Bik Ira asisten rumah tangga kami.


"Non kenapa duduk di lantai, lantainya kotor Non," ucap Bik Ira kepadaku.


"Capek Bik," ucapku merengek, mimik wajahnya langsung berubah.


"Bibik bantu Non ke dalam, mari Non?" Bik Ira mengikuti posisiku yang duduk di lantai.


Aku tersenyum."Nggak Bik, Difa bisa sendiri Bibik buatin Difa minum aja, Difa haus," ucapku dan terkekeh kecil setelah aku berucap.


"Baik Non," Bik Ira mengangguk.


Aku melihat punggung Bik Ira yang semakin menjauh dan tak terlihat lagi. Lalu aku berdiri dari dudukku, walau berapa kali sempat gagal, sungguh tubuh yang lemas ini sangat membuatku kesusahan untuk berdiri.


Yaa akhirnya aku bisa berdiri, dengan langkah kaki yang malas aku berjalan masuk ke dalam rumah.


'Aah akhirnya,' aku langsung menjatuhkan tubuhku ke atas kasur yang empuk itu.


"Non," Bik Ira memberikan segelas jus dingin kepadaku, aku meneguknya dengan cepat jusnya.


Terlihat muka Bik Ira terbelalak melihat aku minum bagai orang yang sedang kesurupan. Terseralah aku tak menghiraukan itu yang kurasakan saat ini hanyalah rasa haus.


Aku meneguk jus itu sampai habis tak bersisa, aku memberikan gelas yang sudah ku minum air di dalamnya kepada Bik Ira kembali.


Bik Ira menyodorkan sesuatu kepadaku, yang berhasil membuatku kaget."Bibik dapat ini dari mana?" tanyaku cepat.


"Di teras depan, tadi Bibik ingin mengantarkan minuman ini ke teras depan karena Bibik kira, Non masih di sana ternyata Non sudah tidak ada lagi di sana. Dan Bibik melihat coklat ini terkapar tidak jauh dari Non tadi duduk," jelas Bik Ira kepadaku, apa ini coklat yang tadi ku temukan di sekolah, batinku, tapi tidak mungkin terjatuh karena aku menyimpannya di dalam tas, sangat mustahil jika ini jatuh.


"Apa ini bukan punya Non?" pertanyaan Bik Ira membuatku tersadar dari lamunanku.


"A..a..aa iya Bik ini punya Difa," entah apa yang aku katakan, aku pun terkejut dengan apa yang sudah aku katakan.


"Baiklah Bibik permisi, Non," Bik Ira keluar meninggalkan kamarku.


"Ih Difa kenapa kamu bilang ini punya kamu sih, bodoh banget sih," aku merutuki diriku sendiri.

__ADS_1


Aku meraih tas yang masih menyangkut di bahuku."Kan ada," aku mengambil coklat yang ada di dalam tasku.


"Ini sangat sama," aku memegang kedua coklat tersebut, coklat yang kutemukan tadi di sekolah dan coklat yang ditemukan Bik Ira.


Mataku teralih melihat ada secarik kertas yang melengket dibungkus coklat yang ditemukan Bik Ira, pasalnya ini juga kutemukan di coklat yang kutemukan di sekolah. Apa ini dari orang yang sama? Entahlah aku mengambil kertas tersebut dan membukanya.


Apa kabar? Yaa kata itulah yang kudapatkan di dalam kertas itu.


Ini siapa sih? Sungguh coklat misterius yang kuterima sebanyak dua kali berturutnya ini membuatku pusing pasalnya orang yang mengirim coklat ini tidak memberi tahu identitasnya walau hanya dengan nama panggilan harusnya ia mencantumkannya agar tak membuat kepalaku pusing memikirkan siapa sebenarnya pengirim coklat-coklat ini.


Keesokan harinya


"Dif," Sarah menyodorkan sesuatu kepadaku.


"Dari pengagum rahasia lo," ucap Sarah dengan gaya bicara menggoda.


"Di mana?" tanyaku.


"Di atas meja lu tadi, sengaja gue umpetin dulu takut nanti ada yang jail terus ngambil coklatnya," jelas Sarah.


Aku hanya mengangguk. Selamat pagi, kata itu yang kutemukan di secarik kertas yang tertempel dibungkus coklat itu.


Pulang sekolah


Kalau bukan karena untuk mendapatkan taksi atau angkutan lainnya, aku sangat malas sekali berdiri di sini, cuaca yang panas dan debu-debu jalanan yang berterbangan di udara membuatku rasa ingin sekali berteriak kencang bagaimana tidak panasnya matahari sangat menyengat, kulitku terasa ingin mengelupas karena saking panasnya dan debu-debu itu.. Aah tak tau lagi ia sudah membersihkan eh tidak ia sudah mengotorkan seragamku dengan bantuan angin yang kuat ia berhasil beterbangan dan menerpaku membuat seragamku berdebu dan tampak kucel sekali.


Tring(notif hp-ku berbunyi)


"Dif, jangan lupa tugas tadi dikerjain" message Sarah.


'Ya ampun' aku menepuk keningku.


Aku berlari cepat, kembali masuk ke dalam sekolah aku berlari menuju kelasku,'Gimana bisa sih, aku melupakan bukunya,' rutukku di sela lariku.


Kini aku telah sampai di depan kelasku, suasana sangat sepi, aku rasa semua orang sudah pulang karena ini sudah hampir satu jam dari waktu pulang sekolah. Yang sebenarnya aku juga seharusnya sudah pulang tapi karena kesialanku hari ini aku harus menunggu lama karena tak seperti biasanya, hari ini aku sangat susah mendapatkan angkutan.


Kreek.. Aku mendorong pintu yang sedikit tertutup itu.


Saat pintu itu terbuka alangkah terkejutnya aku, aku melihat Jia teman kelasku sedang berduaan dengan seseorang yang tak asing lagi bagiku.


Kulihat mereka menatapku, tapi segera kualihkan tatapanku yang juga sempat menatap mereka.


Kembali ke tujuan awal, aku berjalan menuju mejaku dan mengambil buku pelajaran yang tertinggal di sana, setelah mengambilnya cepat-cepat aku memasukkannya ke dalam tasku setelah selesai aku bergegas berjalan keluar kelas tanpa menatap mereka.


Difaa? Suara Jia terdengar memanggil namaku tapi tak kuhiraukan aku terus berjalan keluar kelas.

__ADS_1


'Maaf' batinku lirih tak terasa air mataku kini sudah membanjiri pipiku.


Aku berjalan setengah berlari, sesekali aku menghapus air mataku yang terus saja keluar tampa berhentinya.


***


Di kamarku


Aku menelusupkan wajahku di bantal.'Apa hubungannya dengan Jia kenapa mereka terlihat sangat akrab apa mereka mempunyai hubungan spesial, jika benar itu.. Maka gadis yang ada di sampingnya waktu aku bertemu dengannya kemarin dia siapa atau dia pacarnya juga? Aaah aku membencimu.. Aku mengacak rambutku kasar.


Setelah kejadian itu aku tak pernah melihat wajahnya lagi, entah apa yang harus kulakukan apakah aku harus bersedih atau kah bahagia atas kepergiannya. Kepergiannya yang bak ditelan bumi itu membuatku terkadang senang terkadang pun sedih, senang karena itu aku bisa segera melupakannya, sedih karena aku kadang juga merindukan sosok dirinya.


Hari ini seperti ada yang kurang, aku bermonolog..


Author pov


Yaa coklat misterius.. Coklat itu beberapa hari ini tidak datang, biasa coklat itu akan ditemukannya kadang itu di sekolah maupun di rumahnya.


Tunggu-tunggu apakah dia menunggu coklat itu? Bukannya ia kadang risih dengan itu karena orang itu terus saja mengiriminya coklat tidak hanya coklat tapi sebuah note kecil yang berisi kata-kata yang tertulis disetiap coklat yang ditemukannya.


Rindu? Iya ia rindu coklat misterius itu, bukan cuma coklatnya ia juga rindu dengan isi tulisan yang dituliskan seseorang yang mungkin pengirim coklat itu. Isi tulisan yang membuatnya mood, isi tulisan itu diakui memanglah tampak sederhana karena isi tulisan itu hanyalah sekedar sapaan-sapaan pagi/sore, bertanya kabar, perintah untuk agar ia tidak telat makan, semangat belajar, jangan tidur terlarut malam, hanya kata sederhana tapi membuatnya sangat mood.


Bahkan akhir ini dia sangat bersemangat, ia sangat bersemangat sekali.. Untuk berangkat ke sekolah setiap paginya, hanya untuk mengambil coklat itu dan membaca note di secarik kertasnya.


Tapi tidak hari ini, pagi ini coklat itu tidak ditemukannya, wajahnya terlihat tampak lesu saat tidak menemukan coklat itu yang biasanya disetiap pagi akan ada di atas meja atau laci mejanya.


'Mungkin sore nanti,' ia berucap sendiri..


Sore hari di rumahnya


'Hm nggak ada juga,' ucapnya lesu.. Ia menunggu coklat itu, hampir setiap menit ia mengintip dari jendela rumahnya melihat apakah coklat itu sudah datang. Tapi nihil coklat itu tak kunjung ada sampai malam tiba.


Kamarnya


Huh, ia membuang nafasnya kasar..


Jaga diri baik-baik cantik (Isi note coklat di pagi hari kemarin)


I love you (Isi note coklat di sore hari kemarin)


Dua kata-kata itu yang tertulis di secarik kertas yang didapatkannya pagi dan sore kemarin, yang sepertinya itu adalah coklat dan note terakhir yang akan diterimanya.


Tes.. Air matanya jatuh.'Coklat misterius di mana kamu, kau tau aku menunggumu hari ini, aku merindukan note-note kecilmu yang membuatku mood setelah membacanya.'


'Siapa pun pengirim coklat-coklat itu, terima kasih.. Kau orang baik, harapku semoga kita bisa bertemu dan kita bisa berteman baik,' ucapannya terdengar lirih sekali, cukup lama ia terlarut dalam tangisnya dan sampai akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2